
Kana menghela napasnya berat semenjak satu jam yang lalu menutup telpon, di pagi buta seperti ini Ayahnya baru saja memberikannya kejutan. Sebenarnya bukan lagi kejutan juga sih, karena Kana seharusnya sudah mempersiapkan diri untuk akibat dari kebohongannya.
Tuan Akara kembali memintanya membawa Kim datang, berkata kalau hubungannya dan Kim tidak bisa dipercaya jika dirinya tidak memberikan bukti yang nyata. Tidak cukup hanya perkataan yang lebih dianggap sebagai bualan, Tuan Akara ingin putranya itu membawa calon mantunya secara nyata ke rumah utama. Kemudian membicarakan perihal pertemuan keluarga, mereka akan menikah dan itu harus.
"Kana... Lo yang terbaik! Setelah ini, lo mungkin aja harus mengalihkan beberapa aset untuk persiapan, Tuan penguasa nggak bakalan narik gelar lo ini kan, sayangnya itu terlalu mudah baginya, lo bakal menderita, jadi gembel udah!" gumamnya sembari melihat pantulan gambar menyedihkannya dari gelas kaca.
"Nggak bisa, meski caranya sungguh sulit buat ditempuh, tapi itu jalan satu-satunya! Gue emang harus berkompromi sama Kim!" gumamnya lagi, dia melirik rolexnya, masih ada sisa setengah jam, Raka belum juga sampai untuk menggantikannya.
Dengan cepat dia mendial nomor sahabat laknatnya itu, gila saja kalau hari ini Raka harus membuatnya menambah jam kerja lagi.
"Lo di mana Ka? Udah mau ganti ini!"
"Bentar lagi gue sampai, napa sih biasanya telat banyak juga gue nggak papa!" sahut Raka terdengar di seberang, nadanya kesal, seharusnya kan di sini Kana yang kesal.
"Cepet! Urgent ini, gue mau pulang!"
__ADS_1
"Iya bentar lagi nyampe, sesuai jadwal pokoknya, lo doain aja nggak macet!"
"Rakaaaaa!" berang Kana.
"Iya iya, bawel banget jadi jantan, geli gue dengernya!" maki Raka.
Setengah jam ditunggu akhirnya Raka benar-benar datang, memang sesuai jadwal, pas tidak lebih tidak kurang, menampilkan senyum terbaik dengan sudut bibir kiri dan kanan sangat simetris seraya memasangkan jas putihnya, "Ada apa sih, mood lo kayaknya berantakan banget kayak istri orang lagi PMS?"
"Urgent apaan?" selidiknya lagi.
Dia mengambil tasnya, melangkah keluar dengan terburu-buru, pagi ini juga dia harus menemui Kim. Harus merealisasikan rencananya.
...***...
Kim masih tertidur pulas saat merasakan tangan yang dingin menyentuh pipinya lembut. Tiba-tiba saja wajah tampan yang setiap hari memenuhi ruang pikirnya itu kini memaksanya untuk berkhayal.
__ADS_1
"Hemmm, mengapa dia selalu saja tampan?" gumam Kim, tangannya terulur untuk menjamah pipi Kana, "Bahkan di pagi hari gue masih aja mimpi tentang Pak Dokter, dia itu dewa atau apa?" gumamnya lagi, yang ternyata belum sepenuhnya sadar bahwa apa yang disentuh olehnya itu adalah nyata. Benar-benar Kana yang asli.
Kana gemas, lucu sekali kan pacar bocilnya ini, tangannya tanpa bisa dicegah beralih ke hidung bangir milik Kim, menyentuhnya kemudian memberikan cubitan kecil.
"Aww!" membuat sang empunya mengadu.
"Sudah sadar?" godanya.
Kim melotot, ya ampun apa yang baru saja dia katakan pikirnya. Lalu tiba-tiba juga langsung tersadar, Astagah muka gue, muka bantal gue nggak terlihat menjijikan kan? Mengelap dengan cepat dari sudut bibir ke pipi, barang kali saja ada iler yang menempel. Susah memang kalau tidak biasa dengan tidur cantik, gadis yang terlalu apa adanya seperti Kim tentu saja takut ketahuan sisi wajahnya yang tak terselamatkan.
Kana tersenyum, "Sudah, masih tetap cantik!" ujarnya untuk tidak membuat canggung. Namun yang ada Kim malah dengan cepat bangkit meninggalkannya, kamar mandi adalah satu-satunya tujuan gadis itu.
Jika biasanya dia akan berlama-lama di pembaringan, menyuruh layar ponsel untuk membasuh wajah bantalnya, namun kali ini tidak Kim benar-benar membutuhkan kaca dan air.
Salah gue, kenapa juga gue harus kasih password pintu ke dia, duh malu banget sumpah!
__ADS_1
Bersambung...