
“Gimana?” tanya Raka saat waktu pergantian shift, dia mendatangi Kana di ruangannya, ingin mengetahui bagaimana kelanjutan kisah percintaan sahabatnya itu.
Awalnya ia begitu yakin, tentu saja kata-kata romantis referensi darinya benar-benar yang terbaik, tapi setelah menemui Kana di sini, mengapa wajah sahabatnya itu tampak tidak bersahabat.
Kana mengangguk, dia enggan menanggapi Raka, tentu saja dirinya sungguh kesal.
“Berhasil kan? Benar?”
Apa gue bilang, ahli cinta yang terkenal ini, nggak bakalan salah!
“Hemmm!” Kana memandang sinis Raka, “Benar!” sahutnya mendelik tajam.
“Apa gue bilang, gue ini ahli cinta!” bangga Raka pada dirinya.
“Benar-benar bikin malu!” lanjut Kana kemudian dengan pasti menoyor kepala Raka. Bahkan melayangkan pukulan bertubi-tubi di lengan Raka. Kesal, siapa yang tidak kesal dan malu jika dihadapkan dengan situasi tadi?
“Aww! Lo apaan sih?” protes Raka.
“Itu lirik lagu kan! Gimana bisa lo bikin surat cinta diambil dari lirik lagu, ini!” dengan pasti Kana menunjukkan hasil pencarian googling-nya, terpampang nyata lirik lagu ‘Dari Mata’ yang dinyanyikan oleh Jaz dengan kata-kata yang sudah dicopy oleh Raka. Dan sialnya dia percaya begitu saja lalu menyalin ide konyol itu dan dijadikan surat cinta untuk Kim. Benar-benar memalukan, entah mau ditaruh di mana muka Kana, beruntung saja Kim tidak mengetahui siapa Mr. KRA itu.
Raka merasakan api kemarahan Kana sebentar lagi akan meledak, dirinya bangkit dan langsung saja ingin mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan diri.
“Mau ke mana lo?” tanya Kana tak kalah cepat. ia sudah menarik kerah baju Raka, tidak akan membiarkan Raka lolos dengan mudah kali ini.
“Mau... Mau...” gagap Raka. Sebenarnya dia juga tidak kerasan bahwa kata-kata romantis itu adalah sebuah lirik lagu, rasanya dia hanya pernah mendengar kata-kata seperti itu, salahnya juga yang tidak langsung mencari tahu. Dan Kana, mau-maunya juga dibegoin.
“Kabur?” delik Kana tajam.
“Ehehehe! Enggak, kayaknya udah pergantian jam deh Ka, gue kayaknya harus siap-siap!” sahut Raka beralasan.
“Oh ya? Teladan banget ya lo, kayaknya masih ada waktu setengah jam deh! Nih lo liat!” Kana lalu memperlihatkan jam di ponselnya, waktu memang menunjukkan masih kurang setengah jam lagi untuk jadwal pergantian jam kerja.
“Ka, gue... Gue!” gugup Raka.
“Apa lo?”
“Kita coba cara lain lagi! Gue juga nggak sadar kalau itu lirik lagu!” aku Raka pada akhirnya. Mau bagaimana lagi yekan?
“Nggak sadar lo bilang?” marah Kana, dengan gampangnya Raka bilang nggak sadar, tidak tau apa kalau dia sudah menahan malu sampai ke ubun-ubun saat Kim tadi menertawai surat cinta itu.
“Ya mau gimana lagi Ka, lah terus gimana? Dia tau kalau itu lo yang ngirim?”
__ADS_1
“Belum!” jawab Kana.
“Belum? Berarti masih aman dong!”
“Aman aman... Aman muke lo! Malu gue sampai ke ubun-ubun beg*!” kesal Kana. Dia duduk, membuka satu kemasan air mineral untuk meredam emosinya.
“Gini aja, gimana kalau lo jadi cowok gentle gen!” ujarnya kemudian mencoba pengalihan topik, supaya tidak begitu kentara kesalahannya.
“Gentle gen, lo kira deterjen apa? Gentleman!” koreksi Kana.
“Nah itu maksud gue! Lo mah dikoreksi aja!”
“Lo bilang aja lo suka sama dia, itu bahkan lebih efektif dari surat cinta untuk starla!” lanjut Raka.
“Caranya?”
“Ya ngomong dong! Punya mulut kan? Nanti giliran udah bisa kissing aja gercep, masa ngomong suka ngungkapin perasaan aja nggak mampu, parah lo!” ujar Raka.
“Harus ya?”
“Ya nggak harus juga sih, lo nggak ngomong juga sebenarnya bisa-bisa aja kok Kim jadi cewek lo!” Raka kembali duduk, tampaknya Kana kembali terbuai dengan sarannya.
“Hah? Gimana bisa?” antusias Kana.
“Anj*ng lo!” kesal Kana. Sahabat minim akhlaknya ini kadang benar-benar tidak termaafkan.
“Lah bener kan, lo tinggal minta deh mulai dari sekarang, kalau ntar lo dikasih hidup lagi, mohon banget lo dijodohin sama Kim dari lahir!”
“Ngarang lo! Mampus aja sono!” kesal Kana.
“Kan kayak gue, gue udah dijodohin dari lahir, mana bisa nolak coba!” ucap Raka lagi mencontohkan hidupnya yang menurutnya memang semiris itu. Dua bulan lagi bahkan pertunangannya akan dilaksanakan.
“Si*lan lo!” umpat Kana.
...***
...
“Kra, namanya aneh banget, itu pasti inisialnya Di!” ujar Kim, yang sedari tadi rupanya terus kepikiran dengan seorang dokter di rumah sakit ini yang memiliki inisial nama K.R.A.
“Cieee cieee, mikirin nih yeee!” ledek Dian. Dia sebenarnya juga cukup penasaran sih dengan dokter di rumah sakit ini dengan inisial nama KRA.
__ADS_1
“Hah?” Kim cengo, mikirin Mr. Kra? Yang benar saja! Eh tapi tunggu, benar juga sih, semenjak kedatangan surat cinta itu pagi tadi, Kim malah tidak terlalu memikirkan Ryan. Rasa penasarannya pada seseorang berinisial K.R.A membuatnya terus berpikir untuk mengetahui siapa sebenarnya dokter itu.
“Lo kayaknya penasaran banget ya?” tanya Dian seraya mengambil jeruk di nakas kemudian mengupasnya, menawarkan separuhnya pada Kim.
“Emmm, nggak juga sih, Cuma gue yaaa, apa ya? Kek mikir aja, siapa gitu?” jawab Kim, tangannya mulai menyuapkan jeruk yang diberikan Dian.
“Ya itu namanya penasaran Kim, nggak mau ngakuin padahal mah jelas-jelas penasaran!” sungut Dian kesal.
“Masa sih? Apa iya?”
Masa sih? Apa kek gini memang kalau lagi penasaran? Enggak juga kan!
“Iya!” jawab Dian pasti.
“Apa perlu gue cari tau siapa Mr. KRA?” lanjut Dian.
“Emang bisa?” antusias Kim tanpa sadar.
“Hemmm, dibilangin penasaran juga, yang kek gini masih aja nggak mau ngaku?” sindir Dian.
“Eh!” bingung Kim.
Kim malu sekali, ia bahkan teridiam kala Dian menyindirnya, menyelipkan surai hitamnya di belakang telinga, menutup mulutnya yang dengan tanpa bisa dicegah menerbitkan senyuman. Mungkinkah benar, kali ini dirinya memang penasaran? Merasa lucu saja dan ingin tau, ahhh tidak, rasanya dia juga ingin segera bertemu dengan Mr. KRA si penulis surat cinta.
Sebenarnya siapa sih Mr. KRA, apa dia pernah liat gue sebelumnya ya sebelum gue dirawat di sini? Gue perhatiin, dokter di sini ganteng-ganteng, paling enggak cukup lah buat jadi saingannya Ryan. Eh jauh banget mikirnya Kim!
"Kim!"
"Kim!"
"Eh?"
"Lah malah bengong dia, penasaran sampe segitunya?" goda Dian lagi.
"Ih Di, apaan sih lo!" sanggah Kim malu.
"Penasaran kan, penasaran kan... Ciyeee..."
"Dian!" pekik Kim.
"Apa?" Dian cukup senang hati ini, karena obrolan mereka tentang Ryan jadi sangat berkurang, cukup berterimakasih juga pada Mr. KRA yang dianggapnya telah mengembalikan dunia sahabatnya ini.
__ADS_1
Bersambung...