Jodoh Dan Cinta

Jodoh Dan Cinta
Mencoba lolos


__ADS_3

Setelah usaha yang dilakukan, Biru dapat memegang alat komunikaai pintar miliknya.


"Akhirnya... , aku harus segera menghubungi pak Amir, supaya cepat melepaskan aku dari brandalan brandalan ini. " guman Biru lirih.


Tapi ketika akan menggunakan hpnya, Biru baru sadar, akan mustahil melakukannya, dengan tangan terikat dibelakang, padahal dia harus melihat layar jika ingin menggunakan benda tersebut.


"Bagaimana aku melakukannya, apa aku pencet sembarangan saja ya.? " Biru terus berdialoq dengan hatinya.


Biru mulai putus asa, dengan usaha yang dilakukan , namun tetap tidak membuahkan hasil.


Biru terus menggerakan tangannya, berusaha sedikit mengendurkan tali yang mengikat tangan dan tubuhnya, sampai membekas merah pada pergelangan tangannya. . Tiba tiba terbersit ide dalam otaknya yang sudah lelah dengan ide ide yang tak masuk akalnya.


" Hai hai "Biru memanggil preman yang sedang menungguinya, terlihat seringaian tipis dari wajah Biru.


"Hei hei, namaku bukan hai, perkenalkan namu otot kawat,.. " belum sempat preman itu meneruskan.


"Hahaha Kayak Gatotkoco" Biru spontan tertawa dengan nama preman didepannnya.


"Diam kamu, " bentak preman bernama Otot dengan angkuhnya.


"Hai tot ,kenapa kamu beritahukan namamu, bagamana jika dia melaporkanya pada polisi. " tegur teman Otot yang merasa kawatir jika idenritasnya diketahui sadranya.


"Alah jangan kawatir kamu Jo, dia nggak akan bisa lapor, lawong dia masih kita sandra, iya to, hehehe"


"Terserah kamu saja, " preman yang dipanggil Jo, melanjutkan permainan gamenya di hpnya.


" Ada apa kamu memanggil , tidak usah banyak tingkah" jawab preman bernama Otot, itu malas,


"Aku ingin kekamar mandi, aku ingin. buang air besar. , " Biru membuat wajahnya seakan menahan sesuatu.


" Kamu tidak usah membohongi aku, kamu pasti mencari cara ingin kabur kan? jangan harap aku akan mengijinkannya"


" Tak masalah sih, jika tak kalian ijinkan, tapi.... jangan salahkan aku jika aku barus ber4k disini. " jawab Biru santai.


" Sudah ijinkan saja, daripada kita kena semprot sama bos. " sela preman bernama Jo, memberi saran pada temannya.


"Okylah kalau begitu. " segera dia mendekati Biru.


" Sekarang kamu masuk kamar mandi, aku akan mengikutimu" preman itu membuka ikatan yang ada ditubuh Biru namun masih menyisakan ikatan ditangan Biru.


Biru berdiri, melangkah kearah kamar mandi yang ada dikamarnya.namun berhenti didepan pintu.


"Sekarang kamu lepaskan celanaku! aku sudah tidak tahan. " ucap Biru seakan memerinta anak buahnya.

__ADS_1


"Memangnya kamu anak kecil, tidak bisa melepaskan celana sendiri. enak saja main perintah situ bukan bos aku " ucap preman itu sebal.


"Mata kamu buta ya, tanganku kau ikat, bagaimana aku bisa melepaskan celanaku. Kamu bidoh apa buta sih. " Biru gemas dengan tingkah preman disampingnya.


" Preman kok tulalit" batin Biru.


"i iya ya tapi nanti jika aku lepas kamu akan kabur" preman ini sedikit curiga dengan Biru.


" Bagaiman aku kabur teman teman kamu banyak, pasti aku gampang tertangkap, rugi kalau harus lari lari "


" Sudah lepaskan saja ikatannya nanti kamu ukuti dia kedalam ." usul temannya yang selalu memainkan hp nya.


"Enak saja, aku bisa lihat pisang tidur dong, emang gue tekong" mengikuti gaya lelaki gemulai.


"Dia ini preman , mafia atau apasih kok kelakuan kayak...? " bantin Biru melihat kekonyolan preman satu ini.


Preman bernama jo melihat preman Otot , hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Dia lepaskan ikatan tangan Biru sedikit agak kasar.


"Sekarang ikatanmu sudah lepas, cepat masuk, jangan macam macam kamu nanti didalam, jangan mencoba kabur! "


Biru berjalan agak kesusahan dan terlihat aneh, karna hp yang dia sembunyikan dalam kolor celananya malah jatuh kedalam cdnya, supaya handphonya tidak jatuh. Biru berjalan sedikit mengangkang untuk mempertahankan hpnya tetap berada didalam celananya.


Setelah sampai di dalam ,segera Biru mengambil handphonnya dan segera menyalakannya.


"Alahmdulillhah, "segera Biru mencari nomor pak Amir, dalam panggilan cepat,


tut tut tut


Pada panggilan pertama dan kedua tidak diangkat. Biru sadar sekarang masih terlalu dini untuk menghubungi seseorang, namun dia harus melakukannya. Dan pada ada panggilan yang ke tiga terdengar diangkat.


"Halo " Sapa Biru dengan suara lirih


"Hallo siapa ya ini" terdengar suara perempuan, menjawab panggilan Biru.


"Saya Biru, tolong saya ingin bicara dengan Pak Amir." Biru gelisah.


"Iya Hallo" suara pak Amir masih terdengar khas bangun tidur.


"Hallo pak Amir, saya Biru, tolong.. " hp Biru padam.


Biru memencet hpnya dengan gusar,ternyata batreyna habis.

__ADS_1


" Heem cobaan apalagi ini. " tanpa sadar Biru meninju tembok yang ada didepannya.


tok tok


"Hai aoa yang kamu lakukan, Apa kamu ingin bunuh diri. " terus menggedor pintu kamar mandi.


Biru sadar kelakuannya membuat curiga preman yang ada dikamarnya.


"Aku terpeleaet" Biru membasahi bajunya untuk memperkuat alasannya.


""Cepat keluar tidak usah banyak alasan. Jika aku hitung sampai lima, kamu tidak segera keluar jangan kaget jika ada bogem melayang"


Biru segera menyembunyikan hpnya.


"Ternyata perjuanganku masih panjang ,untuk lolos dari mereka. "


Perlahan Biru membuka pintu, dan berlagak kesakitan karena terjatuh.


"Cepat kamu duduk disitu gitu aja mengeluh, cemen. " preman Otot menunjuk kursi yang biasa dipakai Biru, menyelesaikan kerjaan, yang dia bawa pulang.


Biru melangkah dengan malas, duduk dengan pasrah,,diikat kembali oleh preman Otot.


"tidak usah diikat, aku tidak akan kabur" Biru berusaha bernegosiasi.


"Diam ! tidak usah banyak cing cong.


"Cukup diam dan menurut dijamin kamu selamat. " preman Otot menjauh dari Biru, dan merebahkan tubuhnya ditempat tidur Biru.


" Jo, Kamu jaga dia dulu , aku mau istirahat sebentar" Wajah preman Otot menunjuk pada Biru.


"Iya nanti gantian" Preman Jo kembali memaninkan gamenya, tanpa memandang lawan bicaranya dan fokus pada hpnya.


...----------------...


Sementara itu di rumah pak Amir.


Setelah menerima telpon dari Biru. pak Amir menelpon Biru balik, karena sebelum dia tau maksut Biru, telpon sudah terputus.


Berkali kali pak Amir mencoba menghubungi Biru, namun tidak aktif.


"Sebenarnya, apa maksut bos Biru mebelpin pagi pagi begini. Apakah ada sesuatu, atau hanya mau bilang tidak bisa kelapangan."Dalam kebingungannya Pak amir tak sadar mengacak ngacak rambutnya, yang sudah amburadul khas bangun tidur.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2