Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Berita yang sudah lewat.


__ADS_3

Paginya,


"Semangat amat Buk..." sindir Kim, dia baru saja bangun tidur saat Dian sudah berada di kamarnya, Dian memang mengetahui kata sandi apartemennya jadi bisa sembarangan masuk. Hal itu juga Kim lakukan supaya Dian bisa lebih gampang untuk menemuinya.


"Kim, gue ada yang mau di omongin, buruan bangkit!" pinta Dian, dia mengambil tangan Kim untuk membangunkannya, sahabatnya ini emang sebangsa kebo.


"Gue ngantuk Di, semalam begadang!" parau Kim, dia memang benar-benar mengantuk. Karena semalam baru bisa tidur lagi sekitar jam 3, padahal Kana sudah lama pergi dari apartemennya.


"Hah, ngapain lo begadang? Nungguin Pak Dokter, iya? Wah parah lo, dasar pacar posesif gilak!" gerutu Dian.


"Semalam Pak Dokter ke sini, kan gue jadi nggak bisa tidur!"


"What!" pekik Dian langsung, dia terkejut, untuk apa dokter Kana mengunjungi Kim malam-malam? Dia saja pulang dari apartemen Kim semalam udah larut banget. Jam berapa dokter Kana ke sini pikir Dian khawatir.


Jangan salah, Kim memang anak yang bebas, tapi bukan berarti sebebas yang orang lain kira, mereka masih tau aturan, meskipun Kim kecewa dengan kedua orang tuanya, tapi sahabatnya itu sama sekali tidak pernah berniat untuk mengecewakan.


"Demi apa? Lo... Lo nggak diapa-apain kan? Jujur sama gue, ngapain itu dokter ke apartemen lo malem-malem? Nggak mungkin dia nyasar kan?"


"Ya enggak lah Di... Katanya dia itu ngerasa bersalah, dia nggak bilang kalau tiba-tiba dia harus lembur, abis nanganin pasien kecelakaan, terus pas dia liat hape taunya banyak banget panggilan tak terjawab dari gue, makanya dia ke sini buat nebus kesalahannya, romantis kan?" ujar Kim dengan gampang menjelaskan.


"Serius? Kalian nggak ngapa-ngapain kan?"


Kim menggeleng, "Dia masak, aku makan yang dibikin dia, udah deh, setelah itu dia balik lagi ke rumah sakit, mungkin sekarang dia udah pulang, karena dia bilang emang pulangnya pagi!"


Dian mengangguk. Aahh sukurlah kalau cuma begitu pikirnya.

__ADS_1


"Nah lo, apa yang mau lo omongin?" tanya Kim, dia ingat tadi Dian mengatakan ada yang mau diomongin sama dia. Kesadarannya sudah normal, jadi dia sudah bisa penasaran dan mencerna perkataan dengan baik.


"Ohhh itu..."


...***...


"Selamat pagi..." sapa Raka pada sahabatnya yang sedang tertidur di kursi, Kana masih tidur karena merasa cukup lelah.


"Udah waktunya pulang, lo masih mau di sini?" lanjutnya.


Kana bangun, dia melirik jam tangannya yang menunjukkan sudah pukul setengah tujuh pagi, tidak biasanya dia tertidur lama begini. Lalu dia melihat wajah sumringah Raka yang akan berganti shift dengannya.


Kana mengangguk, "Muka lo seneng bet, betah banget nggak kerja biarin orang ngembabu?" sindir Kana.


"Yeee, bukannya sudah dibicarakan, pan lo udah setuju, apa salah gue dong?" kekeh Raka tak mau disalahkan.


"Ka gue ada berita penting! Gue yakin lo pasti nggak bakalan percaya!" ujar Raka setengah berteriak, seolah yang akan dikabarkannya itu memang sangat seru.


"Paan?" sahut Kana dari ruang ganti.


Dia memeriksa ponselnya, dan sama sekali tidak ada panggilan dari Kim, mengapa dia sedikit kecewa.


"Sini lo!"


Kana merapikan bajunya, dia keluar dan siap untuk pulang, namun sebelumnya merasa harus menyimak berita yang dibawa Raka.

__ADS_1


"Gue..."


"Apaan?" pinta cepat Kana.


"Ternyata... Lo tau nggak, ternyata eh ternyata..."


"Buruan... Ternyata lo gay? Minggat lo dari Deket gue kalau emang bener!" canda Kana.


"Dih mulut! Gue perkasa gini dibilang belok!" sahut Raka kesal. Sahabatnya ini kadang emang agak gila.


"Makanya buruan, udah seharian gue di rumah sakit, lo kira nggak pegel?"


"Oke oke, ternyata... Kita tetanggaan sama Kim!" beber Raka sungguh bersemangat. Namun si penyimak beritanya terlihat biasa saja.


"Apa maksudnya nih? Lo kok nggak ada senengnya? Lo emang nggak cinta sama itu cewek atau jangan-jangan lo emang udah tau yaaa?" tebak Raka.


Kana tersenyum, dari ekspresi wajahnya saja Raka sudah bisa menebak, mengisyaratkan kalau sebenarnya Kana sudah tau.


"Anj*Ng! Jadi gue aja nih yang nggak tau?" kesalnya tak habis pikir.


"Berita lo udah lewat, gue bahkan udah pernah masak di unitnya!" aku Kana. Yang sejurus berhasil membuat Raka terperangah.


"Ka, lo..." geram Raka tak bisa berkata apa-apa.


Kana berlalu, sia-sia dia menunggu berita seru yang dijanjikan Raka, ternyata itu beritanya, kalau itu sih dia udah tau kali. Tanpa sadar dia tersenyum bangga, karena dia lah orang yang pertama mengetahui itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2