Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Menikah?


__ADS_3

"Menikah?"


Kana mengangguk, sebisa mungkin memberikan tatapan hangat pada Kim, meski hatinya tidak bisa berbohong, dia kecewa pada dirinya sendiri. Karena desakan orang tuanya dia harus melakukan ini, padahal hubungannya dengan Kim saja baru dimulai, benar-benar definisi pria brengsek, kata hatinya memaki.


Kim meremas ujung bajunya sedikit erat, dia gugup... Tidak bisa digambarkan bagaimana bentuk wajahnya yang memerah, malu, terkejut, dan juga rasa tidak nyaman menyatu jadi satu. Tatapan Kana yang hangat padanya cukup membuatnya yakin namun waktunya? Bukankah mengajaknya menikah saat hari-hari mereka bersama bahkan masih bisa dihitung dengan jari cukup juga membuatnya yang minim pengalaman tentang cinta ini meragu. Setelah dipikir-pikir Kana menyatakan cinta padanya waktu itu memang tanpa pertimbangan, bisa dibilang juga terburu-buru, apakah pria di hadapannya ini punya maksud lain?


Whoaaa, wajah setampan itu tiba-tiba saja menginginkan dirinya untuk menjadi pacar, lalu saat ini istri? Apakah Kana ini...


"Ped*fil?" ungkap Kim spontan. Namun terang membuat Kana terkejut. Banyak dugaan berkeliaran di otaknya tentang sikap Kim saat dia melamarnya pagi ini, tapi hal penyimpangan semacam itu... Jauh sekali bahkan pemikiran Kana tidak sampai pada titik itu.

__ADS_1


Kim menutup mulutnya dengan kedua tangan, astagah sungguh dia baru menyadari, tindakannya tadi benar-benar menguar begitu saja.


"Bukan bukan... Pak Dokter jangan salah paham, aku... aku tidak bermaksud!" ralatnya cepat. Duh malu sekali kan, mengapa sampai sejauh itu. Tapi mengajaknya menikah tiba-tiba seperti ini, siapa yang tidak terkejut dan bisa mengelakkan pemikiran yang bukan-bukan.


"Apa kamu punya pemikiran begitu tentang aku?"


"TIDAK!!!" mengatakan 'tidak' dengan lantang, namun bodoh saja kepalanya malah mengangguk. Kim lagi-lagi harus meralat tindakannya, dia menggeleng cepat, "Tidak bukan begitu, aku hanya... Hanya... Hanya terkejut, iya aku kaget, beneran... Aku benar-benar..."


"Aahhh begitu yaaa..." Kim malu, menyelipkan surai hitamnya pelan pada telinga, jika Kana tidak begitu terburu-buru, itu berarti di sini reaksinya saja yang terlalu berlebihan, ahhh bertambah malu saja dirinya. Ingin sekali Kim bersembunyi di tempat yang tidak bisa ditemukan oleh Kana detik itu juga.

__ADS_1


Kana menerbitkan senyum lagi, "Kabari aku jika kamu sudah mempunyai jawabannya, aku siap dengan apapun yang akan menjadi jawabanmu!"


Dan kalau bisa secepatnya, juga jangan menolak, meskipun gue nggak bisa mastiin gimana perasaan gue, tapi tetep aja, lebih cepat lebih baik.


Lanjutnya dalam hati, segala macam pemikiran, cintanya terhadap Kim yang Kana sendiri tidak tau seberapa besar, desakan Ayahnya, dan rasa tidak ingin mengecewakan Bundanya, Kana juga sebenarnya tidak bisa berbuat apapun.


Kim mengangguk patuh, dia bahkan berdiri, padahal Kana juga masih duduk, lalu bingung dengan sikapnya sendiri, seolah-olah dia ingin menyudahi pertemuan mereka pagi ini dengan segera. Sungguh demi apapun Kim benar-benar gugup.


"Kau kenapa?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2