Jika Aku

Jika Aku
Menyerah


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan aku tidak melihat Papah, Sedikit rindu padanya tapi aku tidak rindu akan perbuatannya padaku. Selama aku hidup tidak ada yang istimewa dari apa yang Papah berikan tapi aku juga bersyukur masih memiliki seorang Papah.


"Absy sayang, Mama mau pergi ke luar kota besok dan buat kamu Mama pesan tetap belajar yang rajin ya supaya Ujian kenaikan kelas kamu berhasil dan lancar"Ucap Mama padaku disaat aku sedang menulis rangkuman.


"Baik Mah, Mama hati-hati disana dan jaga diri baik-baik"


"You to sayang"Mama mengecup puncak kepalaku dengan penuh kasih sayang.


Saat Mama sudah keluar dari kamarku Aku langsung pergi berhadapan kedepan Cermin untuk melihat kondisi wajahku yang rasanya makin sakit dan gatal.



Ilustrasiiii Yaaaa....


"Kapan aku sembuh dari Jerawat ini ?"


"Apa tidak ada kesempatan lagi buat Aku hidup tanpa Jerawat ?"


Semakin hari semakin tidak indah untuk dipandang rasanya aku sudah ingin menyerah dengan semua ini dan memilih untuk mengkuburkan diri hidup-hidup.


....


"Selamat pagi Anak-anak, Mari kita mulai Ujiannya"Kata guru didepan sana.

__ADS_1


"Pagi bu, Baiik"Jawab serentak para murid yang sudah siap melaksanakan Ujian Akhir.


Ujian akhir ini membuat aku risih karena harus duduk berpasangan dan aku bersama wanita yang selalu menghina seluruh fisikku.


"Eh belah sanaan dong!"Pinta wanita itu yang langsung aku Turuti.


"Lo makin hari makin serem deh wajahnya lebih baik lo pake maskernya double deh supaya gak nular"Lanjut Wanita itu.


"Ini jerawat bukan virus"Jawabku.


"Nular jijiknya maksudku Haha"Tawa nya perlahan.


"Kalau bukan karena guru gue ogah deh sama lo yang menjijikan ini, udah jelek eh jerawatan duhh jijayy boss"Katanya sambil memasang muka menjijikan.


Setelah pelajaran selesai Akupun langsung turun kebawah untuk pergi menuju lapang parkiran.


"Eh kayaknya makin parah aja deh tuh orang"


"Iya ih bener, keliatan tuh disela-sela maskernya bentol-bentol"


"Hayu ah Jijik, koridor terkontaminasi"


DEG..

__ADS_1


Hatiku terasa hancur berkeping-keping saat mendengar nyinyiran orang yang semakin sini makin juga menjadi-jadi, Rasanya aku ingin menyerah dan kabur dari keadaan sekarang.


Akupun langsung pergi meninggalkan sekolah menuju Puncak yang berada jauh dari perkotaan dan memilih menyendiri dipinggiran hutan.


"ARGHHHHHHHH"Teriakku sekencang mungkin diikuti oleh air mata yang jatuh dipipi.


Aku merasa sendiri saat ini tidak ada yang mendukungku sepenuh hati selain Mama. Aku ingin seperti orang lain yang normal dalam fisiknya tapi bagaimana lagi ini sudah garisan takdir yang Tuhan berikan padaku.


"TUHANN, Apa ini takdirku yang sebenarnya?, Apa aku gak bisa bahagia?"Teriakanku bergema disunyinya sore hari.


Aku merasa ke-Insecureanku sudah ada diubun-ubun, tadinya aku merasa acuh dan cuek mendengar semua hal yang orang lain sampaikan padaku tapi sekarang aku tidak kuat buat mencoba terlihat kuat.


Senyuman makin hari makin sirna karena omongan orang tapi seandainya aku menyerah apakah akan mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi? Aku akan tetap berjuang untuk sembuh dan membuktikan kepada orang lain tentang sebuah kalimat "FISIK BISA BERUBAH SEWAKTU-WAKTU".


Karena hari sudah mulai gelap aku memutuskan untuk pulang dan mencoba beristirahat dirumah, menenangkan diri sendiri lebih dalam dan tidak ada gangguan dari siapapun.


"Tuan muda mau Bibi bikinkan Makan malam?"Tanya Bibi padaku.


"Tidak usah, Bibi dan yang lain istirahat saja"Aku langsung menaiki tangga dan masuk kedalam kamar.


HALOOO...


THANK YOU YANG UDAH BACA..

__ADS_1


SEMOGA SUKAAAA....😊


__ADS_2