
"What!" Kim memekik, seketika dia menyemburkan air dingin itu di wajah Dian.
"Kim Obelia..." seru Dian geram, wajahnya sudah dipenuhi air, kali ini dia benar-benar akan marah. Kim menyemburnya nggak kira-kira, emangnya dia lagi kesurupan pake acara disembur segala.
Lekas Kim mengambil tisu, mengelap wajah Dian yang penuh air. Aahhh dia terlalu kaget tadi hingga menimbulkan insiden, untung saja susuknya Dian nggak luntur, batin Kim sedikit geli.
"Lo ini bener-bener yaaa!"
"Ya maap Di, pan gue kaget, lo sih tiba-tiba bilang mau nikah, eh salah tunangan!" sesal Kim beralasan.
"Terus apa hubungannya sama nyembur gue?" bentak Dian sangat tidak ramah.
"Ya namanya juga orang kaget, apa aja bisa terjadi kan, masih mending lah dari pada gue yang jantungan!"
"Apa lo bilang?" kuku-kuku itu sepertinya siap sedia untuk mencengkram, kalau saja Kim tidak segera menghindar.
"Udah udah Di, gue kan udah minta maaf, dimaapin dong... Yah yah..."
Dian duduk, matanya masih menatap sinis Kim, namun kesalnya sudah sedikit mereda, ya dia juga sih yang spontan bilang mau nikah, kalau dia jadi Kim juga tentunya akan kaget, hanya saja pengungkapan ekspresi-nya tidak akan segila itu.
"Jadi kapan?"
"Minggu depan!" sahut Dian cepat.
"Nah, lo mau gue bantu apa? Gagalin pertunangan?" tebak Kim.
"Ngaco lo! Emangnya lo udah siap mangkas umur lo?"
Menggagalkan pertunangan, tentu saja tidak akan bisa dirinya lakukan, itu bahkan diluar pemikirannya meski Dian sungguh mau.
"Gue mau tanya-tanya sama Pak Dokter dong!"
"Dih, mau tanya apaan lo? Jangan bilang lo mau buka aib gue?"
Dian memutar bola matanya malas, "Aib lo bahkan nggak perlu gue buka juga udah kelihatan, semua yang ada pada lo ini ya aib!"
"Eh... Lo ngajak gelut?"
"Yaaa, gue bicara kenyataan kan!" Dia menunjuk Kim dengan pasti, "Yang dengan kebiasaan gilanya, ngampus jarang banget mandi, siapa coba?"
"Tapi gue nggak mandi tetep wangi yaaa, wleeekk!" balas Kim tak mau kalah.
"Iya parfum sebotol bisa abis dua hari!"
__ADS_1
Kim tak lagi melawan, kalau itu dia memang mengakui. Gadis itu hanya bisa nyengir kuda untuk menyudahi perdebatan.
"Gue butuh bantuan Pak Dokter!" ujar Dian pada akhirnya.
"Hah? Butuh bantuan apa?"
"Tanya seseorang!"
"Maksudnya?"
"Nanya calon tunangan gue yang kebetulan dokter juga, biasanya kan kalau dokter itu banyak relasi pertemanannya, sesama dokter tentunya bisa aja kan mereka saling kenal, gue cuma mau tau orang yang namanya Raka Bagaskara itu kayak gimana bentukannya."
"Hah? Calon tunangan lo dokter?"
"Iii... iya..."
"Lo kok nggak bilang?"
"Kenapa?"
"Ekhmm... Gue ada denger nama temennya Pak Dokter sih, yang waktu itu bikin gue kesel, masa kemaren pacar gue harus lembur gara-gara dia!" gerutu Kim.
"Hah? Maksud lo yang Pak Dokter lembur semalam?"
"Katanya dia harus lembur gantiin temen, gue inget banget nama temennya itu juga Raka!"
"Serius lo?"
"He'em!" angguk Kim.
"Lo bisa suruh Pak Dokter ke sini nggak?" tanya Dian, seketika dia tidak bisa menahan rasa penasarannya dengan sosok Raka. Di samping itu dia juga harus tau bagaimana rupa calon suaminya.
"Penting banget ya Di?"
"Ya penting lah, nggak pengertian banget jadi temen!"
Kim tampak berpikir, "Kita kan ada kuliah sore ini, emmm sebenarnya gue takut ganggu sih Di, dia kan abis lembur, gimana kalau agak siangan?" usulnya kemudian.
"Hemmm, oke deh!"
Dian mengambil bantal sofa, menepuknya perlahan kemudian memposisikan diri untuk nyaman berbaring.
...***...
__ADS_1
"Kana sedang menikmati masa istirahatnya, sebelum nanti malam dia harus masuk kerja lagi, tiba-tiba saja dia teringat moment saat dia menyatakan cintanya pada Kim malam itu. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat, entahlah dia pun tidak tau mengapa dia bisa melakukan hal semacam itu. Menyatakan cinta duluan, sama sekali bukan dirinya.
Kana masih berpikir, hal itu dia lakukan karena dia memang menaruh hati pada gadis itu, atau hanya karena kebutuhannya, dia butuh Kim untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi, mengapa dia bisa sesenang itu kemarin saat Kim dengan pasti menerimanya. Ikut bahagia karena cintanya yang diterima, atau senang saja dan merasa puas karena apa yang direncanakannya berjalan lancar.
Kana masih bingung, benar-benar bingung, sisi lain dalam hatinya sangat tidak ingin memanfaatkan Kim, namun mau bagaimanapun Kim sudah dirinya manfaatkan. Sudah masuk kedalam hidupnya, kini sedikit banyak dirinya juga menaruh harapan pada Kim untuk membantunya.
Ting tong,
Kana menyergit heran, siapa lagi yang bertamu, merasa sama sekali tidak memesan makanan, ayahnya juga baru mengunjunginya tadi pagi, orang tua itu lumayan sibuk, tidak akan meluangkan waktu percuma hanya untuk menemuinya lagi, apa lagi perihal Kim tentunya Tuan Akara sudah tau, masih tanpa kejelasan.
Dengan malas Kana menuju pintu, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang, kemudian menunduk, sadar kalau penampilannya sangat tidak layak untuk menyambut tamu.
"Silakan masuk!" ucapnya canggung, celana kolor berwarna hijau tua dan juga kaos tipis sedikit transparan itu malah berhasil mencetak dada bidangnya yang seharusnya tidak untuk dipertontonkan. Kana malu sekali, dia adalah tipe orang yang tidak akan mudah menunjukkan tubuhnya pada lawan jenis, meskipun tubuhnya itu bisa dikatakan layak pamer.
Namun tetap saja rasanya, bertelanjang dada di hadapan wanita itu menurutnya sedikit memalukan. Apa lagi menurut Kana, dia dan Kim belum cukup dekat untuk saling terbuka. Ter-bu-ka, dalam arti kata sebenarnya.
Dia tidak mengira kalau Kim akan mengunjunginya, membawa teman pula.
Kim dan Dian masuk, keduanya mengedarkan pandangan ke sekeliling, tampak rapi, kentara sekali kalau penghuni apartemen ini orang yang sangat menjaga kebersihan. Dian menyenggol lengan Kim memberinya ejekan, mengisyaratkan Kim untuk lebih mempunyai rasa malu sedikit, seorang pria saja bisa bersih seperti ini dalam mengurus rumah, entah kenapa sahabatnya itu sangat jorok.
"Ape lo?" bisik Kim, dia memelototkan mata.
"Sebentar yaaa..." Kana menuju kamar dengan cepat, dia akan mengenakan pakaian yang lebih layak, tadinya dia hanya berbaring di kamar, jadi ya begitu lah penampilannya.
Setelah Kana pergi, kedua gadis itu saling pandang, kemudian mengalihkan tatapan masing-masing.
"Gilak itu badan, pelukable banget woyyy..."
"Panas... Gue panas!"
Kim memegangi dadanya, baru pertama kalinya melihat yang begituan secara nyata, biasanya dia hanya melihat yang seperti itu di drakor saja. Memiliki pacar dengan tubuh hampir sempurna, aahhh jadi ingin peluk kan.
"Ngeres... Jangan ngeres lo!" tudung Dian, padahal dia juga sedang mengagumi tubuh seorang Kana.
"Apaan?"
"Lo mikirin apa sampe susah napas gitu?"
"Gue..."
"Hayo lho, ngaku lo..."
"Di, apaan sih?"
__ADS_1
Bersambung...