Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Itu kan...


__ADS_3

“Yang bener aja, yakin ini tempatnya?” Dian mencari keseriusan di wajah Kim, bukankah ini terlalu sulit untuk dilakukan sahabatnya itu, warung bakso sederhana yang jauh dari kata mewah, yang dilihatnya sangat tidak higienis, seorang ratu mana mungkin mau berada di tempat seperti ini, tapi Kim malah berniat menemui Raka di sini, menampilkan wajah seserius itu, Dian benar-benar salut.


“Kita harus berkorban jika mau berhasil, udah tenang aja, gue yakin setelah ini ilfeel udah si Raka sama lo!” yakin Kim, dia yakin seribu persen, belum lagi bakat aktingnya yang akan dia mainkan secara khusus untuk Raka nantinya, pertemuan ini tentunya akan membuahkan hasil, Raka tentunya akan berpikir panjang untuk menerima Dian sebagai istri.


Ya ya, ide cemerlang ini memang berasal darinya. Awalnya Dian hanya memintanya untuk menggantikan peran untuk menemui Raka, bertingkah tidak menyenangkan supaya Raka ilfeel, namun tidak juga separah ini, so bersiaplah untuk hasil yang nyata, Kim tersenyum menang di dalam hati.


“Yakin lo?”


“Yakin... udah, percaya sama gue, kalau gue berhasil lo traktir gue seminggu!” percaya diri Kim.


“Bener yaaa, jangan kan seminggu, kalau lo berhasil bikin Raka Ilfeel dan batalin perjodohan, udah... Sebulan gue traktir lo juga oke!” Dian malah memberikan tantangan.


“Beneran lo?” Kim menatap Dian serius, wah kesempatan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja, batin Kim meronta-ronta.


Gegas Kim duduk di salah satu kursi, beberapa orang mulai menatapnya dengan risih, Kim tersenyum canggung... Meyakinkan hatinya untuk tetap berpegang teguh pada prinsip, Ini semua gue lakuin demi traktiran, eh salah demi Dian... Yah, sebagai sahabat yang baik apapun bakal gue lakuin, kalau dapet keuntungan dari itu bukannya itu bonus, hemmm... Ayo Kim lo pasti bisa!


Panas mulai menyeruak, Kim mengambil karton menu untuk dijadikannya kipas, sepertinya dia memang salah kostum, apa lagi make up menornya ini, semakin menambah hawa panas di tubuhnya.


Bulir keringat yang sudah sebesar biji jagung pun mulai jatuh. Sebenarnya, Raka ini niat datang nggak sih, batin Kim menggerutu.


"Mau pesan apa Mbak?"

__ADS_1


Mbak? Gue beberapa dikira Mbak-mbak? Apa dandanan gue udah meyakinkan?


"Nanti aja Mas, kalau temen saya udah dateng!" sahut Kim, namun karena tampan ragu dia kembali bertanya.


"Ah ya Mas, bisa saya bertanya?"


"Oh, silakan Mbak!" sahut sopan pelayan itu.


"Apa saya jelek?" tanyanya to the poin.


"Hah?"


"Apa saya terlihat norak? Saya tidak cantik kan?"


Kim ingin memastikan penampilannya lewat penilaian orang lain, apa lagi melihat banyaknya orang yang menatapnya lain.


"Anu Mbak..." ragu si pelayan.


"Katakan saja, saya tidak akan marah! Jawab yang jujur, apa saya sudah terlihat jelek, saya terlihat tua?" tanyanya sekali lagi.


"Emhhh... Iya Mbak!" angguk pelayan.

__ADS_1


"Aahhhhh!" Kim tersenyum puas, sudah dia duga, orang menatapnya lain memang karena wajah dan penampilannya ini yang tidak bisa terselamatkan.


Bisik-bisik mulai terdengar, beberapa mengatakan tidak percaya kala ada orang yang tersenyum puas saat dikatakan jelek. Kim melirik Dian yang duduk lumayan jauh, memberikan tanda jempol bahwa dirinya benar-benar sudah siap.


"Apa ada yang Mbak butuhkan?"


"Ahhh tidak tidak, saya hanya sedang menunggu teman, nanti akan pesan jika dia sudah datang, tapi kalau Mas-nya maksa, bisa kasih saya air putih dingin, di sini panas!" ujarnya, sebenarnya Kim tidak terbiasa makan di tempat seperti ini, jadi dia juga tidak tau cara bersikap. Apakah sudah benar, atau malah bisa bikin kesel.


"Baik Mbak!"


Sementara itu,


Raka melihat lokasi yang tertera, benar warung bakso ini adalah tempat yang dijanjikan, mengapa Dian ingin bertemu dengannya di tempat seperti ini.


Tapi dalam hatinya juga terbesit kehangatan, itu berarti Dian bisa jadi adalah orang yang cukup sederhana. Warung bakso ini adalah tempat langganan keluarganya, meskipun berada di pinggir jalan, namun rasanya sangat enak, Mamanya, Miranda kerap kali memintanya singgah untuk membeli bakso dulu sebelum pulang.


Raka masuk, para pelayan yang memang sudah mengenalnya pun menyapa dan Raka membalas. Dia mengedarkan pandangan, sama sekali tidak dilihatnya orang yang dia cari. Namun, matanya tertuju pada satu orang yang dia rasa seperti mengenalnya.


"Itu kan..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2