
Ameli melihat sebuah cermin yang tingginya hampir menyamai dirinya. ia itu adalah cermin yang ia butuhkan untuk keperluan pentas seni besok.
" Sakina sini deh" sakina berjalan kearah ameli yang memanggilnya.
" Iya mel ada apa"
" ini kina, kayaknya cermin ini cocok deh buat besok" ameli seraya memegang cermin besar yang masih terpajang itu.
" hooh mel, bagus cocok banget ini mah" sakina mengacungkan jempolnya.
" yaudah kita ambil yang ini kalo gitu" mengangkat cermin tersebut berniat meletakkan cermin itu dibawa karena ameli ingin mencoba kaca tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala karena saat dipajang cermin itu tidak memantulkan tubuhnya secara lengkap hanya sebatas pinggang saja.
Bruukk...bruukk....
Cermin besar itu menimpa tubuh ameli, kepala ameli terbentur keras kelantai. membuat ameli terkapar lemah di lantai dengan banjir darah segar.
"Ameli.." teriak sakina mengejutkan semua orang yang ada di toko tak terkecuali putra yang langsung berlari ke arah ameli.
" a...ameli" putra terblalak melihat serpihan cermin yang pecah menimpa ameli yang sudah berlumuran darah di sekujur tubuhnya.
Putra mengangkat cepat kepala ameli dipangkuannya ia meletakkan kepala ameli di dada bidangnya. ia menangis melihat keadaan ameli yang lemah dan penuh darah.
" Pu...putra" ameli langsung tak sadarkan diri setelah menyebut nama putra.
Putra semakin histeris, ia menyuruh orang disekelilingnya menelpon ambulan.
Ameli kamu nggak boleh pergi, kamu kan sudah janji setelah lulus kuliah nanti kita akan bersama dalam ikatan yang halal. Ameli kamu harus menepati janji kamu. Pikiran putra sudah kemana-mana.
Tak lama ambulan dan tim medis tiba membawa ameli dan memberi penanganan pertama. Putra ikut naik ke dalam ambulan dengan terus memegangi tangan ameli yang masih tak sadarkan diri.
Tuhan biarkan aku saja jangan ameli, aku tidak sanggup melihat ia seperti ini, aku saja ya tuhan aku saja. Putra meneteskan air matanya menatap ameli lekat dan tangannya terus menggenggam tangan ameli.
****
Rumah sakit
Putra duduk dikursi depan ruang UGD sembari menunduk dan terus berdoa untuk ameli. Begitupun dengan sakina yang terus saja menyalahkan dirinya karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk ameli saat kejadian.
Dua sosok laki-laki dan perempuan setengah baya berjalan gopoh menghampiri putra.
" Nak apa yang terjadi, kamu baik-baik saja kan nak?" tanya mirna yang sudah duduk di samping putra dan hartono berdiri disamping istrinya.
" a...ameli ma" putra memeluk mamanya tak kuasa menceritakan semuanya. perasaannya kacau.
" Sabar nak, ameli sedang di tangani oleh dokter terbaik dirumah sakit ini pasti dia akan baik-baik saja" hartono menenangkan putra yang masih memeluk erat mirna.
Hartono dan Mirna mengetahui kejadian tersebut dari manajer yang bekerja di mall miliknya, mereka pun langsung bergegas ke rumah sakit yang tak lain juga milik keluarga putra. Bahkan hartono meminta untuk ameli di tangani oleh dokter terbaik di rumah sakit miliknya itu.
__ADS_1
Dokter Bram keluar dari ruang UGD, Putra dan kedua orangtuanya beserta sakina langsung berdiri menghampiri dokter bram yang telah siap memberi penjelasannya.
" Dok gimana keadaannya ameli, dia baik-baik aja kan dok" putra bertanya beruntun membuat dokter bram tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk bahu putra.
" Dia baik-baik saja, dia sudah melewati masa kritisnya namun dia belum sadar. ameli akan dibawa ke ruang pemulihan"
" terus kaca-kaca yang mengenai ameli apakah tidak berbahaya dok?" tanya putra yang saat kejadian melihat banyak kaca yang menusuk-nusuk ameli.
" semua serpihan kacanya sudah dibersihkan, namun karena itu nona ameli kehilangan. banyak darah sehingga membuat ia sangatlah lemah saat ini"
" terimakasih dokter bram" ucap hartono yang juga merupakan sahabatnya.
Ameli di pindahkan ke ruang pemulihan di ikuti oleh Putra, sakina, mirna dan hartono.
ameli masih belum sadarkan diri wajahnya yang manis masih tampak pucat. Putra yang duduk di kursi samping ranjang ameli pun tak pernah berpaling menatap ameli. ia begitu tidak tega melihat kondisi ameli. Sedangkan orangtuanya dan sakina duduk di sofa.
" Putra apakah kamu sudah memberitahu kedua orangtua ameli nak?" mirna bertanya pelan.
" belum ma, putra tidak berani memberitahu keadaan ameli yang masih belum sadar juga"
" tapi nak kedua orangtuanya berhak tau"
Belum sempat Putra menjawab perkataan mamanya. Putra mengalihkan perhatiannya ke arah jemari ameli yang bergerak-gerak pelan.
mata ameli perlahan terbuka, sorot matanya langsung menangkap sosok putra yang menatap ameli senang.
" iya ini aku mel" senyum bahagia mengembang di wajah tampan putra.
"om tante, sakina. kalian juga disini" mengalihkan pandangannya dari putra.
" iya sayang tante sama om khawatir sama kamu" mirna mendekat mengelus pelan rambut ameli seraya tersenyum bahagia.
" nak apakah om boleh mintak kontak orangtua mu?" hartono ingin menghubungi orangtua ameli memberi tau keadaan ameli.
" untuk apa om?"
" om mau memberitahu tentang keadaan mu"
" jangan om, saya tidak mau orangtua saya tau. saya tidak mau mereka khawatir nanti saya menyusahkan mereka. insyallah kalau untuk biaya rumah sakit saya masih punya tabungan jadi tidak perlu memberitahukan ini kepada mereka" jujur ameli.
" ya sudah nak kalau memang yang terbaik, dan masalah rumah sakit kamu tidak perlu mengkhawatirkannya ini adalah rumah sakit milik keluarga kami maka semuanya gratis" hartono seraya tersenyum.
uhuk... uhuk...uhuk...sakina batuk yang tak sengaja karena ia kaget mendengar perkataan hartono yang merupakan pemilik rumah sakit mewah ini.
" kamu kenapa sakina?" putra heran melihat sakina.
" nggak apa-apa kok hehe"
__ADS_1
Gila putra ternyata kaya banget, kok selama ini kayak biasa aja ya dia nggak belagak sombong atau ngesok gitu. emang sih mobilnya mewah tapi dia nggak sombong dan tidak menunjukkan kekayaan keluarganya. jadi suka sama putra.gumam sakina dalam hati.
" ameli, om sama tante pamit dulu ya soalnya kasian sama om pulang kantor langsung kesini" jelas mirna yang memang merasa lelah.
" iya, makasih tante om sudah baik kepada ameli"
" hati-hati ya ma pa" putra menyalami kedua orangtuanya.
Hartono dan mirna pun pulang dengan perasaan tenang karena ameli telah sadarkan diri.
" kamu nggak pulang sakina?" putra menatap sakina.
" nggak usah deh aku nemenin ameli aja disini" padahal sakina ingin lebih lama bersama putra.
" nggak apa-apa kok kina, put kalian pulang aja. kalian pasti capek" ameli merasa tidak enak karena takut merepotkan.
" aku jagain kamu aja ya mel disini, sakina aja yang pulang lagian kan sakina itu pengurus inti dia nggak boleh telat dateng kalo aku kan nggak penting hehe" elak putra yang ingin menemani ameli.
" oh iya kina kamu kan pengisi suara besok, yaudah kamu pulang aja nggak apa-apa kok" ameli
akhirnya sakina menyerah dan ijin pulang kepada ameli dan putra.
" kamu nggak pulang?" tanya ameli yang melihat putra kembali duduk.
" nggak"
" mending kamu pulang aja aku nggak apa-apa kok"
" nggak usah geer deh, aku tuh cuma udah janji aja sama mama buat ngejagain kamu disini" elak putra.
" emang iya mama kamu bilang gitu"
" iya" putra seraya memainkan ponselnya.
Putra bersikap cuek dan agak dingin kepada ameli semenjak mereka putus, padahal ia hanya berpura-pura begitu.
Ameli juga merasakan sikap putra yang berubah cuek dan dingin kepadanya.
kenapa putra jadi dingin dan cuek kayak gini yah. apa ada yang salah. ameli.
maafkan aku ameli, aku sangat ingin memelukmu menciumi mu dengan kasih sayang namun belum saatnya. tunggu pembalasan ku tiba saat aku meminangmu maka tidak ada satu apapun yang bisa menghalangi rasa cintaku dan kamu tidak boleh pergi dariku.
**to be continue
tolong vote author dong
jangan lupa like, komen dan favorit kan yah💕**
__ADS_1