Jodoh Dan Cinta

Jodoh Dan Cinta
pov pak tono


__ADS_3

Aku adalah seorang suami yang sangat mencintai istri , dan juga anaku.


Aku mempunyai seorang anak perempuan , yang sangat cantik, penurut , dan manja. dia berumur belum genab 18 tahun.


 Istriku wanita yang lemah lembut , dan sangat sabar . selalu setia mendampingiku, ditengah ketidak berdayaanku memenuhi kebutuhan keluargaku .


Istriku tidak pernah mengeluh dan selalu memberi semangat padaku yang terkadang lemah , dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup yang diberikan oleh Tuhan padaku, ditengah penyakit yang jantung yang dideritanya.


Suatu masa, ketika putriku masih berumur 7 tahun istriku tiba tiba pingsan .Ketika itu dia sedang ada di dapur, kami sangat panik karna selama kami menikah istriku tidak pernah menderita sakit yang serius, atau memang aku yang tidak peka, terhadap penderitaan yang dirasakan oleh istriku.


Dengan panik ku bawa istriku, kesalah satu rumah sakit yang ada dikotaku, dan dari pemeriksaan dokter yang ada disana ketika itu, diketahui ternyata istriku menderita penyakit jantung yang agak serius, dan harus menjalani pemeriksaan, dan pengobatan intensif untuk penyembuhannya.


Aku shock dan juga kebingungan . Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja aku harus bekerja tak mengenal waktu , apalagi harus membayar biaya pengobatan istriku, yang tentu tidak sedikit.


Aku terduduk di kursi tunggu rumah sakit , yang tersedia didepan ruang rawat istriku dengan pikiran kalud. sedang Asa yang sedikit banyak tau keadaan ibunya , hanya bisa memandang pintu ruangan dimana ibunya dirawat.


"Ayah, apakah ibu biaa sembuh? tanya Asa waktu itu. Asa takut ibu meninggalkan kita yah" Asa memgang tangan ayahnya dengan mata yang berkaca kaca.


"Kita doakan ibumu, semoga Allah mengangkat penyakit yang diderita ibumu nduk."


Semakin terasa sesak dadanya membayangkan orang yang selalu mendampingi , meninggalkanya,


"Jangan ambil istriku ya Allah, aku tak sanggup jika harus hidup sendiri. aku sangat mencintainya "batinku kala itu dengan air tang menggenang dipelupuk mataku.


 Terlihat pintu ruangan rawat istriku terbuka , dan muncul laki laki paruh baya yang mengenakan sragam putih kebesaranya.


Segera kumenghampiri dokter yang memeriksa istriku.


"Bagaiaman kondisi istri saya pak dokter? " tanyaku dengan penuh kekhawatiran .


"Jangan khawatir pak, istri anda sudah melalui masa kritisnya, tadi hanya serangan jantung ringan. saya harap bapak bisa menjaga istri bapak. jangan terlalu lelah , selalu jaga kondisi mentalnya dan angan banyak fikiran.


"Iya akan saya perhatikan, terima kasih pak dokter. o iya , apakah boleh saya menemui istri saya pak dokter?. tanyaku tidak sabar.


"Silahkan. lalu dokter itu berlalu menuju ruangan pasien lainya.


Kuggandeng tangan Putriku dan segera menemui istri tercinta , diruang rawatnya.


Didalam ruang rawat


Wanita istimewa itu tersenyum lemah melihatku , yang masuk bersama putri kecilnya.


"Ibuk ." Asa menghambur kepelukan ibunya dengan menangis. sesenggukan.


"Bu, jangan tinggalin Asa . Aku takut bu. "


"hik hik ,cepat sembuh ya bu. "


Melihat Asa yang memeluk ibunya dengan sangat erat, membuat istrinku terlihat sesak, kumeraih bahu putriku dan menariknya menjauh.


"Nduk sudah jangan seperti ini, kamu tidak boleh membuat ibumu sedih . kita harus tetap kuat dan tersenyum biar ibumu juga semangat untuk sembuh.


Bersama itu terlihat seorang suster masuk keruangan bu Denok


"Bapak keluarga pasien "?


"Iya, saya suaminya " kujawab.


"Tolong bapak kebagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran perawatan dan tindakan" setelah memberitahu padaku suster tersebut segera keluar dari ruangan.


"Bu, bapak tinggal dulu , bapak akan kebagian administrasi sebentar .Asa kamu tunggui ibumu ya ,jangan kemana mana, bapak akan segera kembali. "


istriku memgangguk lemah.

__ADS_1


Setelah berpesan pada putriku aku segera meninggalkan ruangan menuju bagian administrasi.


Diperjalanan fikiranku gelisah , "Bagaimana akan membayarnya, kemana lagi aku mencari uang sebanyak itu sedangkan Uang seratus ribu yang ku pegang itupun, ku dapat dari hutang tetangga yang iba padaku." Batinku kalut.


Karna fikiran yang tidak fokus.


bruuuuuk


"Maaf maaf saya tidak sengaja, saya lagi melamun, sekali lagi maaf" ku mengucapkan permohonan maaf dengan tertunduk tanpa memandang orang yang kutabrak.


"Tono, kamu Tono kan anak IPS SMU Gajah Maja. "laki laki yang ditabrak pak Tono meraih tangan pak Tono dan memeluknya.


Aku kebingunan tiba tiba dipeluk oleh orang yang aku kira tak kukenal .seketika kumerenggangkan pelukannya, dan memandang secara teliti orang yang memelukku itu.


"K kamu Iwan ? Anak Juragan besi ,iya. " Ingatanku melanglang buana kemasa lalu, dengan teman sebangkuku dulu yang sering membatuku dikala kesusahan. Ku pegang tangannya, dan kami berpelukan untuk mengugkapkan kerinduan seorang teman lama.


Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya.


Aku sesaat melupakan tujuannya menelusuri lorong itu.


"Apa kabar kamu, lama kita tidak ketemu. setelah lulus kamu langsung menghilang, seperti ditelan bumi. " ku tanya temanku itu


"Panjang ceritanya . eh ngomong ngomong, kenapa kamu disini, nglamun lagi , kamu tidak sakit kan?


Iwan memandangku seakan menelisik lewat pandangannya.


"Astaghfirulloh, maaf aku tinggal dulu aku mau kebagian adminiatrasi, istriku sakit, lain waktu kita ketemu dan crita crita, maaf aku tinggal dulu" bergegas pergi setelah menyalami nya.


Setiba di bagian administrasi.


"Maaf mbak saya keluarga, pasien bernama Denok. "


"Baik bapak, ini total biaya sementara, untuk pasien bernama Denok. "petugas itu menunjukan sebuah lembaran berisi keterangan jumlah biaya perawatan seorang pasien.


"Tidak bisa pak, bapak harus membayar paling tidak biaya perawatan dan juga kamar untuk hari ini"


aku kebingungan menjawab petugas tadi karna aku sama sekali tak mempunyai uang harus kemana aku mencari uang sebanyak itu. ditengah kegelisahanku.


tiba tiba


"Suster bayar dengan ini saja biaya keseluruhan pasien atas nama Denok sampai sembuh.


 Ada seseorang yang menyerahkan sebuah kartu kepada petugas.


Aku langsung membalikan badan penasaran dengan orang yang telah melunasi biaya pengobatan istriku.


"Iwan apa yang kamu lakukan " pak Tono bingung.


"bukan apa apa, aku cuma ingin membantu saudaraku yang kesusahan "ujar pak Iwan sambil tersenyum tulus.


" Dari dulu kamu selalu membantuku , meski aku tak bisa membalas kebaikanmu. Terima kasih "ucapku dan langsung memeluk sahabatku itu penuh keharuan.


Setelah menyelesaikan pembayaran , kami berdua berjalan menuju kekamar perawatan istriku.


"Sebenarnya aku malu padamu Iwan, dari dulu kamu tidak berubah selalu baik. tapi. aku....


"Sudah jangan dibahas lagi, aku ikhlas. sekarang dimana, kamar istrimu. "


memandang temanya itu dan menunjuk salah satu kamar yang ada di depannya.


"itu kamanya".


mereka memasuki kamar perawatan bu Denok.

__ADS_1


"Asalamualaikum. "


"Waalaikum salam, jawab Asa dan bu Denok bersamaan.


"Bagaimana keadaan ibu,?


"Sudah agak mendingan pak. "


"oh ya ini teman bapak waktu di SMA dulu bu ". bu Denok memandang laki laki yang ditunjuk suaminya , sedikit mengangguk dan tersenyum.


"Dia yang membantu kita... " belum selesai pak Tono menyelesaikan kalimatnya .


"kenalkan Saya Iwan, teman suamimu , salam kenal, maaf saya harus pamit, tak bisa lama disini , saya masih ada urusan lain, maaf saya harua undur diri.


selanjutnya pak Iwan memeluk pak tono dan berucap


"Maaf aku harus pamit, kita bisa lanjut crita crita dilain waktu. "


Mereka melepaskan pelukan, pak Iwan langsung pergi dengan tergesa.


Pak Tono memandang kepergian temanya penuh haru dan kebagiaan .


"Pak bagaimana tadi, dengan biaya perawatan ibu, kita pulang saja pak, ibu sudah mendingan. "


"Bu semua sudah terselesaikan yang penting ibu sehat".lalu pak Tono menceritakan pertemuanya dengan pak Iwan dan berakhir dibantu pembayaran biaya perawatan istrinya itu


"Alhamdulillah pak, Allah membantu kita lewat teman bapak.


Beberapa kali kejadian yang sama terulang, dimana setiap penyakit bu Denok kambuh , pak Tono kesulitan biaya selalu dibantu oleh pak Iwan.


Suatu saat ketika Asa sudah berumur 17 tahun tepatnya 3 bulan yang. lalu.disaat bu Denok sempat drop dan kritis.


Dan harus melakukan operasi pemasangan ring dan itu membutuhkan Biaya yang sangat banyak, dan lagi lagi temannya itu yang bersedia membantu. tapi untuk bantuan kali ini istri dari sahabatku , memohon sebuah permintaan yang sangat sulit aku kabulkan, karna ini menyangkut kebahagiaan putri semata wayangku. meskipun dia tidak memaksaku menerima permintaannya itu, tapi aku merasa tidak kuasa menolak permintaan .


Dia mengutarakan permintaanya untuk menjadikan Asa sebagai istri kedua bagi suaminya .Dia bercerita bahwa pernikahanya yang hampir 15 tahun belum juga dikaruniai seorang buah hati , itu semua karna dirinya yang sulit untuk hamil. Sudah berbagai cara dan pengobatan yang dia dan pak Iwan lakukan untuk bisa hamil.


Aisyah nama istri sahabatku itu. Dia udah meminta Iwan suaminya untuk menikah lagi tapi Iwan selalu menolaknya. suaminya tetap yakin bisa memiliki anak dengan istri nya itu, tapi sudah sekian lama tetap usahanya belum berhasil.


Aku meminta waktu untuk berfikir dan memusyawarahkan semua ini dengan istri dan anaku. bu Aisyah menyetujuinya.


Akhirnya, setelah memiliki waktu yang tepat kami berunding, dan hasilnya tentu mendapat penolakan dari istri dan anaku.


Istriku menolak mentah mentah permintaan, istri sahabatku.


"Lebih baik tidak usah oprasi kalau putri Kita yang harus berkorban"


"Tapi apa kamu lupa resiko apa jika tidak dioperasi jantungmu itu"aku mulai mulai tersulut emosi mengingat resiko yang akan dialami istriku jika tidak segera operasi.


"Lebih baik ibu mati saja pak ibu tak mau mengorbankan hati putri kita"ucap bu Denok dengan berlunangan air mata.


tiba tiba.


Asa berdiri, keluar rumah dan berlari tak tentu arah.


Aku berusaha menyusulnya, tapi bayangan putriku saja tak tetlihat. Aku mencari dimanapun yang kemungkinan dia berada. Tapi juga kutemukan.


disore harinya kutemukan dia terduduk dipinggir sebuah lapangan dengan keadaan yang sangat berantakan.


hatiku tetiris melihat putriku dalam keadaan seperti itu. Andai aku bisa memilih aku tak akan mengorbankan siapapun untuk masalah ini. tapi, akibat ketidak berdayaanku aku harus memilih keputusan yang kuanggap benar.


Ku bentak putriku kupaksa menerima keputusan yang kuambil meski dalam hati aku mengutuk perbuatanku terhadap putriku.


Itulah yang menjadi latar belakang Asa harus mererima perjodohan ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2