
"Bwahhahahaha!" Raka tertawa sampai terpingkal, ia bahkan kesulitan mengatur napasnya karena baru saja mendengar kabar yang membuatnya benar-benar kesulitan mengontrol rasa ingin tertawanya.
"Lo serius? Beneran? Asli sih gue bahkan nggak percaya lo bisa seberani ini!"
"Whoaaaa, seorang Kanaka Rhys Akara... Si perfeksionis, akhirnya bisa juga melakukan kesalahan!"
Begitulah sedari tadi, tertawa keras kemudian bertanya, tidak terdengar jawaban dari mulut Kana akhirnya Raka tertawa lagi, senyum mengejek itu begitu kentara ia hadiahkan untuk Kana.
"Sungguh? Pffttt, hahahahaha!"
"Hari ini, seorang Kanaka Rhys Akara, akhirnya kena juga!" ledeknya lagi.
"Sampai kapan lo mau ketawain gue hah?" sinis Kana. Dia mulai melayangkan tatapan tajamnya. Namun tentu saja itu tidak akan berpengaruh pada Raka.
"Sampai gue puas! Lo nyadar nggak sih, lo itu ngelawak banget!" seru Raka.
"Anj lo ya!" umpat Kana.
"Hahahahaha!" Raka tertawa lagi, lebih keras, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.
"Gue butuh bantuan Lo gob*ok! Lo malah... Temen kampr*t emang!" gerutu Kana tidak suka.
"Lah gimana gue bisa bantu coba? Apanya coba yang bisa gu bantu? Bilang sama bonyok lo kalau kemaren lo ngeprank? Udah tau belum sih gimana sadisnya Tuan Akara? Alamat dikebiri gue?" Raka menenggak habis air mineral yang hanya tersisa setengah, nyatanya tertawa keras seperti tadi mampu menguras tenaganya. Selain sakit di perutnya kini napasnya juga mulai tersengal.
"Kasih saran kek, gimananya?" ketus Kana.
"Saran gue?" Raka tampak berpikir, kiranya apa yang harus dirinya sarankan pada Kana untuk menghadapi ini, menyuruh Kana mendekati gadis bernama Kim itu, yah mungkin itu adalah cara paling aman dengan konsekuensi kegagalan paling sedikit, paling tidak jika itu berhasil maka Kana dan gadis bernama Kim itu harus terlibat hubungan kepura-puraan. Tapi, selama ini Raka cukup yakin kalau pesona seorang Kana pastinya akan sulit untuk ditolak.
__ADS_1
"Ya menurut gue ya, lo tetep harus bicara sama Kim, bilang ke dia buat bantuin lo!" ujar Raka.
"Lo..." Kana sudah ingin mengarahkan telapak tangannya, untung saja hari ini dia masih punya sedikit kesabaran. Jika menyangkut Raka, kadang kesabaran yang dirinya miliki hanyalah setipis tisu, tapi untuk kali ini mau tidak mau, karena ini murni adalah salahnya.
"Ya lo kan minta saran gue!"
"Masalahnya dianya mau apa enggak?" bisik Kana, ia mendekatkan tubuhnya pada Raka, dia tidak yakin saran Raka akan berhasil.
"Kalau enggak lo deketin dia aja, kemaren pas jadwal gue meriksa dia, orangnya cantik kok, kayak cewek Korea gitu, namanya aja udah Kim, yaaahhh kalau lo beneran sama dia, nggak buruk kok!" tutur Raka lagi, ini adalah cara ke dua, bisa juga dengan Kana mendekatinya, mencoba menjalin hubungan dengan gadis itu, tidak buruk malahan bagus jika sampai ke pelaminan.
"Ya kalau itu gue juga udah tau kali, lo pikir gue sembarang tunjuk?"
"Ya kali kan? Jadi nih yaaa, si Kim itu cewek yang kemaren lo ceritain? Lo bilang kemaren lo mikirin dia, nah pepet aja udah!" Raka menaik turunkan alisnya menggoda Kana, dalam hatinya juga terbesit semoga saja rencana Kana berhasil, siapa tau dengan hadirnya Kim, Kana bisa melupakan pengkhianatan Sisil.
"Maksud lo, gue harus deketin dia benaran?" koreksi Kana.
"Dan cara ke dua?" jika ada cara pertama tentunya pasti ada cara kedua, pikir Kana.
"Cara ke dua, lo deketin dia baik-baik! Menurut gue nggak ada salahnya lo nyoba hal baru, meski tuh cewek masih muda dan bukan pantaran lo, gue rasa dengan tampang lo yang meyakinkan kek gini apa lagi ditambah dompet tebel lo yang udah kayak angkatan Sugar Daddy, ya masuk-masuk aja kalau dipasangin sama Kim!"
"Gue tanya, apa cewek secantik Kim benaran nggak bisa bikin lo move on dari Sisil?" lanjut Raka.
Kana mendongak, lalu tanpa sengaja pikirannya sudah melayang jauh membayangkan wajah Kim, sebenarnya Kim memiliki daya tarik tersendiri, meskipun saat ini dirinya juga belum bisa melupakan Sisil namun dengan Kim ada sesuatu yang berbeda, setiap kali dekat dengan gadis itu jantungnya mulai berdetak tidak karuan dan itu Kana belum mengetahui penyebabnya.
Kana menggeleng, memutuskan untuk berkata tidak sebagai jawaban.
"Kalau lo mau nyoba?" tanya Raka lagi.
__ADS_1
"Gue nggak mau boongin dia Ka!" jujur Kana, terbesit rasa bersalah karena sudah dengan tanpa permisi menjual nama Kim pada orang tuanya untuk dijadikan calon istri, heh... Calon istri apanya?
"Nggak usah lo boongin! Gini aja simpelnya, ya meskipun lo deketin dia memang ada hajat yang akan lo tunaikan nantinya, tapi minimal kalau lo beneran deketin dia sebagai seorang cowok gentle yang sedang berjuang buat macarin dia, ya gue rasa dia masih bisa ngerti kalau pun ketahuan!"
"Maksud Lo? Lo kata simpel tapi kek berbelit-belit, pusing gue dengernya!" tanya Kana tidak sabar.
"Lo deketin dia, lo pacarin dia, coba sama dia, gue yakin dengan seringnya lo sama dia bareng, lambat laun lo pasti bakalan ngerasain sesuatu itu!" jelas Raka "Lakuin dengan sungguh-sungguh, buat Kim tertarik sama lo, buat dia bergantung sama lo, perlakukan dia spesial, beri dia cinta, nggak yakin gue kalau Kim nggak klepek-klepek!"
"Sesuatu?" dahi Kana berkerut, kata-kata Raka baginya terlalu rumit untuk beradaptasi dengan otaknya yang nol besar jika tentang percintaan.
"Iya sesuatu! Perasaan yang ada karena terbiasa bersama, lo ngerti nggak?"
Kana dengan berat hati menggeleng, sebenarnya Raka ini menjelaskan apa, sesuatu perasaan apa dan bagaimana?
"Ya salam!" Raka mulai gondok.
"Jadi gimana Ka?"
"Ah payah lo! Gue udah jelasin sesimpel itu malah lo masih nggak ngerti, sebenarnya lo beneran dokter bukan sih, jangan-jangan selama ini lo nyogok lagi pas ngambil gelar!" dengus Raka kesal, ia bangkit dan dengan langkah pasti pergi meninggalkan Kana. Maaf, Raka lebih memilih menyerah.
"Sialan lo! Woy jelasin, main pergi aja, jeasin beg*!" teriak Kana tak puas.
"Ngata gue bego, gue jelasin panjang lebar kek gitu aja lo nggak ngerti, lo kali yang bego!" gerutu Raka tanpa berniat menghentikan langkahnya.
"Woy, Ka, sialan lo!"
Bersambung...
__ADS_1