
Dokter itu melangkah mendekat.
Semua orang yang berada disekeliling Asa, perlahan minggir, untuk memberi jalan, padanya.
"Maaf , tolong jangan banyak orang yang ada diruangan ini, pasien kurang nyaman." ucap dokter.
Bu Denok menggandeng, tangan suaminya, mengajaknya menunggu diluar.
Disusul bu Aisyah .
Namun ketika pak Iwan juga ingin mengikuti Bu Aisyah , Istrinya itu melaranganya.
"Bapak disini saja , temani Asa" bu Aisyah berbalik keluar kamar Asa.
Pak Iwan menghentikan langkahnya, meskipun sedikit canggung , perlahan ,mendekati dokter, yang memeriksa istri mudanya itu.
"Apa yang kamu rasakan" dokter menanyakan pada Asa, sambil memeriksa tensi Asa. Dahinya berkerut, menemukan sesuatu yang sedikit aneh.
"Tidak ada dok, cuma sedikit pusing saja, tapi sekarang sudah agak mendingan. " Asa melirik laki laki yang sekarang menjadi suaminya. Dihatinya, terasa nyeri ,dia akan menghabiskan hidupnya , dengan berbagi suami.
"Dok bolehkah saya bicara berdua dengan dokter? "
Mendengar Asa meminta sendiri, pak Iwan tanpa banyak kata, langsung meninggalkan Asa berdua dengan dokter yang memeriksanya.
Asa melihat suaminya, keluar dari kamarnya, ada perasaan lega . Karena bagaimanapun, dia belum rela, dan takut, Jika harus sekamar berdua dengan suami tuanya itu.
"Setelah pak Iwan tak terlihat.
"Dok, maafkan saya meminta waktu dokter yang sangat sedikit" Asa terlihat gelisah.
" Tidak ada waktu sibuk, untuk semua pasien saya" dokter itu tersenyum menenangkan.
heem
"Dok, saya ada sebuah permintaan kepada dokter " Asa menatap penuh harap dokter dihadapannya ini mau mengabulkan.
"Iya sebutkan saja, kalau saya mampu, akan saya kabulkan" jawabnya penuh kesabaran.
"Tolong ,apapun yang dokter temukan tentang diri saya, entah penyakit saya atau apapun itu, jangan beritahukan kepada orang tua saya apalagi orang lain.
Saya tidak mau, orang tua saya bersedih dan menambah beban orang tua saya dok. "
Dokter itu, menangkap sesuatu yang disembunyikan , wanita dihadapannya ini. Dan dia merasa pasienya itu butuh seseorang yang dipercaya ,dan mendukungnya.
Dokter itu tersenyum melihat Asa, mau menyampaikan unek unengnya.
"Baiklah, jika kamu meminta yang demikian. Tapi kamu juga harus betjanji pada saya, untuk selalu menjaga kesehatanmu. " dokter itu membereskan peralatannya.
"Satu lagi Asa, meskipun belum pasti, karna butuh pemeriksaan lebih lanjut. kamu harus menjaga yang ada diperut kamu. " pernyataan doktet, yang terdengar ambigu .
"Terima kasih dok, saya akan mematuhi parintah dokter" Asa agak bingung dengan pernyataan doktet dihadapanya, barusan.
__ADS_1
"Asa sekarang kamu istirahat. saya kan keluar menemui orang tuamu. "
"Iya dok, terimakasih " Asa merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemah, memejamkan matanyadan melupakan rasa penasaran, yang sempat tetbersit
Sementara itu diluar,
" Bagaimana keadaan anak saya dok" Ibu Denok bertanya dengan cemas. ketika, melihar dokter itu keluar dari kamar anaknya.
" Anak ibu hanya kelelahan, dan mungkin terlalu banyak beban pikiran. " ini resep yang harus ditebus , ada beberapa obat dan vitamin." dan pamit untuk undur diri.
"Terina kasih dok" Bu Denok mengantar, dokte keluar rumah mereka.
"Maaf pak Iwan , Kalau boleh saya mohon untuk malam ini, saya ingin tidur bersama anak saya. " ucap Bu Denok sekembali mengantar dokter.
Sebenarnya bu Denok sedikit sungkan dengan menantunya itu. Namun karna keadaan putrinya yang butuh perawatan, dan mungkin ini malam terakhir bagi dirinya bisa tidur dengan putri semata wayangnya, bu Denok terpaksa meminta hal itu.
"Tidak apa bu, saya juga masih ingin mengobrol dengan sahabat saya yang sekarang jadi mertua. " Pak Iwan mencoba jujur dengan keadaanya namun terdengar llucu bagi yang mendengarnya.
Pak Tono hanya geleng gelleng kepala dengan permintaan istrinya namun juga membenarkanya, pak Tono tahu putri kecilnya, sangat manja jika sedang sakit.
......................
Sementara itu dirumah Biru.
Biru, berjalan disebuah taman yang sangat indah, dengan bergandengan tangan dengan seseorang yang dia cintai, dipetiknya bunga mawar yang tumbuh disekitar jalan setapak, yang dia lewati. Diselipkannya bunga itu ditelinga wanita disampinya.
"Cantik " Biru ingin mencium keningnya, namun ketika bibir Biru akan menyentuh kening, wanita itu, tiba tiba,
Biru hanya bisa terduduk, meratapi kepergian kekasihnya. Ada beberapa orang yang mencoba menghalangi untuk mengejarnya
"Lepaskan tanganku" Teriak Biru dengan berusaha melepaskan pegangan tangan dua orang disampingnya.
"Hai bangun bangsat, jangan bermimpi saja kerjamu." tangan itu menampar pipi Biru, sehingga sedikit membekas disana.
Biru membuka matanya, karna sakit yang dia rasakan, dan terkejut.
Biru seperti orang ling lung.
"Sebenarnya ini mimpi atau kenyataan taoi kalau mimpi, kenapa sakitnya terasa nyata? monolog Biru didalam hatinya.
"Bangun kamu, " Bentak seseorang yang berdiri disampinggnya.
Biru baru tersadar, tadi hanya mimpi, tapi kalau sekarang adalah kenyataan.
"Kok bisa berlanjut ya" batin Biru yang belum sadar dengan keadaannya sekarang ini.
Biru bangun dan mendudukan badanya , melihat jam yang melingkar di tangannya, menunjukan pukul 00.30 dan itu berarti sekarang masih tengah malam.
"Siapa orang orang yang sedang mengelilinginya ini, bagaimana mereka bisa masuk? " monolog Biru.
"Hai, kamu sudah bangun atau masih ngelindur, hahah" bentak salah satu orang yang berada dikamar Biru.
__ADS_1
"Siapa kalian, bagaimana kalian bisa masuk rumah ini" Biru berusaha berdiri namun ditahan dua orang yang ada disampingnya.
" Kamu tidak perlu tahu siapa kami, yang penting serahkan barang yang aku titipkan padamu kemarin. "
"Aku tidak kenal sama kamu, terus kapan kita pernah bertemu dan menitipkan barang padaku? Biru ikut membentak, tidak gentar dengan orang orang disekelilingnya.
"Kamu jangan lupa, kenarin kamu nabrak aku, dan gara gara kamu barang barangku jatuh berhamburan. dan barang itu aku selipkan disaku bajunmu. "
Biru mencerna perkataan laki laki bertubuh gempal dihadapannya.
"Aku tidak tahu barang itu, pergi kamu dari sini. "
Plak plak
Biru ditampar salah satu orang orang itu, sampai terlihat darah disudut bibirnya.
"Arh" rintih Biru.
"Kurang ajar kalian, " Biru mencoba melepaskan dirinya, dari orang orang yang memegangnya.
"Cepat cari dimana saja, " Perintahnya kepada semua anak buahnya.
" Baik bos" semua langsung menyebar mencari benda yang
diperintahkan bos mereka, kecuali dua orang yang mengikat Biru dikamar.
Setelah beberapa saat
"Semua sudah kami geledah bos tapi, tak kami temukan. "
Orang yang dipanggil bos, mendekati Biru,
"Dimana kamu letakan baju yang kau pakai kemarin hah. "
"Sebenarnya barang apa yang kalian cari, aku sama sekali tidak tahu" Biru tidak mengerti dengan apa yang mereka maksud.
"Cepat kamu beritahu " Bos brandal itu memegang bajju Biru mengangkatnya dan meremasnya.
Biru mengingat ngingat, apa yang dikatakan brandalan itu, dan terlintas kejadian dimana hari sebelum dia, masuk rumah sakit.
"Asa... Dimana kamu sayang, " Biru teringat istrinya, karna pada waktu itu Biru sedang mencari Asa saat bertabrakan dengan laki laki dihadapannya ini.
"Hai, malah melamun, cepat jawab brengsek.. !"
Biru tersadar , dari pada makin panjang urunsanya, toh dia juga tidak tahu barang yang dicari mereka.
"Aku tidak tahu dimana baju itu aku letakan, yang pasti masih didalam kantong kresek. "
"Cepat cari kantong kresek yang dia maksut. "
Bersambung
__ADS_1