Jodoh Dan Cinta

Jodoh Dan Cinta
Mengenal


__ADS_3

Sekitar pukul 11.00 Wib


Pak Amir berniat segera pergi kerumah Biru. Hatinya sama sekali tidak enak, ada perasaan kawatir yang terus bergelayut dalam pikirannya.


Sementara itu dirumah Biru.


Biru meringkuk dipojok kamarnya, dengan keadaan yang sangat mengenaskan .Disekujur tubuh dan wajahnya tetlihat biru dan lebam lebam. . Dalam benaknya terbayang saat bersama keluarga yang ada di desa. kesabaran ibunya, dan ketangguhan bapak menghadapi semua cobaan dalam kehidupannya. Semua terlintas seperti sebuah sliet dalam pikirannya.


"Ibu, sekarang anakmu sedang tidak berdaya,maafkan anakmu ini yang belum bisa , membahagiakanmu. " rintih Biru lirih.


Sesaat terlintas wajah ayu istri yang sangat dicintainya dan saat saat kebersamaan mereka yang hanya sejejap. Namun bisa membuat dia, bisa merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.


"Asaa" panggil Biru dalam hati.


Buk


" tuh makan. " dengan sedikit tendangan, seorang preman melempar sebungkus makanan kearah Biru.


Biru memandangnya, dengan geram.


"Tidak usah melotot, cepat dimakan daripada kamu mati kelaparan "


"Aku bukan binatang, " protes Biru dengan sisa sisa tenaganya.


"tidak usah terlalu banyak omong, masih untung kamu diberikan makanan. " preman itu berlalu meninggalkan Biru yang masih meringkuk tak berdaya.


Biru hanya memandang makanan yang dilempar dihadapannya itu. tanpa ada selera untuk menyentuhnya.


Dari arah pintu masuk preman yang bernama Otot, memandang sekilas Biru yang tidak menyentuh makanannya.


Dihampiirinya, Biru dan melepaskan ikatan Biru.


"Apa kamu tidak lapar, sudah aku lepas ikatanmu ,makanlah " ucap preman itu datar, lalu duduk disamping Biru, dam memulai sarapannya dengan lahapnya. sesekali dia melihat Biru yang meringkuk di lantai dan terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Seandainya, kemarin kamu tidak membuat ulah , pasti kamu tak akan seperti ini. " preman itu berbicara disela sarapannya, ketika menyaksikan Biru yang kesulitan ,menegakan badannya.


Biru memandang Preman itu dengan pandangan tak terbaca.


"Sebenarnya siapa kalian, kenapa masuk dalam kehidupanku. Aku tak merasa menyinggung atau berbuat salah pada sindikat seperti kalian. " dengan suara parau Biru berucap.


Preman itu tersenyum getir.


" Bukan kamu yang menyinggung kami, namun keadaan lah yang mengharuskan kamu terhubung dengan kami. " Preman itu melirik Biru yang sedikit menegakan badannya.


" Bilang kepada bosmu ,untuk melepaskanku, aku janji tidak akan memberitahukan tentang kalian kepada siapapun dan untuk rumah ini , silahkan kalian ambil"


Preman itu tertawa hambar.


"Jangankan untuk meminta melepaskan kamu, untuk melepaskan diri sendiri , aku tak berdaya. " preman itu menghentikan makannya danmenghampiri Biru, membantunya menyandarkan Biru, supaya bisa mudah menyantap makanannya.


Biru mengangkat wajahnya dan memperhatikan preman Otot lebih dalam. terlihat kesenduan diwajahnya. terbersit rasa penasaran dihatinya tentang diri preman yang ada didepannya itu.


" Cepat kamu makan, daripadaa ketahuan teman temanku, makanan ini pasti akan dibuang. "


Heem,


"Panjang ceritanya. kamu makanlah"


Biru menuruti perintah preman itu,dengan perlahan ,menyuapkan makananya kedalam mulutnya.


"Dulu, keluargaku terlilit hutang yang sangat banyak kepada seorang rentenir. Untuk membiayai pengobatan adiku yang terkena penyakit kanker.


Namun, semua itu tak membuat adiku sembuh. Usaha kami tak membuahkan hasil, adikku meninggal . Setelah semua pengorbanan kami menjual semua harta benda yang kami punya, dan berhutang pada rentenir di desa kami. Setelah kejadian itu ibuku sering sakit sakitan rasa kehilangan dan juga karna teror , yang terus dilakukan oleh anak buah rentenir yang neminjamkan kami uang. Aku kalut dengan keadaan yang keluargaku alami. Dalam kebingunganku, suatu saat ada teman lama yang menawariku sebuah pekerjaan yaitu mengantarkan paket barang kesuatu tempat , dengan bayaran yang sangat menggiurkan untuk ukuran orang yang keadaan terjepit sepertiku. . Aku ambil kerjaan itu, tanpa tanya barang apa yang aku kirimkan . Dengan semangat mengumpulkan pundi pundi rupiah dengan waktu singkat , aku terima kerjaan dari dia, malah aku meminta sesering mungkin melakukan kerjaan itu. Sampai hutang keluargaku, hampir lunas, Namun suatu hari , tanpa aku sadari aku diikuti seseorang, yang berpakaian preman ketempat aku mengantarkan paket.Tanpa curiga aku melakukan kerjaan itu seperti biasa. Disaat aku menyerahkan barang yang aku bawa kepada penerima paket, dari berbagai arah. muncul beberapa polisi yang berseragam preman ,mereka menangkapku, dan juga penerima paket. . Aku kaget dan bingung, berbagai pertanyaan singgah dikepalaku. Aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan dan kejahatan. kenapa aku ditangkap. Baru aku ketahui setelah tiba dikantor polisi, ternyata aku adalah tersangka kurir pengedar barang haram . Seketika itu aku lemas, nendengar sangkaan polisi padaku. Aku merasa bodoh,dan kesal pada diriku sendiri.Dengan mudahnya dinanfaatkan orang lain. "


"Trus kenapa kamu bisa masuk kesindikat ini lagi ,setelah keluar dari penjara" Biru semakin penasaran, hingga melupakan rasa sakit disekujur tubuhnya.


Pandangan preman itu menerawang kembali kemasa itu.

__ADS_1


..."Aku dipenjara selama dua tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa, dengan pertimbangan, aku kooperatif dalam persidangan. Dalam hati bertekat jika keluar dari penjara aku akan , menjauh dari semua yang berhubungan,dengan teman yang mengenalkanku dengan pekerjaan haramku. Tapi, semua itu tak semudah yang aku bayangkan, ternyata aku sudah dipantau oleh kelompok ini, sejak aku keluar dari lapas. Aku diseret ke markas mereka dan diberi ancaman yang tak bisa aku bayangkan jika keluar dari sindikat ini. terpaksa aku menuruti perintah mereka sampai sekarang ini , aku tetap menjadi kurir barang haram. " Preman Otot menghela nafas panjang, ada persaan lega setelah mencetitakan masalalunya pada Biru....


Biru mencoba mencerna semua yang dikatakan preman ini


"Apakah sekarang ,kamu masih ada keinginan lepas dari mereka.? tanya Biru menjawab penasarannya.


Sebelum preman Otot itu menjawab pertanyaan Biru, dari arah pintu masuk seorang preman yang melempar makanan kepada Biru tadi.


"Tot kamu dipanggil bos ada tugas untuk kamu, cepat kamu kesana, dia, biar aku yang tunggu"


" Iya" sebelum pergi preman Otot memandang Biru sebentar ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia urungkan. lanjut dia meninggalkan kamar Biru memenuhi panggilan bosnya.


Serelah kepergian preman Otot Biru merebahkan tubuhnya perlahan dilantai yang dingin.


"Jika ingin tak aku ikat lagi, kamu jangan bikin ulah. " bentak preman yang baru masuk kepada Biru.


Biru diam, tidak menjawab


Sementara itu pak Amir bergerak menuju rumah Biru.


Setengah jam berlalu. Pak Amir tiba ditempat tujuannya.


Pak Amir benjalan menuju pintu utama.


Ketika tangannya akan mengetuk pintu, telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat. spotan pak Amir, nenyembunyikan badannya dibalik tembok samping.


Dia melihat ada dua orang keluar dari pintu rumah Biru.


"Siapa mereka, " batin pak Amir.


Pak Amir terus memperhatikan dua orang itu, dengan otak yang terus berfikir. Badan tinggi besar dan penuh tato, dan yang satu kecil kurus juga penuh dengan tati.


"Sejak kapan, bosnya dekat dengan orang orang seperti ini" berbagai pertanyaan hinggap dikepalanya yang sudah mulai ditumbuhi uban

__ADS_1


Bersanbung


__ADS_2