
Kim merasa sangat beruntung kala pagi-pagi sekali Kana sudah berada di apartemennya, mengantarkan sarapan yang benar-benar efektif untuk perbaikan gizi. Yah bisa dibilang Kana adalah seorang pacar yang pengertian. Bahkan kalau bisa dia ingin sekali mengajak pacarnya itu untuk pindah ke apartemennya, supaya mereka bisa terus sama-sama.
Dasar gatel! Kim mengumpati dirinya sendiri. Yah yah, tapi jika yang dihadapkan dengan situasi seperti ini adalah orang lain pun, tentunya akan berpikiran sama, siapa yang tidak demen coba dengan pacar yang hampir sempurna.
Tapi sekarang pacar sempurnanya itu sudah tidak ada lagi, harus dinas siang menggantikan Dokter Raka. Setelah mengetahui sedikit informasi mengenai Kana dan terlebih sudah tau apa alasan pria itu menjadi duda, Kim bisa berlega hati. Semoga saja apa yang dikatakan Kana semalam sebagai alasan tidaklah bohong dan bisa dipertanggung jawabkan.
“Kim Obelia, demi apa? Pacar lo sekarang seorang dokter, tampan baik hati, pengertian, aaaarrrrgggghhhh tinggalkan saja itu si Ryan brengsek!” katanya sudah memaki Ryan, dengan penuh percaya diri memploklamirkan move on, padahal kemarin saja dirinya masih sangat mengharapkan pria itu.
“Tidak masalah duda, kalau menggoda kenapa enggak?” ujarnya lagi dan lagi, seolah tidak ada habisnya tentang Kana.
Kim menggerai rambutnya, mematut penampilannya di cermin, hari ini dirinya juga sudah mulai masuk kuliah lagi setelah mengambil cuti beberapa hari karena kecelakaan. Dian tak henti-hentinya menelpon karena informasi yang dikabarkan olehnya baru setengah, bisa dipastikan sahabatnya itu sedang penasaran gila.
“Kalau aku bilang menyukaimu! Kamu percaya?”
Kim menutup mulutnya setelah mengatakan itu, mengulang kata-kata yang menjadi ungkapan suka Kana semalam padanya, dari semalam dirinya suka sekali melakukan itu, benar-benar menyenangkan dan tak puas-puas, ungkapan cinta Kana yang menurutnya sangat romantis.
Padahal kata-kata semacam itu bisa dibilang biasa saja, Kim saja yang terlalu gede rasa. Maklumi saja, ini adalah kedua kalinya dia berpacaran.
“Kalau aku bilang menyukaimu! Kamu percaya?”
“Hihihi, dia bilang itu kan, gue mana bisa nolak yekan!”
“Sekali lagi! Kalau aku bilang menyukaimu! Kamu percaya?” berbicara berulang seperti orang gila, untung saja tidak ada yang melihat kelakuan minusnya ini.
“Hihihi, rasanya seneng banget, pacar baru gue itu genteng banget!”
“Oke oke! Relaks Kim, kita coba sekali lagi, hihihi!” Kim tidak bisa mengendalikan rasa senangnya, dia benar-benar sedang berbunga-bunga.
“Oke! Ekhemm... Kalau aku bilang menyukaimu! Kamu percaya?”
“Hihihi, ya jelas percaya lah gue, orang lo ganteng gitu sayang banget disia-siain!”
__ADS_1
“Aaaaaaa, keknya gue udah kangen aja sama Pak Dokter!” gumamnya lagi, entah kapan dia akan benar-benar meninggalkan meja rias itu, dari tadi tidak selesai-selesai mereka ulang perkataan Kana yang menyatakan cinta padanya semalam.
Di rumah sakit,
“Apa?” Raka benar-benar terkejut mendengar pengakuan Kana, sahabatnya itu mengatakan kalau dirinya sudah tidak jomblo lagi. Baru saja kemarin dia berusaha untuk meyakinkan Kana untuk mendekati Kim, namun sahabatnya itu malah tetap pada pendiriannya ingin sendiri. Dan hari ini, bercanda? Ngeprank lagi kan?
“Sama siapa lo?” selidik Raka.
“Kim!” jawab Kana pasti.
“Hah? Serius?” Raka melotot tidak percaya.
“Dua riyus malah!” jawab Kana percaya diri
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bukannya Kana sendiri yang mengatakan menyerah kemarin, lalu mengapa tiba-tiba saja Kim bisa menjadi pacar Kana pikirnya.
Kana membiarkan Raka dengan keterkejutannya, hari ini dirinya tidak perlu khawatir lagi kalau diteror oleh kedua orang tuanya, karena satu langkah sudah berada dalam genggamannya, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk membicarakannya pada Kim.
"Ya enggak lah!"
"Jujur sama gue, lo bilang ya masalah lo sama Kim, lo minta bantuan dia?"
"Enggak!"
"Terus kenapa bisa pacaran?" tanya Raka, kali ini benar-benar serius. Dia penasaran gila.
"Takdir!"
"Takdir muke lo, aaahhh yang bener dong... Masa iya langsung pacaran, kata lo nomornya aja nggak punya! Terus nih yaaa, dia tau kalau surat cinta sama bunga dari Mr. Kra itu lo yang kasih?"
Mendengar itu Kana mendelik tajam, dia belum bisa melupakan kekesalan sepenuhnya atas drama surat cinta, berani-beraninya Raka nyinggung soal itu, emang mau mati sepertinya "Bisa nggak jangan bahas surat cinta biadab lo itu, atau lo keknya udah bosen hidup?" ancam Kana, kemudian dia berlalu meninggalkan sahabat laknatnya itu. Hari ini moodnya sedang bagus, Raka harus merasa beruntung kali ini.
__ADS_1
"Busettt, woy Ka gue kan cuma nanya!" teriak Raka tak puas.
Setelah hendak memeriksa pasien, Kana dikejutkan oleh suara seseorang.
“Kana!” panggil seseorang itu, Kana menoleh karena seperti jelas mengenal suaranya.
Matanya menangkap seseorang yang memang dirinya kenal, sedang di papah oleh seseorang yang sayangnya juga dirinya kenali.
“Kamu apa kabar?” tanya Sisil tanpa dosa setelah mendekat, memalukan! Beraninya menyapa saat sudah jelas-jelas mengkhianati.
Yah yang menyapa Kana baru saja adalah Sisil, mantan istrinya yang berselingkuh dengan pamannya sendiri.
“Baik!” sahut Kana seadanya.
Melihat perut Sisil yang sudah membuncit membuatnya yakin kalau wanita itu begitu menikmati perannya.
“Kamu nggak mau ngucapin selamat?” tanya Erik, yang satu ini juga tidak tau malu, Kana merasa mungkin keduanya benar-benar bahagia sejauh ini, beda sekali dengan dirinya yang baru saja bisa move on, itu pun karena kehadiran Kim yang berhasil menggetarkan hatinya.
Kana tidak menyahut, baginya juga tidak tau harus menanggapi seperti apa, mana ada mantan suami yang begitu senang kegirangan melihat mantan istrinya berhasil dalam perselingkuhan, ada-ada saja dua umat tidak tau diri ini, pikirnya.
“Kamu emang nggak berubah ya, masih aja cuek!” ujar Sisil, dia semakin erat menggenggam tangan Erik, semenjak pengkhianatan yang dirinya lakukan, Kana benar-benar tidak pernah bisa bersikap baik padanya.
“Eh ada Sisil!” sapa Raka seraya merangkul Kana, dia datang hanya ingin mencairkan suasana, karena dilihatnya Kana yang tampak tidak suka.
“Iya nih, udah lama nggak ketemu kamu juga Ka, kamu apa kabar?” tanya Sisil ramah.
“Baik Sil, kamu?” Raka mencoba berbasa-basi sembari pikirannya mencari alasan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
Namun siapa sangka kalau Kana malah melepaskan rangkulannya kemudian berjalan menjauhi Sisil, Kana memilih pergi duluan tanpa permisi.
“Eh Sil, aku duluan ya!” pamit Raka, ia segera menyusul Kana, meninggalkan Sisil dan Erik yang hanya bisa menghela napas berat, pengkhianatan mereka waktu itu sepertinya memang benar-benar tidak termaafkan.
__ADS_1
Bersambung...