
Setelah acara lamaran itu selesai , Asa langsung masuk kamar dan mengurungkan diri disana.
Keputusan yang telah dia ambil memang sangat berat baginya Tapi keputusan itu yang dia anggap terbaik bagi semuanya. Sekarang ia hanya bisa menikmati dan mengisi waktu masa masa bebasnya . Sebelum menjalani kehidupan yang terikat dengan seseorang yang tidak dia cintai.
"Masa bodoh dengan perasaanku, yang terpenting ibu bisa sembuh" air matanyapun lolos , meski dia telah berusaha menerimanya dengan iklhas.
Hingga pagi menjelang Asa baru bisa menjembut mimpinya.dan akibatnya, dia bangun kesiangan.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk berulang kali" Asa bangun ... Asa"
tok tok tok
"Asa bangun, ini sudah jam 7 Asa " teriak bu Denok sambil terus mengetuk pintu.
Asa yang sayup sayup mendengar suara ketukan, berlahan dia membuka matanya, dan berusaha mengumpulkan nyawanya, untuk menyadari keadaan. Matanya melihat sinar matahari yang menembus ventilasi kamarnya ,i dan iitu menandakan bahwa hari telah siang.
"Ya Allah, aku kesiangan" Asa bergegas bangun dan menghampiri pintu yang masih setia diketuk ibunya.
"Maaf bu aku kesiangan, "ucap Asa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah lekas mandi, katanya ada jadwal mengambil ijazah disekolahan. "sambil mengusap kepala putrinya. Bu Denok meninggalkan putrinya, kembali dengan kedapur.
"Oh iya aku lupa " Asa menepuk keningnya ,, ia bergegas mengambil handuk dan masuk kekamar mandi.
Terlihat Asa sudah siap dengan seragam putih abu abunya.
"Kamu sudah siap nduk?" bu Denok tersenyum memandang putri kecilnya yang sudah remaja terlihat cantik namun masih terlihat imut, menghampirinya dan nglendotan .
"Asa , cepat berangkat, kok malah glebdotan , seperti anak kecil" dikecupnya kening putrinya gemas.
Terbayang putrinya harus menikah dengan orang yang sebaya dengan suaminya . meneteslah airmata dipipinya.
"Ada bu apakah dada ibu sakit, apa yang ibu rasakan " Asa panik melihat ibunya menangis.
Diambilnya tangan Asa dan dikecupnya sayang. "Ibu baik baik saja, ibu bahagia melihat putri ibu sekarang , sudah besar dan semakin cantik.
__ADS_1
"Heem, syukurlah kalau ibuk tidak apa apa. Asa berangkat dulu bu, doakan selalu putrimu ini ibu " diambilnya tangan ibunya dan menciumnya penuh rasa hormat.
Asa berlari menuju jalan besar yang dilalui angkutan umum.
Karna kesiangan sudah banyak angkutan yang terlewat, sehingga Asa harus menunggu lebih lama.
......................
Sementara itu Biru yang juga kesiangan, tidak sempat untuk sarapan dirumah, dia mampir disalah satu rumah makan, tak jauh dari tempat Asa menunggu kendaraan umun.
"Sepertinya , aku tak asing dengan postur tubuh gadis itu." Biru semakin mempertajam penglihatanya , dan dia yakin denfan tebakannya.
"Kenapa hatiku berdebar debar ya, setiap ketemu gadis ingusan itu. "
Biru segera menyelesaikan makannya, karna penasaran dengan ingin mendekati Asa.
Dihampirinya Asa yang berdiri menunggu, kendaraan yang akan mengantarkannya kesekolah.
"Hai gadis ingusan" sapa Biru drngan nada mengejek.
"Oooo kamu ternyata masih smu, pantas manja , dan gegabah. "sindir Biru .
Asa menatap malas pada biru.
" Kenapa sih harus ketemu dengan cowok ini sih " batin Asa Sebal.
"Bukan urusanmu, jauh jauh sana jangan dekat dekat denganku" hardik Asa beringaut agak jauh.
"Oky oky tak masalah, tapi jangan lupa kamu masih punya hutang padaku. " Biru mendekati Asa.
Kenapa semakin dekat dengan gadis ingusan ini, dadaku semakin berdebar seakan ingin meledak.
"Hutang apa, bukankah uang kemarin dikasihkan ya, "batin Asa. namun tiba tiba Asa teringat dengan kemeja yang kena ingusnya.
"Sudah teringat hutangmu padaku,hem?
"iya aku ingat, masak kamu tidak mau mengikhlaskanya saja"nego Asa agar tidak harus mencuci kemeja cowok dihadapannya ini.
__ADS_1
"Tidak bisa, kamu harus memenuhi hutang mu itu, aku nggak mau tahu kamu harus membayarnya. " eyel Biru.
"Tapi kalau sekarang aku tidak bisa aku harus kesekolah, aku masih ada urusan disana, bagaiman kalau lain waktu,? Asa mencoba menghindari tanggung jawabnya.
"Oky, aku juga tidak minta, kamu mengerjakan sekarang.
Asa tersenyum, dengan ide liciknya. "Setelah ini aku akan sembunyi, jika melihat cowok resek ini. " Asa membatin.
"Bolehkah aku mengantarmu, kulihat tak ada kendaraan umum, yang lewat dari tadi. Tapi jangan Gr dulu aku hanya ingin membantu kamu sebagai sesama manusia. " alasan Biru supaya tidak dicurigai ingin berbuat yang tidak tidak.
"Tidak usah , nanti kamu minta imbalan ." cicit Asa
"Ya sudah, kalau memang tidak mau aku tidak memaksa," Biru berbalik dan melangkah menuju sepedanya seakan tak perduli dengan Asa lagi. Namun tiba tiba.
"Tunggu aku ikut denganmu. " Asa berlari menghampiri Biru yang mulai menyalakan motornya .
"Gitu aja tadi jual mahal, sekarang. "
"Sebenarnya kamu ikhlas tidak sih menolong aku. " gerutu Asa
"Iya iya gitu aja ngambek, cepat naik jangan lama lama mikirnya." goda Biru.
"Iya... " jawab Asa lirih
Diperjalanan tidak ada komunikasi apapun selain pertanyaan dimana sekolah Asa.
Setelah sanpai di tempat tujuanya yaitu sekolahan Asa mereka berhenti , Asa segera turun dan masuk tanpa menoleh kepada Biru.
"Terima kasih, tumpanganya" teriak Asa sambil berlari masuk kepintu gerbang sekolahannya menjauh dari Biru.
"Dasar gadis ingusan ,tapi manis juga, " Biru geleng geleng kepala melihat tingkah Asa seperti Anak kecil.
Tidak ingin lebih kesiangan , Biru melanjutkan perjalanannya , dengan senyuman yang terus tetukir diwajah tampannya.
bersambung
:
__ADS_1