
"Gue udah boleh pulang belum sih?" tanya Kim pada Dian, ia sungguh bosan hanya berdiam diri di ruang rawat ini, ini saja untung ada Dian menemaninya, karena Papa dan Mamanya benar-benar hanya menengoknya sekilas, kedua orang tuanya itu lebih memilih bekerja dari pada menungguinya di rumah sakit.
Meskipun Dian selalu mengatakan kalau kedua orang tuanya peduli padanya, tapi Kim tetep saja kecewa.
"Tau! Emangnya lo ngerasa gimana? Udah sehat?"
Kim mengangguk, "Gue bosen banget Di di sini, mau ngapain juga nggak bisa!"
"Hemmm! Lo mau jalan-jalan?" tanya Dian.
"Emang boleh?"
"Nanti kalau pas ada dokter yang meriksa lo gue tanyain deh!" jawab Dian.
"Eh, lo liat Ryan gimana di kampus? Dia belum punya cewek kan?" tanya Kim, masih tentang Ryan, dan seolah nggak akan ada habisnya.
"Ya mana gue tau, bukan urusan gue kali!" sahut Dian kesal.
"Di, Lo kenapa sih keknya ogah banget bahas Ryan? Lo nggak sedang cemburu kan sama gue, hahaha!" canda Kim, yang memang sih kenyataannya Dian selalu saja kesal kalau dirinya mulai membahas Dian.
"Hah?" Dian memicingkan matanya sinis, jika saja dia goblok karena kutukan suatu hari nanti pun, nggak bakalan kali dia cemburu karena Ryan, najisme namanya kalau sama itu cowok, karena ya Dian tau banget gimana selama ini Ryan mempelakukan Kim, Kim saja yang tidak menyadari itu dan mau-maunya di beg*in.
"Ya kali kan Di, hehe, canda cemburu!" goda Kim.
Ceklek,
Terdengar pintu ruang rawat mereka dibuka, ternyata dokter yang akan memeriksa, Dian dan Kim mendadak diam.
"Gimana? Apa ada keluhan?" tanya Raka, kali ini memang giliran dia, karena Kana harus dinas malam, tadi pagi dia dan Kana hanya bertemu sebentar sebelum Kana benar-benar pulang.
"Enggak Dok!" jawab Kim antusias, berharap dengan dia mengatakan itu, dirinya bisa segera pulang.
"Kepala kamu? Apa masih pusing?" tanya Raka lagi.
__ADS_1
"Tidak terlalu Dok!" jawab Kim pasti. Sungguh berada di ruang rawat ini benar-benar membosankan, dia ingin terlihat baik-baik saja supaya bisa segera keluar dari ruang derita ini pikirnya.
"Hemm, baiklah!"
"Jadi, apa temen saya sudah bisa pulang Dok?" tanya Dian, mencoba menanyakan itu karena dia juga begitu malas menunggui Kim di rumah sakit, bahkan meskipun Kim di tempatkan di ruangan VIP, tetap saja yang namanya rumah sakit tentunya akan membuat tidak nyaman menurutnya.
"Belum, kita lihat di beberapa hari ke depan? Jika perkembangannya terus membaik seperti ini, tentunya akan semakin cepat dia untuk pulang!" sahut Raka, sembari tangannya dan matanya terus bekerja untuk memeriksa keadaan Kim.
Asistennya yang mendampingi juga dengan sigap mencatat semua yang mungkin perlu untuk dicatat.
"Oh begitu ya Dok!"
Kim dan Dian mengangguk paham, niat mereka untuk segera pulang dari tempat ini nyatanya masih belum bisa terlaksana.
"Ya! Baiklah, saya tinggal dulu!" sahut Raka permisi.
...***...
Sore hari,
"Hemmm!" angguk Raka.
"Gue beneran nggak ngerti Ka!"
"Apa lo mau buktiin untuk kedua kalinya kalau lo emang gagal jadi orang ganteng?" sindir Raka dan sejurus kemudian tertawa meledek. Asshhh, kalau dipikir-pikir adalah ketidak mungkinan seorang Kanaka Rhys Akara akan gagal dalam percintaan, tampan, mapan dengan segala kesempurnaannya, tapi takdir memang kadang tidak bisa ditebak, semuanya adalah rahasia Tuhan.
"Jadi?"
"Ya lo deketin dong, usaha!"
"Tenang aja, untuk sahabat gue yang udah banyak berkorban demi gue, terutama saat gantiin gue dinas malam, apa sih yang enggak buat lo! Kita cari dulu, gimana baiknya pedekate sama cewek!" ucap Raka antusias.
"Emang harus yaaa?"
__ADS_1
"Ya iyalah gobl*k! Kalau nggak lo deketin gimana tiba-tiba aja tuh anak bisa menjalin hubungan sama lo, hati lo terbuat dari apa sih? Nggak ada perasaan bersalah banget udah bikin gue frustasi, belasan tahun sahabatan sama lo, kek gini aja nih yang gue dapet? Makanya jangan cuma materi doang itu isi kepala, sekali-kali di kasih hiburan kek!" kesal Raka, ya Tuhan benar-benar suram keknya hilal masa depan Kana tentang rumah tangga. Benar-benar minim pengetahuan.
"Kiat sukses pendekatan sama cewek! Cara pertama, tau namanya?" ujar Raka, rupanya saat ini dirinya sedang membaca sebuah artikel online yang menurutnya menarik dan diharapkan bisa membantu menyelesaikan masalah Kana.
"Namanya Kim!" jawab Kana, Dengan menahan senyum, namun sayangnya tidak dilihat oleh Raka.
"Cara kedua, tau rumahnya! Set dah, ini pedekate apa totalitas jadi kurir? Jangan-jangan cara ketiga malah buka jasa COD lagi." gerutu Raka, kok agak menyimpang artikel yang dibacanya ini?
"Yang bener dong Ka, nasib gue bergantung sama lo ini!" Kana mengingatkan sembari mengambil paksa ponsel Raka.
"Bentar dulu beg*, gue terusin ini liat yang ketiga!" cegah Raka, lalu dia kembali fokus untuk membaca lagi.
"Cara ketiga, berikan sesuatu yang romantis!" Raka menoleh ke arah Kana, ingin melihat reaksi Kana saat dia membaca cara ke tiga.
Dan tanpa dirinya duga, Kana malah dengan gampangnya mengangkat kedua bahu tanda tidak tau, sudah kuduga pikir Raka.
"Kayaknya gue tau deh Ka, kenapa Sisil malah lebih milih aki-aki itu, ternyata lo nggak tau apa-apa tentang cinta, beg*nya kelewatan! Gue nggak yakin malah lo bisa merawanin Sisil pas malam pertama!" sarkas Raka.
"Ye, enak aja lo, Sisil mah udah nggak perlu dipe*rawanin lagi kali, orang dia udah jebol sebelum sama gue!" jujur Kana yang tanpa sadar baru saja mengungkap suatu hal yang selama ini dirinya tutupi demi Sisil.
"Eh gila! Seriusan lo?" antusias Raka, jiwa biang gosipnya meronta-ronta. Ini adalah hot news menurutnya.
Kana mengangguk, "Gue juga nggak ngerti, yang gue tau gue cinta sama dia, gue mulai bergantung sama dia, dan ngerasa sedih kalau dia nggak ada, eh tau kenapa lah dia malah tega ninggalin gue, miris banget kan idup gue!"
"Ho'oh! Bukan miris lagi!" sahut Raka. Dia menatap iba, nasib yang benar-benar buruk menurutnya.
"Apa?"
"Dibawah standar kemirisan! Orang paling beg* di dunia ini ya elo!" jawab Raka apa adanya. Kok bisa yaaa, cowok setampan Kana malah mendapatkan hidup yang menyedihkan begini perihal asmara.
"Sialan lo!" Kana menendang kaki Raka cepat, benar-benar sahabat yang nggak pengertian.
Tapi jika dipikir-pikir, benar juga apa yang Raka katakan, dia memang cukup lemah untuk masalah percintaan. Sisil bahkan lebih memilih tua bangka itu dari pada dirinya yang tanpa kekurangan apapun.
__ADS_1
Bersambung...