Jerat Cinta Dokter Duda

Jerat Cinta Dokter Duda
Rencana Kana untuk Raka.


__ADS_3

"Raka?"


Dian mengangguk, seraya senyum malu-malu dia mulai menjelaskan kalau dia dengan pria bernama Raka yang juga adalah seorang dokter itu saat ini sedang terlibat perjodohan. "Apa... Pak Dokter mengenalnya, katanya dia juga bekerja di salah satu rumah sakit ternama di kota ini, maaf merepotkan tapi aku benar-benar harus tau orang seperti apa yang akan menjadi suamiku nanti!"


"Kenapa tidak mengajaknya bertemu?"


"Keluarga Raka menganut paham yang sangat aneh menurutku, masa iya kami tidak boleh mengetahui wajah kami masing-masing, katanya aku sudah pernah bertemu dengan Raka saat aku masih kecil dulu, tapi kalau dulu bukankah wajar jika aku tidak lagi mengingatnya?"


"Masa? Papa Irfan bilang gitu?" Kim mendekatkan wajahnya, dia kepo.


"Hemmm..." Dian mengangguk, "Ah Pak Dokter, Pak Dokter tidak mengenalnya yaaa, namanya Raka Bagaskara, aku juga tidak tau dia bekerja di rumah sakit ternama apa, sungguh perjodohan ini lebih mirip membeli kucing dalam karung!"


Kana mengangguk, dia menatap Kim kemudian tersenyum, "Ku rasa aku bisa membantu!"


"Benarkah?"


"Pak Dokter tau orangnya?"


Tanya Kim dan Dian bersamaan, keduanya memasang wajah penuh harap.


"Kapan kau ingin bertemu dengannya?" tanya Kana pada Dian. Dia kali ini serius, sebisa mungkin menahan gelak tawanya, dalam hatinya sungguh geli.


"Aku... Aku tidak ingin bertemu, dia sudah agak tua, aku tidak siap untuk bertemu." Dian menggeleng cepat, aaahhh tidak terbayangkan olehnya akan menemui calon suami yang katanya berusia sudah hampir kepala tiga itu.


"Begini saja apa Pak Dokter bisa menjelaskan dia itu orang yang seperti apa, apa wajahnya sudah terlihat tua, katanya dia tampan tapi aku tidak percaya, apa dia orang yang suka ngatur, atau... Aahhh, aku rasa aku sudah terlalu banyak bertanya, tentunya Pak Dokter tidak akan mengenali Raka Bagaskara sampai sejauh itu..." Dian melirik Kim sebentar, "Tapi aku benar-benar butuh gambaran pria itu, foto? Apa Raka punya akun sosmed, aku mencari dengan nama Raka Bagaskara namun tidak ketemu!" pinta Dian, dia sudah memikirkan ini sedari semalam, keinginan tersimpel menurutnya.

__ADS_1


"Ekhmm!" Kana semakin bersemangat, kini dia tau kartu sahabatnya itu, tentunya bisa untuk dia mengerjai Raka.


Namun kedua gadis ini sepertinya akan memiliki nasib yang sama jika dia berhasil menikahi Kim nanti, sama-sama akan mendapatkan pria yang sudah berumur. Masih untung Dian yang mendapatkan Raka yang belum pernah menikah, sedang Kim? Aahhh, memikirkannya membuat Kana tidak percaya diri.


"Aku tidak punya fotonya!" bohong Kana, namun langsung bantah oleh Kim.


"Bukannya waktu itu Pak Dokter pernah bilang harus menggantikan teman Pak Dokter, kalau tidak salah namanya juga Raka kan?"


"Apa itu Raka yang sama?" selidik Kim.


"Aahhh itu... Yah, memang Raka yang itu, tapi aku benar tidak punya fotonya!" jawab Kana masih beralasan.


"Oohhh, begitu..."


"Ya, benar!"


Dian tersenyum puas, kenapa semudah ini? Dia pikir dia akan benar-benar akan melihat tunangannya itu pertama kalinya di hari-H. Meskipun baru tunangan tapi kalau tidak cocok tetap saja akan sulit untuk membatalkan pernikahan. Sepertinya keluarga dari pihak Raka benar-benar bisa membaca situasi.


"Apa Pak Dokter bisa memfoto pria itu untukku, nanti kirim saja fotonya pada Kim!"


"Iya, aku juga setuju itu!" sambung Kim menyetujui.


"Emmhhh..." Kana tampak berpikir, "Baiklah, akan aku coba!"


"Ah ya Pak Dokter, Raka itu orangnya seperti apa, maksudku sifatnya?" Dian yang penasaran ingin sekali mengulik berita, Kim pun juga ikut menyimak.

__ADS_1


Kana tersenyum puas, hatinya tergelitik, baiklah saatnya beraksi pikirnya, hitung-hitung membalas drama surat cinta kemarin.


"Dia orang yang cukup sering membolos, kami tim satu bahkan sering kali terlibat untuk menggantikannya tiba-tiba, seperti hari itu!" jawab Kana, untuk hal ini entahlah dia harus menyebutnya membual atau tidak, karena Raka juga memang sering mendadak minta digantikan olehnya. Tentunya alasannya bermacam, kadang membuat Kana tak habis pikir.


"Benarkah? Dia sungguh tidak disiplin?"


"Whoaaa, bagaimana dia bisa menyebut dirinya seorang dokter, bekerja saja banyak tingkahnya!"


"Dia juga sering ke klub malam, beberapa perawat juga pernah dipacarinya secara terang-terangan!" dan yang ini juga sepertinya tidak bohong, karena memang begitu adanya. Aahhh niat untuk berbohong membeberkan keburukan Raka sepertinya bisa dilakukan dengan lancar, tanpa didasari dengan dusta pun Raka memang sudah jelas yang terburuk. Satu-satunya hal yang bisa diambil olehnya selama berteman dengan Raka mungkin hanyalah karena lelaki itu setia kawan.


Setia kawan itu memiliki arti yang luas, contohnya saja saat SMA dulu, meskipun banyak orang yang mengatakan dirinya anak yang aneh, tapi Raka tetap berpihak padanya, sahabatnya itu sama sekali tidak pernah mencoba untuk membuktikan sesuatu, menyangkal pun tidak, alih-alih menjelaskan bahwa Kana adalah anak yang normal, Raka malah justru bersikap nyeleneh, sehingga tak lama dia pun juga di cap sebagai anak yang aneh.


Pernah juga waktu itu, saat Sisil menyatakan cinta padanya untuk yang kesekian kali, Kana selalu menolaknya, saat orang-orang semakin percaya bahwa dia memang memiliki gangguan, Raka malah mendukung semua keputusannya, tanpa bertanya mengapa alasan dia menolak. Raka hanya berkata, 'Setiap orang memiliki kepala yang berbeda, lakukan seperti apa yang mau lo lakuin, hidup lo, Lo sendirilah yang paling tau!'


Orang-orang di kampus mereka bahkan pernah mengecap dirinya dan Raka adalah pasangan gay, alih-alih menyangkal, Raka malah membiarkan. Katanya, 'kita hanya memiliki satu mulut, terlalu letih untuk menyangkal semua yang berucap, namun kedua tangan ini, lebih baik kita gunakan untuk menutup telinga, anggap saja kita tidak pernah mendengar apapun'.


Namun karena terus menerus seperti itu, waktu itu Tuan Akara, Ayahnya menyalahkan Raka yang terus menempel padanya, apa lagi melihat sikap dirinya yang hanya memiliki Raka sebagai teman, tidak pernah terlibat pada satu pun gadis, membuat orang tuanya pun mulai merasakan ketakutan itu, ketakutan yang dianggap Kana sangat tidak mendasar. Memangnya dia apa, sampai harus memiliki hubungan terlarang dengan Raka?


Karena hal itulah juga dia memutuskan untuk menerima Sisil, dan Raka pun terus mendukungnya, sahabatnya itu sebenarnya hanya menyetujui apapun yang dirinya lakukan. Dan karena Sisil jualah, gosip yang beredar tentang mereka terbantahkan.


Kana tersenyum membayangkan betapa gila pertemanannya dan Raka selama ini. tanpa sadar bibirnya melengkung sempurna, apa jadinya jika dia membeberkan fakta seorang Raka Bagaskara yang dinilainya hanya ada keburukan. Pasti sangat menyenangkan jika gadis ini menolaknya, mengingat selama ini Raka termasuk anak yang aktif sekali, mudah sekali membuat banyak wanita jatuh pada pesonanya, buaya darat itu sudah seharusnya mendapat pelajaran kan, pikir Kana bersemangat.


"Pak Dokter..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2