
Dimalam hari setelah makan malam.
"Dek duduk sini" Biru menepuk nepuk tempat disampingnya.
"Iya , mas Biru ada apa" Asa berjalan mendekat dan duduk disamping laki laki yang mulai dicintainya itu .
"Dek setelah ini, apakah kita bisa.... " Biru ingin mengatakan sesuatu namun ragu .
"Iya... " Asa memandang suaminya dan menunggu kelanjutan kalimatnya.
" Aku ingin kita sholat berjamaah , apakah kamu keberatan untuk menjadi makmumku ?
"Kenapa aku harus keberatan apalagi yang ngajak suami aku sendiri "Asa tersenyum tulus
Biru meraih tangan istrinya menggenggam erat, dan menciumnya.
" Rasanya seperti mimpi ya mas, apa yang terjadi pada kita. tiba tiba kita sudah menjadi suami istri aja."
"Iya dek, kita ini hanya manusia , hanya tinggal menjalani apa yang sudah digariskan oleh Allah untuk kita.
" Benar apa yang dikatakan suamiku. Akan aku jalani dan nikmati. apapun yang menjadi takdirku, Sebelum aku terikat, aku ingin merasakan mencintai dan dicintai. Benar benar, akan kunikmati peranku sebagai istri seorang Biru, ku ingin berbakti padanya menyayanginnya mencintainya. Asa trus bermonolog dalam hati.
"Hai apakah kamu kesambet, "
"Dek.. dek... "Biru nenepuk nepuk kedua pipi istrinya yang tak tidak menanggapi semua pernyataannya.
Asa terkejut dan menemukan kesadaranya,
"Maaf, tadi mas Biru ngomong Apa"sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Dek dek ,sebenarnya apa yang kamu pikirkan ? Apakah kamu masih belum sepenuhnya menerimaku dek?
Asa menggeleng menolak anggapan suaminya.
"Aku memaklumi perasaanmu, pertemuan kita yang singkat dan kejadian yang kita alami akhir akhir ini mungkin sulit untuk kamu terima.
Asa memandang Biru dengan mata berkaca kaca.
"Aku bersyukur Allah mempertemukan kita disaat kegelisahanku takdirku. " Asa menyandarkan kepalanya dibahu suaminya yang masih menggenggam tangannya.
"Ingin rasanya aku luapkan rasa cinta ini padamu suamiku, ,tapi aku sadar kebersamaan kita tidak akan lama, aku harus bisa menahan hati ini untuk tidak terlalu dalam mencintaimu, aku takut tidak akan bisa melepasmu.pada akhirnya. Asa mengungkapkan perasaannya dalam hati.
"Malah melamun lagi, Dek apa sih yang kamu lamunkan.hem " Biru memencet hidung mungil Asa gemas.
Asa tersadar dari lamunanya ketika tidak bisa menghirup udara.
"Mas Biru .... sakit hidungku."kata Asa manja sambil melepas tangan Biru dari hidungnya.
"Jangan memikul masalah kamu, seorang diri dek. sekarang ada aku suamimu aku akan selalu mendukung apapun, itu, yang penting itu benar"
Asa memandang Biru dengan dengan penuh rasa haru. meneteslah air mata dipipinya"
Biru menarik tubuh Asa untuk bersandar didadanya dan memeluknya erat
ragu ragu Asa mengikuti tangan Biru untuk membalas pelukan suaminya.
"Rasanya ingin kuhentikan waktu dan trus seperti ini bersamamu"ujar Biru
Andai bisa aku ingin selalu bersamamu. melayanimu, mencintaimu suamiku. Asa membatin.
__ADS_1
:Sekarang kita istirahat ,kita lanjutkan lagi besok, tapi kalau adek ingin inaina dulu aku sudah siap " alis Biru dinaik turunkan menggoda Asa.
"Apa inaina "tanya Asa yang memang tak tau maksud Biru.
"Ah sudahlah kita istirahat saja".Ajak Biru pada istrinya tak ingin menjalaskan lebih dalam, takut dia sendiri yang akan terpancing padalah istrinya bwlum siap lahir batin.
Mereka pun beristirahat dengan saling berpelukan.
Dirumah orang tua Asa
Pak tono baru saja pulang kerumah.
"Bu bagaimana keadaan ibu" tanya pak Tono dengan penuh perhatian.
" Ibu semakin baik pak " bu Denok tersenyum melihat kedatangan suaminya.
""Maaf bu, bapak agak terlambat pulangnya. apakah ada kabar dari putri kita bu. "
"Bapak duduk dulu dan diminum kopinya" dengan sabar Bu Denok melayani suaminya
Mereka duduk diruang tamu, dan Bu Denok menceritakan kedatangan putri mereka dan permintaan Asa, untuk berlibur selama tiga hari. kepada suaminya.
"Maafkan ibu pak, ibu tanpa meminta pendapat bapak dulu,,mengijinkan Asa berlibur bersama teman temanya , ibu tak tega menolak permintaanya pak, karna kita sebentar lagi akan merenggut kebebasan dia pak. " Terlihat mata bu Denok mulai betkaca kaca.
"Tidak apa apa bu, sudah terlanjur juga, meskipun seharusnya tidak ibu ijinkan."
"Bapak hanya khawatir saja, pada putri kita disana bu.
"Kita doakan saja semoga Asa disana baik baik saja pak.
__ADS_1
Bersambung