
“Dokter yang waktu itu? Yang lo bilang ganteng banget itu? Gimana ceritanya coba? Lo nggak ngarang kan?” histeris Dian, bahkan beberapa orang melihat ke arahnya karena dia menanyakan itu pada Kim dengan setengah berteriak.
Tidak menyangka, benar-benar terkejut, bahkan saat di pertemuan kemarin keduanya terlibat biasa saja, siapa yang tau kalau akan sejauh ini?
Kim mengangguk pasti, sungguh bangga atas pencapaiannya.
“Ceritain dong? Ah, gue nggak percaya!” ujar Dian lagi.
“Kalau lo nggak percaya lo bisa ke apartemen gue pulang ngampus, kita tungguin dan buktiin!” tantang Kim percaya diri. Tentunya dia harus memamerkan pacar barunya, padahal dia belum tau saja kalau hari ini bahkan Kana harus lembur.
“Whoaaa, liat lo seyakin ini keknya lo bahkan udah move on dari Ryan.” tebak Dian.
Kim mengangguk lagi, “He’em! Gue ikutin saran lo waktu itu, keknya gue emang harus segera membuka hati!” tutur Kim.
Yah, memang sudah seharusnya dia meninggalkan Ryan, apa lagi mendapatkan pengganti sesempurna Kana, Dokter Kana itu benar-benar contoh pria sempurna.
“Hilih, gaya lo!” tapi meski begitu, Dian tetap saja senang, jika dari penilaian Dokter Kana termasuk orang baik, sopan, ramah, dan yang terpenting lebih tampan dari Ryan, seorang dokter mungkin juga lebih kaya dari Ryan. Ahhh, salah Ryan kan juga bukan orang yang kaya-kaya amat, buktinya aja sering morotin Kim, Kim aja yang beg* mau aja ketipu.
“Lo jangan cemburu ya entar! Jangan yaaa!” goda Kim.
“Dih siapa yang cemburu! Dasar narsisme!” merangkul Kim, kemudian membawa gadis itu menuju kantin.
“Yakin nggak cemburu, dia ganteng banget lho...”
"Nggak bakalan, gue nggak doyan sama punya orang, apa lagi punya sahabat gue!" sahut Dian. Lagi pula dia sudah dijodohkan, mau ngejar cowok setampan apapun kalau jodohnya udah di takdirin sejak bayi, dia bisa apa? Dari pada capek-capek nggak guna, mending nurut aja, bokap nyokapnya memang sayang kebangetan sama dia, sampe suami aja dipilihin.
“Eh, tapi kan lo bilang dia duda, lo yakin dia emang seperfect yang lo ceritain?” tanya Dian lagi, saat keduanya sudah sampai di kantin.
“Gue yakin, lagian cuma buat pacaran doang ya nggak papa kali, duda juga oke buat cari pengalaman!”
“Kana itu dokter, lo tau kan bahkan kita udah buktiin no tipu-tipu, gue udah pernah jadi pasiennya!”
__ADS_1
“Iya iya... yang lagi kasmaran mah nggak bisa dikasih tau apapun, baginya tetep ayang beb number one!”
“Huh, sirik aja lo!”
Lalu keduanya tertawa bersama. Dian, meskipun dia belum bisa mempercayai Kana sepenuhnya namun baginya itu lebih baik ketimbang Kim selalu berfokus pada Ryan, karena sudah jelas kalau Ryan bukanlah cowok baik-baik.
...***
...
“Ada apaan sih?” selidik Raka, ia melihat semburat kemarahan di wajah Kana. Sebenarnya sudah bisa menebak alasan wajah menyeramkan sahabatnya itu, tapi ya tau lah Raka tetep aja mau nanyain.
“Kayaknya mereka senang-senang aja deh!” geram Kana.
“Hemmm! Mungkin nggak ada alasan buat mereka nggak bahagia!” jawab Raka, yang nampak semakin menyulut emosi Kana. Dia memang sengaja melakukan itu, supaya Kana bisa lebih merasakan kebencian terhadap Sisil, supaya tidak ada lagi sisa-sisa cinta yang Kana simpan untuk mantan istrinya itu.
Karena Raka sungguh tau bagaimana Kana merasa diri khianati, tidak ada di dunia ini yang mau ditinggal saat sedang sayang-sayangnya. Kana cukup memahami itu, karena dia adalah salah satu orang yang menjadi saksi kehidupan Kana.
Dunianya yang terlalu berpusat pada Sisil, membuatnya mengakui kalau selama ini dia telah menjadi orang yang paling bodoh.
“Udah lah Ka, lo kan udah dapet Kim, lebih cantik, lebih muda, beeehhh apa itu Sisil?” ucap Raka mengompori. Dan memang benar sih, kali ini dia berada di tim Kim pokoknya.
“Dosa nggak sih kalau gue jadiin Kim pelampiasan?” tanya Kana.
“Dosa! Pacaran aja dosa, apa lagi pacaran dan ngenjadiin anak orang pelampiasan, dosa kuadrat lo!” jawab Raka dengan mode ustadz-nya.
“Sialan lo!” Kana menendang kaki sahabatnya itu.
“Nah bener kan! Jangan berani-berani lo ya jadiin itu anak orang pelampiasan, gue rela punya istri dua kalau lo sakitin Kim!" ancam Raka.
"Maksud lo?"
__ADS_1
"Itu anak orang Ka, dilahirin, di rawat, di jaga sepenuh hati, eh lo dateng-dateng mau nyakitin, kalau lo nggak beneran mau gue siap kok nerima Kim!"
"Anj*ng lo emang! Awas aja kalau lo sampai suka sama Kim!" ancam Kana, matanya syarat akan permusuhan.
“Ya kalau gitu halalin dong, sesuai permintaan Tuan Akara, bukanya Bonyok lo emang maunya lo kawin sama itu cewek!”
“Hah? Gila lo ya, lo pikir seneng-seneng aja gitu, baru juga semalam gue jadian sama dia, eh udah ngajak nikah aja!” protes Kana tak setuju. Sejujurnya meskipun ingin karena menikah dengan Kim adalah juga hal yang bisa membahagiakan kedua orang tuanya, namun Kana benar-benar merasa belum saatnya memikirkan itu, masih sangat jauh minimal tiga bulan kedepan lah kalau mau ngelamar Kim, itupun kalau hubungannya dan Kim berlanjut sampai tiga bulan kedepan dan tentunya jika Kim mau dirinya nikahi.
“Lo sebenarnya ada rasa nggak sih sama Kim?”
“Gue?”
“Iya lo! Masa gue! Mau gue aja nih yang ngawinin Kim?"
"Asshh, maruk banget lo, udah dijodohin juga masih aja jelalatan!"
"Ya wajar lah jelalatan kalau ceweknya modelan Kim, beuuhhh bodynya..."
"Plakkk! Berenti nggak lo ngomongin Kim, pacar gue itu, lo mau mati hah?" Kana menampar kasar pipi Raka, Raka sampai meringis, namun tidak apa, dengan begitu Raka bisa tau kalau Kana memang mempunyai rasa untuk Kim.
"Kejam amat Pak!"
"Ya lo sih!"
“Gue saranin ya, kalau lo emang nggak ada rasa, stop aja udah, anak orang Ka!”
“Gitu ya?”
Kana tampak berpikir, perasaan... Sebenarnya jika ditanya tentang perasaan, mungkin Kana belum bisa mengakuinya, namun jujur saja saat bersama Kim dirinya merasa nyaman, jantungnya suka sulit dikondisikan setiap berdekatan dengan Kim, bahkan dia yang tidak pernah peduli dengan orang lain pun malah bisa-bisanya dengan suka rela membantu Kim. Apa itu yang dinamakan cinta? Dan juga mengapa saat Raka memintanya untuk menyudahi saja, Kana merasa tidak rela, yah... Mungkin benar, dia sudah ada rasa dengan Kim, takut kehilangan dan tidak akan mudah melepaskan, Kana merasa seperti itu saat ini.
“Gue suka sama Kim!” sahutnya, namun tidak terdengar jawaban dari Raka, karena mungkinkah dirinya terlalu lama berpikir hingga Raka malah sudah meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung...