
Keadaan Biru sudah membaik.
"Pak Amir , terima kasih untuk semuanya, kalau tidak ada pak Amir pasti saya akan kerepotan sendiri, belum tenti saya bisa sesehat ini" ,Biru memberikan beberapa bingkisan sebagai oleh oleh untuk keluaraga pak Amir sebagai tanda terima kasih.
"Sama sama bos saya ikhlas, bos, selama ini bos tang selalu membantu saya sekeluarga disaat kami sedang kesulitan dan bos sudah saya anggap keluarga sendiri. " pak segera berpamitan untuk pulang.
Setelah kepulangan pak Amir Biru memulai mempersiapkan sesuatu untuk pekerjaanya yang banyak tertunda karena kejadian didalaminya akhir akhir ini.
Hari berlalu dirumah Asa.
Persiapan pernikahan Asa dengan pak Iwan sudah selesai meskipun diadakan secara sederhana namun diharapkan tidak mengurangi kesakralanya.
Didalam kamar , Asa duduk termenung didekat jendela kamarnya, pandanganya tertuju pada anak anak kecil yang berlarian dengan ceria tanpa ada beban yang harus mereka pikirkan.
Thok tok tok
"Nduk ,apakah kamu didalam? ibu boleh masuk? " bu Denok menunggu jawaban dari dalam kamar.
kleek
suara kunci dibuka.
keluarlah Asa dengan senyum tersunggging di bibirnya.
"Ada apa bu " Asa kembali masuk diikuti bu Denok duduk Dipinggir tempat tidur.
"Nduk ini ada kiriman baju kebaya dan perlengkapan ijab qobul dari pak Iwan, semoga kamu suka, "bu Denok meletakan sebuah beberapa paperbag disamping Asa..
Asa hanya melirik paperbag disampingnya dan kembali melihat keluar jendela.
"nanti setelah dhuhur akan ada seseorang yang mendandani kamu dan ijab qobulnya akan diadakan setelah maghrib kamu masih ingat kan nduk".
Asa hanya mengangguk sebagai jawaban karna untuk mengeluarkan suara rasanya tak mampu.
wajah Asa datar tidak melukiskan ekspresi apapun
"Nduk cah ayu, maafkan ibu, kamu terpaksa melalui ini hanya karena ibu, " tetesan demi tetesan mengalir kepipi yang mulai memiliki guratan puratan halus.
Dipeluknya tubuh putrinya yang dia rasa sedikit kurus, dipeluknya erat seakan mengatakan maaf.
__ADS_1
"Sudahlah bu , Asa sudah bilang, Asa ikhlas menjalaninya , jangan lagi ada air mata yang mengalir , Asa ingin mulai sekarang ibu selalu tersenyum dan bahagia melihat Asa menikah." Asa menggenggam tangan ibunya saling memberi kekuatan.
" Bu Asa sudah siap menjalani takdir Asa jangan kembali mengungkit keputusan Asa. doakan saja, agar Asa selalu bahagia dalam pernikahan Asa kali ini"
Bu Dsnok sedikit janggal dengan perkataan Asa ." ,pernikahan kali ini " seperti sudah pernah menikah, namun bu denok menghilangkan fikiran aneh anehnya. " mungkin putrinya hanya salah bicara saja" batin bu Denok.
"iya iya pasti to nduk , ibu selalu doakan kamu , selalu bahagia, selalu dilimpahi keberkahan dan ibu segera mendapat cucu yang banyak, Sekarang kamu tersenyum. " Bu Denok sedikit mengjibur putrinya itu.
Asa tersenyum menuruti perintah ibunya.
"Sekarang kamu mandi , masak calon pengantin bau asem, " bu Denok menciba mengalihkan kesedihannya dengan menggoda Asa.
.
Waktu berlalu begitu cepat
Asa merebahkan tubuhnya ,menanti kedatangan perias pengantin yang akan mendandaninya. Asa memejamkan matanya, namun malah terlintas wajah Biru dipelupuk matanya .
seakan akan Biru didepan matanya, menatapnya sayu , dan mengatakan " kenapa kamu tinggalkan aku."
Asa membuka matanya dan mencari sosok Biru namun tak menemukanya karna itu hanya angan semata.
"ini demi ibu, aku hatus kuat," monolog Asa.
Dari pintu terdengar suara ketukan. Asa tersadar dari lamunanya dan membuka pintu kamarnya . didepan pintu terdapat dua orang wanita yang membawa perlengkapan merias.
"Selamat sore mbak Asa, apakah mbak sudah siap" perias itu meletakkan peralatanya di tempat tidur Asa.
Asa menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Setelah maghrib.
Semua orang sudah datang termasuk pak Iwan terlihat bu Aisyah mendekati bu Denok dan membisikan sesuatu.
Settelah itu terlihat, mereka berdua menuju kamar Asa.
tok tok tok
" Nduk ibu boleh masuk" Bu Denok tersenyum pada bu Aisyah.
__ADS_1
"Iya bu ,pintunya tidak dikunci."
bu Denok membukanya nampak putrinya sudah selesai dirias dan tetlihat sangat cantik mangklingi (dalam istilah jawa ) dengan kebaya tetlihat pas dibadan Asa.
Asa melihat ibunya diikuti istri pertama calon suaminya.
Asa mendekat dan menyalami calon madunya itu dengan takzim karna bagaimanapun umur beliau sama dengan ibunya.
" Bu Denok, maaf boleh saya bicara empat mata dengan Asa?"
Bu Denok mengangguk dan meninggalkan mereka berdua di. kamar itu.
didalam kamar
"Asa , apakah kamu sudah siap,?"
"saya harap kamu ikhlas menerima semua, ini , maaf saya memaksa keluarga kamu untuk menikahkan kamu dengan suami saya." Bu Aisyah menjeda, dan mengambil nafas dalam.
"maaf telah memanfaatkan kekurangan keluargamu untuk memenuhi kekurangan pada diriku. Asa bukan maksut kami ingin meminta balas budi atas semua yang telah kami lakukan pada ibumu, namun kamu sangat tahu kekuranganku yang tak dapat memberikan keturunan pada mas Iwan, alasan inilah yang memaksaku untuk melakukanya."
mata bu Aiayah mulai berkaca kaca.
"Asa jika suatu saat kamu sudah melahirkan keturunan buat mas Iwan, dan kamu ingin lepas dari pernikahan , ini kami akan lepkskanmu, tapi jika kamu masih ingin menjalani pernikahan ini maka itu lebih baik."
"Asa saya tahu saya egois, memutuskan sepihak tentang masalah ini. namun saya berharap kamu memakluminya."
"Tidak ada seorang istri yang rela brrbagi suami , meskipun dengan adiknya sendiri Asa , namun karna cinta saya harus melakukannya. dan saya ikhlas. "
Asa hanya diam mendengar semua perkataan bu Aisyah, terbersit rasa kasian pada beliau, hanya karna kekuranganya itu harus merelakanr suaminya menikah lagi.
" Asa saya tahu kamu masih muda dan saya yakin kamu pasti subur dan saya berharap kamu segera memiliki keturunan ."
Bu Aisyah memeluk Asa erat.
"Terima kasih Asa , terima kasih" bi Aisyah menetekan air matanya.
"Jika memang dalam pernikahan ini aku dikarumiai anak dengan pak Iwan akan aku serahkan pada mereka ."
Bersambung
__ADS_1