
Kana memasuki apartemen Kim, dirinya memang mengetahui akses masuk unit pacarnya itu, karena Kim sendiri yang memberitahunya. Ini adalah kali pertama dia bertindak terlalu khawatir, apa lagi mengenai seorang wanita, biasanya Kana akan acuh tak acuh saja.
Dilihatnya Kim yang tertidur di sofa sembari memegang ponsel, entah kenapa rasa bersalah telah mengabaikan Kim kembali dirinya rasakan. Pelan tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi pacarnya itu.
Kim menggeliat kala merasakan sentuhan di pipinya, seperti ada sebuah tangan dingin yang membelainya. Tangannya langsung saja mengusap pipinya.
“Dia ini lucu banget sih, tidur aja pipinya merah gitu!” gumam Kana pelan, semakin merasa bukan dirinya, karena sungguh tidak biasanya dia peduli akan hal semacam itu, mendetil sampai pada rona wajah saja dirinya perhatikan. Lalu, tangan Kana mulai memindahkan Kim ke kamar, supaya tidur pacarnya itu bisa lebih nyaman.
Tidak ada paksaan saat melakukannya, meski belum sepenuhnya yakin bahwa hatinya telah bertaut pada Kim, tanpa Kana sadari dia sudah melakukan hal yang bisa dikatakan lebih dari peduli.
Membaringkan tubuh Kim di ranjang, menyelimutinya dan berniat mengambil ponsel yang belum juga terlepas dari genggaman Kim.
“Jangan ambil, nanti dia telpon...” ucap Kim dengan mata yang masih terpejam, tangannya dengan refleks menggenggam ponselnya semakin erat.
Sisa kesadarannya yang masih menunggui Kana membuatnya bergumam tentang itu, sepertinya dia memang sangat mengharapkan Kana menghubunginya.
Kana tersenyum mendengar Kim yang mungkinkah memang menungguinya, ah bolehkah dirinya berbangga hati, apa rasanya masih terlalu dini untuk berpikiran begitu, bisa saja kan Kim sedang membicarakan orang lain di alam bawah sadarnya. Lalu, Kana dengan hati-hati mengambil lagi ponsel itu, namun...
“Astagah, dia ganteng banget, kenapa tidur aja gue masih mikirin dia?” gumam Kim yang tiba-tiba saja sudah membuka mata, tapi sepertinya belum sepenuhnya sadar karena dia mengira kehadiran Kana di hadapannya hanyalah mimpi. Tangannya terulur untuk mengenai wajah Kana, menoel-noelnya sedikit, mengapa sepertinya tampak nyata.
Tunggu dulu, aku ini lagi mimpi kan?
“Tidur yang nyenyak!” ujar Kana, kemudian benar-benar mengambil ponsel Kim dan meletakkannya di nakas.
“Mengapa seperti nyata?” gumam Kim lagi. Bertanya begitu namun tak ada juga niatan untuk bangun.
“Ini aku!” bisik Kana.
“Hah!” seketika kewarasan Kim harus dipaksa untuk sadar sesadar-sadarnya, dengan tangan yang masih menempel di wajah Kana ia terbangun, kali ini benar-benar terbangun.
“Pak Dokter!” pekiknya terkejut. Mengusap matanya pelan, dan benar saja pacarnya itu benar-benar berada di hadapannya.
__ADS_1
“Hemmm!” sahut singkat Kana, entahlah dirinya juga tidak tau harus menanggapi seperti apa keterkejutan Kim akan kehadirannya.
“Aaaa, bagaimana bisa?” tanya Kim.
“Apa?”
“Masuk, ah maksudku... Anu, maksudku...”
“Maaf sudah membuatmu menunggu!” sambung Kana langsung, dirinya tiba-tiba sungguh merasa bersalah.
“Ahhh... Tidak, bukan apa, aku tau Pak Dokter sibuk!” gugup Kim, padahal sedari tadi dirinya menggerutu, mengumpati Kana sampai tertidur.
“Emmmhh, apa... Apa Pak Dokter ke sini untuk melihatku?” tanya Kim lagi, benar-benar ingin tau mengapa Kana bisa berada di apartemennya dan bersikap sungguh peduli semacam ini, apakah ini terkhusus untuknya, aahhhh Kim ingin sekali melompat kegirangan kalau memang benar iya.
“Aku lupa memberi kabar, tiba-tiba saja harus lembur!” ujar Kana, menjelaskan tanpa diminta mengapa dirinya hilang tanpa kabar, sudah seperti seorang pacar yang sungguh pengertian.
“Tidak apa, aku senang Pak Dokter ke sini untukku!” ucap Kim.
Namun tiba-tiba,
“Krruuukkk...”
Asshhhh, perut ini! Mengapa harus berbunyi di saat yang tidak tepat, betapa malunya aku...
“Belum makan?” tanya Kana, menggemaskan sekali saat melihat ekspresi senyum terpaksa Kim. Seolah baru saja ketahuan melakukan hal yang tidak menyenangkan.
“Hemmm... Sudah, tapi hanya sedikit!” aku Kim pada akhirnya.
Dalam hati sungguh merutuki kebodohannya, tadi dia hanya makan dimsum saat bersama Dian, tidak terlalu lapar, apa lagi suasana hatinya sedang tidak karuan karena Kana tidak kunjung menungguinya, namun apa ini, perut ini memang bikin malu, kutuknya.
“Tidak usah hiraukan aku, aku punya banyak stok makanan!” lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Tapi Kana tidak menghiraukan, ia berbalik keluar kamar Kim menuju dapur, niatnya ingin mencari apa ada sesuatu di kulkas yang bisa di masak.
Lagi dan lagi saat melihat dapur, Kana disuguhkan oleh pemandangan banyaknya makanan instan. Hidup di apartemen sendirian sepertinya memang tidak akan menyehatkan bagi Kim, karena pacarnya itu tidak akan berhenti mengkonsumsi makanan instan untuk bertahan hidup. Sebenarnya dia belum mengetahui bagaimana keluarga Kim, mengapa gadis muda seperti Kim lebih memilih tinggal di apartemen sendirian dari pada bersama keluarga. Nanti saja kiranya akan dia tanyakan.
“Kamu tidak pergi?” tanya Kim, dia ikut keluar kamar dan menemukan Kana di dapur. Pacarnya itu terlihat mematung di dekat meja makan, tepat matanya tertuju pada tumpukan makanan instan yang tergelar berantakan.
“Kamu berharap aku pergi?” tanya balik Kana.
“Ah tidak tidak! Bukan begitu maksudku!” ralat Kim langsung.
Dilihatnya sang pacar yang langsung saja mengenakan apron, mengeluarkan beberapa bahan makanan di kulkas, ini adalah yang kedua kalinya Kana masak untuknya.
“Aku hanya tidak lapar tadi, tapi setelah tertidur ternyata aku jadi lapar!” aku Kim beralasan, padahal dirinya terakhir makan berat saat pagi tadi, wajar saja kalau di jam segini perutnya benar-benar memberontak karena lapar.
“Bukankah aku sudah bilang, kamu kan baru saja selesai operasi, apa tidak bisa tahan sebentar untuk tidak mengkonsumsi yang instan begitu?” ujar Kana, melirik tumpukan mie instan yang tersusun acak di meja makan, Kana memikirkan harus menyita semua itu. Dia sungguh tidak suka.
Apa dia akan menjadi golongan pacar yang posesif?
Kim menunduk, mau bagaimana lagi, dirinya ini sebenarnya juga terpaksa hidup sendiri. Niat awalnya adalah untuk meminta perhatian orang tuanya, namun apa? Orang tuanya bahkan tidak begitu peduli.
Seringnya bolak-balik bertandang ke luar negeri untuk perjalanan bisnis, membuat orang tuanya itu tidak sengaja mengabaikan anak tunggal mereka.
Mengingat itu, pikiran Kim menerawang jauh pada satu tahun lalu, dimana dia pertama kali pindah ke apartemen ini, sengaja ingin meminta perhatian namun yang didapatinya bahkan kedua orang tuanya memberikan tunjangan lebih untuk hidup mandirinya ini.
Jika gadis lain akan dengan senang hati menerima uang dan segala fasilitas yang ada, berbeda dengan Kim, dia hanya ingin kedua orang tuanya itu memarahinya, mencegahnya untuk pindah, dan mempertahankannya untuk tetap tinggal. Mengurangi sedikit saja perjalanan bisnis mereka, menikmati waktu bersama, meskipun singkat tapi Kim mungkin akan merasa lebih bahagia.
Dulu Kim bahkan sudah memiliki banyak rencana jika kedua orang tuanya itu bisa meliburkan diri dari pekerjaan, berhenti sejenak untuk lebih memilih mementingkan perasaannya.
Namun untuk saat ini, rencananya bahkan tidak banyak, hanya untuk satu pelukan saja, dan itu pun sampai kini belum juga terealisasikan.
Dia tidak ingin kaya, tidak ingin memiliki segalanya, dia hanya butuh perhatian, kasih sayang, dan merasa memang sudah seharusnya dia memiliki orang tua.
__ADS_1
Bersambung...