
Bu Aisyah dan bu Denok mengandeng Asa menuju tampat , dimana akan diadakanya, prosesi ijab qobul.
Dada Asa berdebar debar tak karuan, memikirkan yang akan terjadi,.Ingin rasanya lari sejauh mungkin, namun apa daya , takdir telah nenuntunnya, kearah sini.
Didepan mereka, telah hadir seorang penghulu , dan dua orang saksi sebagai pelengkap syarat nikahnya.
Dengan berjalan tertunduk, Asa dituntun bu Aisyah,, sebagai istri pertama, untuk duduk disamping calon suaminya.
Pak Tono, memandang putri semata wayangnya , yang telah duduk disisinya. Terasa nyeri didadanya , mengingat ketidak mampuannya, sebagai seorang suami melindungi istrinya sehingga harus mengorbankan, perasaan buah hatinya. Diusapnya titik air yang ingin keluar dari disudut matanya,dan .diraih tangan putrinya.
"Asa apakah kanu sudah siap " Ragu ragu pak Tono bertanya lirih.
Asa mengangkat kepalanya, dan tersenyum, Memandang laki laki paruh baya, yang menjadi ayahnya. Dipandangi tangan yang dipegang ayahnya.
"Sebentar lagi tangan ini akan melepas genggamannya, dan akan menyerahkannya pada pria paruh baya lain, namun sebagai seorang suami. " Batin Asa miris.
Asa tersenyum samar dan mengangguk, untuk isyarat bahwa ia sudah siap.
"Ya Allah ampuni aku , aku harus melakukan ini dan menghianati pernikahanku dengan Mas Biru."
"Maafkan aku mas , aku tidak berdaya. Semoga kamu mengerti keadaanku , cepat melupakan aku, dan meraih kebahagian, meski tidak dengan aku. Kupasrahkan semuanya kepadaMu, wahai Dzat Pembuat takdir " monolog Asa dalam hati.
Dan tiba tiba,
sah sah sah
Asa sedikit terkejut , Karna sibuk dengan lamunannya sendiri. Luruh sudah air mata, yang dia tahan sejak tadi untuk tidak keluar.
__ADS_1
Penghulu memerintahkan mempelai wanita untuk mencium tangan suaminya. dan balasanya pak Iwan mencium kening Asa. Semakin deras air mata mengalir dipipi Asa.
Bu Denok mendekati Asa, menyerahkan tisu untuk menghapus air matanya. Ketika, penghulu akan mendoakan doa pernikahan, semua hadirin ribut, melihat pengatin perempuan luruh kelantai, pingsan.
Bu Denok dan pak Tono dan dibantu kerabat lainya, mengangkat Asa untuk dibaringkan dikamar .
Pak Tono memandang putrinya, dan menciumnya.
"Bu, bapak, akan kembali melanjutkan acara, ibu jaga Asa, " Pak Tono melangkah keluar kamar Asa, dan ketemu istri pak Iwan yang juga panik menyusul , didepan pintu kamar Asa.
" Bagaimana, keadaan Asa Pak"
Pak Tono memutar kepalanya, kembali melihat putrinya yang masih berbaring pingsan.
"Ibu Aisyah bisa lihat sendiri, Asa masih pingsan." jawab pak Tono Agak ketus, karna panik dengan keadaan Asa dan melanjutkan langkahnya , menuju tempat prosesi pernikahan, yang sempat tertunda.
Pak Iwan nemandang sahabatnya, keluar sendiri dari kamar Asa, bangkit ingin menyusul, namun dilarang pak Tono,
Akhirnya prosesi pernikahan selesai meski dengan tanpa mempelai perempuan.
Didalam kamar,
Bu Denok dduduk disamping kepala Asa, dan memberikan minyak kayu putih , dibawah hidung Asa.
"Nduk sadar nduk, ndukk" bu Denok trus berusaha membuat Asa sadar, dibantu bu Aisyah yang memijat tangan Asa pelan.
Perlahan Asa membuka matanya, dia melihat ibunya tang tetlihat cemas, sedang membuka aksesoris yang dipakainya.
__ADS_1
" Nduk, kamu sudah sadar " bu Denok membantu Asa, yang ingin duduk bersandar, dibantu bu Aisyah disebelah lainya.
Bu Denok menyerahkan air minum kepada Asa, dan meminumkanya.
"Apa yang terjadi dengan Asa buk, " memandang ibunya, dan dan juga juga bu Aisyah, yang duduk mengelilinginya.
"Kamu tadi pingsan , setelah ijab qobul" jawab bu Denok
" Untungnya ijab qobulnya sudah selesai," ucap bu Aisyah lirih.
Asa dan bu Denok saling pandang mendengar, perkataan bu Aisyah.
Diambang pintu terlihat pak Tono disusul pak Iwan dibelakangnya, memasuki kamar.
"Bagaiman keadaan Asa bu" Pak Tono mendekati putrinya dengan cemas dan duduk disamping bu Denok.
Bu Aisyah memberi tempat pada suaminya, agar lebih dekat dengan Asa. Pak Iwan bimbang untuk mendekat. namun, Bu Aisyah menganggukan kepalanya, seakan memberi kode , untuk tidak ragu.
" Alhamdullilah, Asa sudah sadar pak, " bu Denok memandang suaminya
"Bagaimana, apa yang kamu rasakan nduk, . Apakah kamu sakit," Pak Tono sangat kawatir melihat putrinya sedikit pucat.
tok tok tok
Terdengar pintu diketuk dari luar.
dan terlihat seorang petugas kesehatan, meminta ijin untuk masuk.
__ADS_1
"Maaf bapak ibu boleh saya masuk, dokter itu melangkah mendekati tempat tidur, dimana Asa berada.
Bersambung