
"Kim, Lo sebenernya kenapa sih? Kok bisa sampe kecelakaan?" tanya Dian, dia adalah orang pertama yang mendapatkan telepon kalau sahabatnya itu kecelakaan.
Entahlah, mungkin karena seringnya Kim menghubunginya, jadi nomor yang berada di log panggilan teratas mungkin saja nomornya.
"Jangan bilang lo nggak fokus nyetir karena mikirin Ryan, come on Kim, ujung-ujungnya siapa yang rugi coba?" dengus Dian kesal. Kalau sampai alasannya iya, karena Ryan. Duh ampun deh, nggak tau gimana lagi cara buat ngadepin beg*-nya si Kim ini. Dian hampir frustasi.
"Di, lo orang yang paling dekat sama gue, lo juga orang yang paling tau gimana gue sayang banget sama dia, apa menurut lo hubungan gue sama dia emang harus berakhir ya?" lirih Kim. Masih sempet yaaa mikirin Ryan, gak waras emang, cinta emang bikin gila.
"Ya berakhir berakhir aja kali, tapi jangan bikin hidup lo juga ikutan berakhir dong! Kim lo itu cuma pacaran, apa coba yang paling ngebet lo pertahanin? Harta gono gini nggak ada, anak juga kagak, kalau lo sama Ryan udah jadi pasutri sih iya, gue turut prihatin, nah ini hubungan juga baru selebar jidat, lupain dia aja napa!" omel Dian lagi tak henti-hentinya. Dian bener-bener orang yang peduli banget sama Kim, meski kadang bicaranya memang asal nyablak, namun Kim tetep nggak bisa buat kehilangan sahabatnya ini.
"Lo nggak ngerasain jadi gue sih..."
"Hadeehh, susah emang ya ngomong sama bucin! Lo nggak ngerasain jadi gue sih... Ya untung aja kali gue nggak ngerasain jadi lo, kalau beg* ya beg* aja sendiri jangan nular ke gue!"
Dian menyelimuti tubuh Kim dengan selimut, ia akan menunggui sahabatnya itu hari ini karena kedua orang tua Kim harus pulang dulu, maklumlah habis perjalanan jauh langsung saja menuju rumah sakit karena dikabarkan putri mereka kecelakaan. Nanti sore rencananya kedua orang tua Kim baru akan ke rumah sakit lagi, mereka pulang setelah memastikan Kim sudah baik-baik saja.
"Di... Makasih yaaa!" ujar Kim, entah bagaimana nasibnya jika tidak ada Dian menemaninya, mungkin dia sudah bunuh diri saking tidak bisanya kehilangan Ryan. Separah itu, maklum cinta pertama.
"Santai aja kali Kim, gue bakalan selalu ada buat lo, tinggal nunggu cair aja akhir taun ntar, gaji gue selama jadi babu!" canda Dian.
"Heh, lo bisa aja, gue bakalan kismin keknya kalau punya babu kek lo, tukang rampok!"
"Oh jelas dong!"
"Hahahaha!"
Keduanya tergelak bersama, berhenti saat Kim mengaduh kesakitan saat kepalanya tiba-tiba saja merasakan pusing.
"Aduhhh!"
"Nah kan Kim, sebenarnya lo itu jangan deket-deket gue tau, gue suka susah nahan makian kalau sama lo!" panik Dian.
"Mana yang sakit? Kepala lo? Lo itu kan abis operasi!"
__ADS_1
"Shuuttt, santai aja kali, udah gue mau istirahat dulu, Lo juga! Nanti malam kan lo mau kuliah!"
"Hemm, istirahat aja, gue jagain lo!" sahut Dian.
...***...
"Tapi Ayah janji, nggak boleh ngomong sama dia, nggak boleh sapa dia dulu, apa lagi bahas pernikahan, dia masih sakit!" ujar Kana saat Ayah dan Bundanya itu sudah sampai di ruangannya.
Terlihat Raka juga baru datang menyergit heran, tidak mengerti akan maksud dari perkataan Kana.
"Iya, udah buruan, Bunda kamu ini udah nggak sabar mau ketemu calon istri kamu!" sambung Bundanya tidak sabar.
"Ya udah ayok ikut!" ajak Kana.
Namun tangannya dicegat oleh Raka, mata sahabatnya itu seolah meminta penjelasan.
"Nanti gue jelasin!" ujarnya, kemudian berlalu meninggalkan Raka.
Entah apa yang ada di pikiran Kana, yang jelas menurutnya cara ini adalah yang teraman dan paling efektif.
Ceklek,
Pintu dibuka, Kana melihat Kim yang sedang tertidur di jaga oleh seorang gadis, mungkin seumuran dengan Kim.
"Apa dia baru saja tidur?" tanya Kana pada Dian.
Dian mengangguk, sekilas matanya mengerjap perlahan, takluk akan ketampanan Dokter muda di hadapannya ini, sayang sekali dia sudah dijodohkan sedari kecil dan pertunangannya akan dilaksanakan dua bulan lagi, kalau tidak tentunya dia akan sangat berharap bisa berkenalan lebih lanjut dengan dokter muda yang akan memeriksa sahabatnya ini.
Dian juga melihat ada dua orang tua yang mendampinginya, apa iya kedua orang tua ini adalah asisten dokter muda ini? Ah mungkin jaman sekarang memang tengah trend sekolah di masa tua! pikir Dian rancu.
"Saya akan memeriksa sebentar, tidak perlu dibangunkan!" ujar Kana lagi.
Lalu ia mengambil tangan Kim dan memeriksa denyut nadinya. Memeriksa infus dan segala yang diperlukan, kesehatan Kim lumayan baik untuk pasien pasca operasi.
__ADS_1
"Baiklah, saya keluar dulu!" pamit Kana. Diikuti kedua orang tuanya yang benar-benar dilanda senang bukan main, apa itu calon menantu mereka? Cantik sekali.
"Kana? Di mana kamu bertemu dan bisa berkenalan gadis itu?"
"Bagaimana pertemuan pertama? Apakah mengesankan?"
"Ayah, apa Ayah masih ingat bagiamana dulu kita bertemu di taman dan Ayah mengajak Bunda kenalan?"
"Ah tentu sayangku! Tidak akan bisa dilupakan dengan mudah perjuanganku!"
"Kana ceritakan pada Ayah, bagaimana kau menghadapinya pertama kali? Gugup? Tentu gugup kan, saat mengajak berkenalan gadis secantik itu!"
"Apa kalian sudah lama berpacaran? Atau baru-baru ini?"
"Mengapa kamu tidak pernah menceritakan pacarmu yang cantik itu pada kami?"
"Kana kau ini memang pandai memilih, tak disangka kau ternyata gerak cepat juga!"
"Ayah Bunda, bisa diam tidak?" ujar Kana, mencoba memberhentikan berondongan pertanyaan yang dilontarkan kedua orang tuanya tentang Kim. Bahkan orang tuanya itu tidak bisa berhenti bicara sejak keluar dari ruang rawat Kim sampai menuju ruangannya.
Tentang Kim? Dia bahkan baru mengetahui nama gadis itu tengah malam tadi. Apakah dia harus jujur memberitahukan semua itu pada kedua orang tuanya? Tidak! Ayahnya mempunyai penyakit jantung, dia tidak mau kehilangan orang tua menyebalkannya itu lebih cepat.
"Ah kau ini Nak, Ayah sama Bunda sungguh bersemangat, nanti kalau siapa namanya? Ah ya, bahkan aku belum mengetahui nama calon mantuku!" ujar Tuan Akara sedikit menyesal.
"Kim!" jawab Kana, seolah Kim benar-benar adalah calon istrinya. Semakin lancar saja di berdusta.
"Yah Kim, benar, nanti kalau Kim sudah sehat, kau harus memperkenalkan secara resmi pada kedua orang tuamu ini, kami akan berakting seolah-olah Ayah dan Bunda memang baru saja melihatnya di pertemuan pertama, kau jangan bilang ya tadi Ayah dan Bunda menjenguknya!" ujar Tuan Akara antusias, sembari berjalan menuju ruangan putranya. Ah sungguh senangnya hati...
"Iya Ayah, Bunda setuju, duhhh Bunda sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan gadis itu, dengan Kim!" Bundanya pun tak kalah antusias.
Ya Tuhan... Aku salah, aku bersalah... Ini gila? Ini gila... Matilah aku... Batin Kana frustasi.
Bersambung...
__ADS_1