
"Kau termenung?" tanya Kana, yang membuyarkan Kim dari lamunan, Kim melirik pacarnya itu dan merasa tidak nyaman saat Kana memperhatikannya.
"Aahhh, itu..."
"Ada masalah? Kau tampak tidak bersemangat? Apa aku menggangu waktu tidurmu?"
"Aaahhh, tidak tidak bukan begitu, tidak sama sekali, aku hanya... Hanya sedikit mengantuk, wajar saja tidak begitu bersemangat, karena aku sempat tertidur!" jawab Kim beralasan.
"Makanlah!" Kana membuatkan satu porsi katsu ayam untuk Kim, dilihatnya bahan yang cukup memadai jadi dirinya membuat yang simpel saja.
Kim melihat itu, sajian yang menggugah selera sudah tersaji di atas meja, hanya bersama dengan Dian dia bisa merasa dihargai, dan sekarang Kana juga termasuk orang yang mengistimewakannya, bolehkah Kim senang? Segala perhatian Kana ini, mengapa membuatnya serasa ingin menangis.
"Ini... Untukku?" gugup Kim, Kana menarik kursi untuknya dan memintanya duduk. Sangat perhatian.
"Untuk pacarku yang paling cantik!" puji Kana.
Astagaahhh, apa yang baru aja gue katakan? Dari mana gue belajar gombalan aneh kayak gitu? Asshhh memikirkannya bahkan aku tidak pernah, tapi tunggu...
Kana terlibat perang batin, awalnya dia merutuki kata-kata menggelikan yang keluar dari mulutnya, namun saat melihat ekspresi wajah Kim yang tersenyum hangat padanya, anehnya dia jadi ikut senang. Benar kata orang, cinta memang bisa bikin gila. Ini saja sudah terlihat beberapa gejalanya, batin Kana, dia ingin memberontak, tapi sayangnya tidak bisa.
...***...
“Dari mana aja kamu?” berang Irfan, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari namun anak gadisnya itu baru pulang dengan masih memakai pakaian kuliah saat berangkat pagi tadi, siapa yang tidak naik darah.
“Papa!” kaget Dian, ia memegangi dadanya, jantungnya berpacu lebih cepat, sudah melihat hilal kesialan, mengapa juga Papanya bisa menungguinya di ruang keluarga begini.
Kadang mempunyai orang tua yang overprotektif juga tidak terlalu bagus, ada kalanya Dian mengharapkan hidup seperti Kim. Namun melihat sahabatnya itu sering mengeluh hanya karena ingin meminta sedikit perhatian, dia tidak jadi mengharapkan itu.
__ADS_1
“Papa tanya, dari mana aja kamu?” bentak Irfan sekali lagi, mulai mendekat, tatapannya sinis, kalau saja Dian bukan anaknya, mungkin dia sudah melayangkan tamparan.
“Dari... Emh, dari rumah Kim Pa!” jujur Dian. Harus jawab apa, emang itu kebenarannya kan.
“Kamu itu udah mau tunangan Dian, bentar lagi mau nikah, bisa nggak sih tahan-tahan keluyurannya, jaga diri kamu baik-baik!” omel Irfan, sementara sang istri yang sempat tertidur di sofa terpaksa harus melek karena mendengar suaranya yang cukup keras.
“Pa udah, yang penting kan si Neng udah pulang!” lerai Nini, Mamanya Dian, keturunan Sunda, orangnya lemah lembut banget, paling tidak tega kalau ada orang yang bentak-bentak anaknya, sekalipun yang berbicara keras itu adalah suaminya sendiri.
“Kamu itu selalu aja belain dia, lihat jam satu dini hari anak gadis baru pulang, apa masih wajar?” sahut Irfan.
“Ya, pokoknya yang penting si Nengnya udah pulang Pa!” ujar Nini menenangkan, mengusap lembut lengan suaminya, dan mengajaknya kembali ke kamar mereka. Namun sayang sekali lengannya di tepis oleh suaminya itu.
“Dian!” bentak Irfan, “Kalau begini terus, pertunangan kamu sepertinya harus dipercepat, Papa akan bilang sama keluarga Raka kalau kita sudah siap!” ujar Irfan yang benar-benar membuat Dian tidak habis pikir, hal itulah yang membuatnya malas berada di rumah, perjodohan yang sama sekali tidak dikehendakinya harus berulang dirinya dengar memekakkan telinga.
Apa lagi Raka, dia sungguh tidak mengenal pria yang akan dijodohkan dengannya itu seperti apa, dari yang dia dengar Raka itu seorang dokter di sakahs atau rumah sakit ternama, cukup tampan dan orangnya baik. Tapi itu kan hanya versi orang yang memang menyukai Raka, jadi mana mungkin akan mengatakan hal yang buruk.
Meskipun Papa dan Mamanya terus saja mengatakan Raka itu ganteng, tapi Dian nggak percaya, mana ada ganteng tapi nggak dibolehin liat muka. Kalau nggak boleh saling tukar foto, kan bisa ketemuan diam-diam. Dasar keluarga aneh makinya jika tentang perjodohan.
“Tapi Pa...” tolaknya.
“Tidak ada tapi tapi, mau tidak mau minggu ini kamu harus tunangan sama Raka!” kekeh Irfan.
Dia sudah bulat, lagi pula keluarga Raka memang menginginkan pertunangan ini secepatnya, untuk bisa segera menentukan tanggal pernikahan.
“Cih!” Dian berdecih kesal, mau menolak pun percuma, jadi ya hanya bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak akan bisa memilih hidup yang seperti keinginannya. “Terserah Papa!” ujarnya pasrah, kemudian berlalu meninggalkan Mama dan Papanya.
"Dian!" pekik Irfan, dia belum selesai bicara, makin hari semenjak berteman dengan Kim, Dian semakin melawan padanya. Irfan memang tidak begitu menyukai Kim, karena menganggap gadis itu terlalu bebas, sementara Dian anaknya bagai tidak mau terpisahkan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Papa, udah ah, malu di denger tetangga, malam-malam gini teriak-teriak, mau bangunin orang sekomplek!" protes istrinya.
Irfan marah, tanpa menghiraukan istrinya dia berlalu, besok pagi tunggu saja, Dian pikir perkataannya malam ini hanya main-main, tunggu saja dia akan bertindak lebih cepat untuk pertunangan ini.
Di kamar,
Dian memilih merebahkan tubuhnya yang benar-benar lelah, jika Kim sedang berbahagia karena baru saja mendapatkan pacar, dia bahkan tidak pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran.
Sekalinya beranjak dewasa bukannya menemukan keseruan semacam itu, dia malah harus menanggung perjodohan. Katanya, jodohnya ini sudah diputuskan sedari dia bayi.
Mengenai pria bernama Raka, ah yaaa... Pria itu setaunya tidak lagi muda, dua puluh sembilan tahun itu bukan lagi usia yang cocok untuknya. Dia sebenarnya sungguh frustasi dan ingin sekali menolak. Mengapa nasibnya bisa menjadi sangat tidak beruntung seperti ini?
"Aaaahhhh... Gilanya!" umpatnya seraya menutup wajahnya dengan bantal. Dia ingin lari dari kenyataan saat itu juga, tapi sayangnya tidak ada yang bisa dirinya lakukan.
"Ngapa juga gue harus jadi anak satu-satunya mereka, kalau ada adik ataupun Kakak kan gue bisa aja menghindar!" gumam Dian. Dia benar-benar kesal, sudah pulang larut, pulang-pulang malah langsung mendengar masalah perjodohan.
"Gue bahkan malu sama Kim untuk bilang gue mau nikah sama pria tua!"
"Meski Kim juga pacaran sama yang lebih tua, tapi kan seenggaknya dia tau muka dokter duda itu kayak gimana, nggak kayak gue yang..."
"Assshhh dokter! Kenapa gue baru kepikiran sih? Kalau dokter kan biasanya ada komunitas gitu kan yaaa, dokter Kana juga kerja di salah satu rumah sakit terkenal, seharusnya kalau gue tanyain ke dia nggak masalah dong... Aaahhh kenapa gue baru kepikiran?"
"Bener-bener, besok bakalan gue tanyain, emmhhh gue harus minta Kim buat ketemu sama Pak Dokter, biar gue bisa cepet nanyain langsung!"
Tiba-tiba saja Dian menemukan sebuah cara untuknya bisa melihat bagaimana rupa seorang Raka.
Bersambung...
__ADS_1