
"Sumpah?" Dian melongo tidak percaya, mendengar kabar Kim yang dilamar oleh seorang dokter tampan. Secepat itu? Bukannya dia tidak yakin, tapi kan menikah bukanlah seperti halnya pacaran, butuh banyak pertimbangan, proses, dan keyakinan untuk hidup berumah tangga yang awet, apa lagi dia termasuk penganut paham menikah satu kali seumur hidup.
Kim mengangguk mengiyakan, wajahnya terlihat murung, "Gue nggak siap buat nolak Di, tapi gue juga belum siap buat merit!"
"Maksudnya, gue mau gitu loh jadi bininya Pak Dokter, tapi masa harus sekarang, tahun ini? Mana Bonyok gue lagi di luar, terus gimana juga coba gue jelasin sama itu manusia sibuk dua?"
Dian mengangkat bahu tanda dia juga tidak punya solusi, dia pun masih memikirkan masalah pernikahannya yang dipercepat, kalau boleh jujur dia juga sama belum siap dinikahkan, masih ingin menikmati masa-masa gadis mereka.
"Tapi kalau gue tolak, yaaa pastinya hubungan gue sama Pak Dokter harus end dong, aaahhhh gue nggak mau, susah tau dapetin pacar cakep maksimal gitu, mana d*danya pelukable lagi!" dasar Kim, bisa-bisanya dia masih memikirkan tubuh Kana di saat seperti ini, yah memang benar sih dia memang teringat akan d*da bidang Kana yang tidak sengaja dirinya saksikan pagi kemarin. Dian pun sejurus mencibir, mau heran tapi ini Kim.
"Ya kalo gitu terima aja dong!" enteng Dian seraya menyurput habis es teh-nya.
"Kawin gitu?"
"Lah iya!"
"Aaagghhh lo mah gitu, kek gitu namanya bukan solusi tau!" cemberut Kim.
__ADS_1
"Lah terus?"
"Gue kan udah bilang gue bingung, gue belum siap nikah bin kawin, lo kasih saran yang bisa nenangin gue kek!"
"Kalo gitu putus!"
"Kampr*t! Lo sebenarnya temen gue bukan sih?" Kim makin kesal, curhat dengan Dian sepertinya hanya menambah kegalauannya saja. Sungguh dari tadi percakapan mereka tidak ada yang terlalu penting.
"Selain dua pilihan itu ada lagi nggak jalan pintas, biar gue nggak kawin cepet, tapi tetep bisa jadi pacarnya Pak Dokter, gue sih maunya gitu!" jabar Kim, dia bagai ingin untungnya saja.
"Apa?" antusias Kim. Wah kalau ada jalan terbaik untuk menuju Kana, kenapa nggak! Yekan? dia bertanya dengan semangat menggebu, dasar perawan gatel.
"Mimpi sono lo!" Dian dengan cepat menghindar sebelum terkena serangan amukan dari Kim. Berlari tanpa tujuan, pokoknya menjauh saja dulu.
"DIAN..." teriak Kim kesal.
...***...
__ADS_1
"Udah aku lakuin Yah!" tidak ada reaksi yang berlebihan saat Kana mengatakan itu. Dia hanya ingin mengabarkan bahwa tujuan Tuan Akara sudah terlaksana, meskipun belum bisa melihat bagaimana hasilnya, tapi tetap saja usahanya sudah dimulai, Kana tidak mau didesak lagi, jika dia memberitahukan bahwa dia sudah pernah melamar Kim, apapun hasilnya nanti ya itu tergantung pada Kim.
Hanya Kim dan Tuhan yang tau, kalau pun nantinya Kim menolak, dia bisa apa kan.
"Bagaimana?" tanya Tuan Akara tak sabar.
"Belum tau! Dia cukup kaget, sepertinya Ayah tidak bisa berharap banyak kali ini." pungkasnya.
"Kalau begitu kita cari wanita lain, kau tidak usah berkecil hati anakku!" Tuan Akara mencoba tenang, dia menepuk pundak Kana pelan bermaksud memberikan kekuatan.
Siapa yang berkecil hati, kalau Kimnya nggak mau ya nggak papa, gue jomblo terhormat kali, nggak nikah seharusnya bukan alasan buat gue galau.
Sombongnya Kana, namun hanya dalam hati saja, tidak bisa mengatakan itu di hadapan Ayahnya, tentu saja ingin selalu mencari perdamaian.
"Iya Yah!"
Bersambung...
__ADS_1