
Sudah tiga hari semenjak Kana memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Kim. Dia juga sudah pindah ke apartemen bersebelahan dengan milik Raka, hari ini bahkan dirinya mengambil cuti untuk berkemas, menata perabotan baru di apartemennya.
“Apa ini?” Kana yang sedang nyenyak tertidur malah harus terbangun karena tetesan air yang mengenai wajahnya seperti hujan.
Dia melihat ke atas, menyaksikan kekecewaannya pada apartemen yang direkomendasikan Raka, benar-benar yang terburuk, padahal ini adalah malam pertamanya pindah ke apartemen.
Kana melirik jam dinding, masih jam sembilan, kemungkinan saja pemilik unit tepat di atas unitnya ini belum tidur, dia akan mencobanya.
Kana bangkit lalu bergegas menuju lift, ia menekan tombol 4 untuk berada satu tingkat di atas lantainya.
Sebenarnya, Kana itu paling malas untuk membuat masalah dengan orang lain, namun untuk kali ini rasanya dia mau tidak mau, suka tidak suka orang itu terhadap keluhannya nanti, seharusnya bisa diajak untuk bekerja sama.
“Tok tok tok!”
Kana mengetuk pintu aparteman dengan nomor unit 401 itu, berkali-kali namun tidak juga terdengar jawaban. Ia menggeram kesal namun tidak juga bisa melakukan apapun. Wajah Raka yang menyanjung-nyanjung apartemen ini sebagai tempat ternyaman memenuhi ruang pikirannya, cih nyaman apanya? Baru satu hari saja sudah harus mengeluh.
Saat hendak memutar arah untuk kembali ke unitnya, tiba-tiba saja pintu apartemen itu terbuka, menampilkan penghuni tempat itu yang sedang menguap lebar menyambut kedatangannya.
“Ada apa?” tanya Kim. Yah, yang berada di unit 401, unit yang juga tepat berada di atas unitnya memang dihuni oleh Kim, gadis yang sudah berhasil menggetarkan hati Kana itu kini dirinya harus bertemu lagi.
“Ah Pak Dokter?” sapa Kim terkejut. mengusap kasar wajahnya, menyisir rambutnya dengan jari, barang kali saja penampilannya kali ini terlihat buruk.
Kana hanya bisa mematung, baju tidur yang dikenakan Kim sedikit terbuka, bagian d*da bahkan bisa terlihat belahannya, entahlah Kana harus menganggap itu sebuah keberuntungan atau dosa.
“Kamu... Tinggal di sini?” tanya Kana hati-hati.
Kim mengangguk, melihat Kana yang datang, dia ingin tau untuk apa dokter tampan di rumah sakit itu menemuinya.
“Aahhh, iya... Saluran airmu mungkin bocor, dan itu mengenai kamarku!” jelas Kana, jantungnya berdegup lebih kencang, namun dia masih bisa menetralkan itu.
“Oohh... angguk Kim, "Kalau begitu silakan diperiksa!” Kim mempersilakan Kana untuk masuk, dan langsung diajaknya menuju dapur.
“Tapi, aku tidak tau cara memperbaikinya!” Kim benar-benar tidak tau kalau ada masalah di apartemennya yang bisa merugikan orang lain. “Kalau Pak Dokter bisa memperbaikinya silakan saja!” lanjutnya.
__ADS_1
Kana melihat saluran air itu, dan benar saja bahkan lantai di dapur apartemen Kim ini sudah basah. Entah bagaimana penghuni unit ini bisa tidak menyadari.
“Ambilkan kuncinya!” pinta Kana.
“Ah apa? Kunci apa?” tanya Kim tak paham.
“Obeng atau apapun!”
“Aku tidak punya!” jawab Kim.
Kana menghela napas berat, lalu ia berjalan menuju tempat yang biasanya untuk menyimpan peralatan, dia akan memeriksa itu.
Setelah mendapatkan apa yang dirinya butuhkan, Kana mulai memperbaiki saluran air itu, Kim yang melihat itu tampak kagum, ternyata dokter tampan yang tengah bersamanya ini benar-benar serba bisa.
“Ada apa?” tanya Kana saat melihat wajah Kim yang terbengong.
“Eh! Apa udah?” tanya Kim balik.
“Sudah, bukan perkara sulit jika sudah tau di mana bocornya!” jawab Kana.
“Kamu...”
“Pak Dokter...”
Kana dan Kim berucap bersamaan, sehingga keduanya terlibat canggung.
“Pak Dokter saja duluan!” ujar Kim.
“Kamu saja!” ucap Kana.
“Terima kasih yaaa!” ucap Kim lagi, ia memang ingin berterimakasih.
Kana mengangguk, “Baiklah kalau begitu aku akan pergi!” pamit Kana.
__ADS_1
Mata Kim mengerjap, Kana akan pergi, tapi entah mengapa dia masih ingin berlama-lama dengan pria itu. Wajah yang tampan hampir sempurna itu, dia ingin memandangnya lebih lama lagi.
“Tidak mampir dulu? Apa Pak Dokter orang baru di sini? Aku nggak pernah lihat sebelumnya?” tanya Kim.
“Aku baru pindah hari ini!” jawab Kana cepat.
“Aahhh begitu ya!”
“Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan, aku mau kembali ke unitku!” ujar Kana.
“Ah iya, iya!” sahut Kim sedikit menyesal.
Kana berlalu, ia tidak bisa berlama-lama dengan Kim, apa lagi Kim malah dengan tanpa dosa menodai matanya, baju tidur itu benar-benar telah berhasil mengobrak-abrik kewarasannya.
Namun saat dia hendak pergi tiba-tiba saja telinganya mendengar sesuatu, “Krruuukkk!” sangat jelas, sepertinya nona pemilik rumah ini benar-benar kelaparan.
Kana tidak bisa untuk mencegah matanya melihat ke arah Kim, gadis itu tersenyum dipaksakan sembari memegangi perutnya. “Hehe, Pak Dokter pulang saja, aku hanya sedikit lapar, jadi...” ujar Kim tak senang.
Kana melihat tumpukan mie instan di dapur, apa Kim hanya mengkonsumsi mie instan selama ini? Hidup sendirian pula, menyedihkan sekali. Apalagi untuk pasien pasca operasi, sungguh pola hidup yang buruk.
Kana tanpa diminta ia melangkahkan kakinya menuju kulkas, melihat apakah ada bahan makanan yang bisa dimasak, dia hanya menemukan kentang dan juga wortel, beberapa telur di rak. Selain itu ada juga susu, roti yang sudah kering, mungkin karena kelamaan menghuni kulkas.
“Pak Dokter mau apa?” tanya Kim, ia panik karena Kana sudah bertindak, apa mungkin dokter itu mau bikinin gue makan? Dih pede banget, emangnya siapa gue? Tapi kalau bukan memangnya dia mau apa?
“Apa kau terbiasa mengkonsumsi mie instan? Tidak baik untuk pasien pasca operasi, karena kau sempat menjadi pasienku kemarin, jadi aku merasa aku masih perlu bertanggung jawab. Duduk saja, akan aku buatkan makanan sebentar!” ujar Kana beralasan, yah dengan mengatakan itu bentuk perhatiannya ini memang menjadi cukup masuk akal. Kim tidak akan mengira dia sungguh peduli.
Entahlah dia pun tidak tau mengapa dirinya bisa melakukan itu, yang jelas dia tidak ingin melihat Kim kelaparan seperti itu, rasa ingin merawat gadis itu tiba-tiba saja hadir dalam hatinya.
Kana yang awalnya tidak pernah peduli akan orang lain di luar pekerjaannya kini bahkan bisa sepeduli itu terhadap Kim, benarkah hanya karena Kim pernah menjadi pasiennya kemarin? Kalau Raka mengetahui hal ini, tentunya Kana akan habis diledek.
Sementara Kim, dia tersenyum karena tindakan Kana, secara tidak langsung membuatnya semakin mengagumi Dokter tampan itu.
Wajah yang tampan, dokter pula, bisa benerin saluran air, bisa masak, perhatian gini, apa kurangnya coba? Duh Kim, apa-apaan sih lo, sadar dia nggak mungkin suka sama lo, tapi kalau iya gimana? Ashhh, kejauhan Kim, kejauhan...
__ADS_1
Bersambung...