
Putra memain-mainkan ponselnya tidak fokus mengacuhkan beberapa dokumen yang harus ia tandatangani. Isi kepalanya hanyalah Ameli yang tengah menjadi candu baginya. Tapi bukan itu yang menjadi permasalahannya sekarang saat ini melainkan sikap Ameli yang terkesan menutupi sesuatu saat ia menelpon Ameli tadi.
Apakah ada yang disembunyikan Ameli, tapi tidak mungkin. Ah sudahlah sebaiknya aku pulang saja. Batin Putra
Ia mengambil jasnya yang ia letakkan di senderan kursi dan bergegas pergi meninggalkan kantor.
" Tuan Putra mau kemana?" tanya Aldi yang harus memanggil Putra formal saat berada di kantor.
Tak ada jawaban dari Putra membuat Aldi bingung tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin kan dia marah kepada tuannya sendiri.
Mobil mewah berwarna hitam yang disetir sendiri oleh Putra berhenti di halaman rumahnya dan Ameli yang asri itu.
Putra masuk ke dalam rumah, bola matanya langsung mencari sosok istrinya. Namun, ia tidak menemukan wanita itu.
" Siti, bik sumi....." Putra sedikit berteriak memanggil dua pembantunya itu.
" iya tuan" hanya Siti yang muncul sedangkan bik Sumi tengah melakukan aktivitasnya di kamar mandi. PUP hehe.
" Dimana istri saya? apakah kamu melihatnya?" Putra seraya mengendorkan dasinya.
" nona belum pulang semenjak tadi tuan"
" baiklah. terimakasih" mengarahkan tangannya menyuruh Siti pergi.
Siti mengangguk dan pergi kembali kebelakang melanjutkan memasak untuk makan malam.
Putra memutuskan untuk segera mandi menyegarkan tubuhnya seraya menunggu Ameli pulang. Ia tidak menghubungi Ameli karena memang ia tidak pulang terlambat melainkan Putra yang memang pulang lebih cepat dari biasanya.
Ameli mengatur nafasnya mengendalikan dirinya sebelum turun dari mobil. Ia kini telah tiba dirumahnya. Ameli berjalan santai memasuki rumah melenggang menuju dapur untuk minum. ia tidak tahu kalau ternyata suaminya sudah pulang.
Ameli mengambil gelas lalu melangkah mendekat ke dispenser meletakkan sebentar gelasnya lalu memencet cold water.
" nona Ameli" Siti mendekat dengan masih memegang sapu dan sekop.
" iya" Ameli tersenyum meletakkan gelasnya dimeja.
" tuan sudah pulang"
" sudah pulang?" Ameli bertanya dengan nada heran.
__ADS_1
Inikan masih sore kenapa Putra sudah pulang. Apakah dia sakit?. Atau jangan-jangan dia tahu lagi aku bertemu dengan kak Dwiki. Batin Ameli.
" iya non, sudah sejak tadi"
" baiklah. terimakasih Siti" Ameli berjalan sedikit cepat menaiki anak tangga menuju kamar mereka dilantai dua.
Ameli membuka pintu kamar pelan tanpa mengeluarkan suara takut mengganggu suaminya yang mungkin tengah tidur. Dan ternyata dugaannya benar, Putra tertidur dan sudah terlihat segar mengenakan kaos warna hitam dan celana selutut. ia tidur tanpa selimut.
" Sayang" Ameli memanggil Putra lembut hanya memastikan Putra benar-benar tidur.
Tidak ada jawaban, artinya Putra benar-benar tidur.
Ameli mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Berendam air hangat di bathtub dengan banyak busa serta menyalakan lilin aroma terapi membuat ia merasa relaks.
Ameli keluar kamar mandi hanya dengan melilit tubuhnya dengan handuk. Ia berjalan masuk ke dalam walk in closet untuk mengenakan pakaian santainya.
Namun, langkahnya terhenti saat Putra memeluknya dari belakang. Putra menempelkan dagunya di bahu Ameli.
" Sayang, aku kangen" Putra menciumi bahu Ameli lembut. candu sungguh candu.
Ameli tersenyum, membalikkan tubuhnya membalas pelukan suaminya itu. Kini mereka berpelukan lagi dan lagi. Bahkan kini bibir Putra telah ******* bibir lembut Ameli. dan selanjutnya 18+++
Putra dan Ameli sama-sama kelelahan namun juga merasa sangat bahagia. Kini tidak ada jarak diantara mereka. Ameli menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya. Mereka masih rebahan setelah melakukan aktivitas mereka untuk kesekian kalinya.
" Sayang" Ameli memulai pembicaraan ingin memberitahu hal yang terjadi hari ini, karena ia tidak mau merahasiakan apapun dari Putra.
" hmm" Putra mengelus-elus rambut Ameli.
" tadi aku bertemu dengan teman-teman ku waktu masih kuliah dulu"
" lalu?"
" Tapi aku belum memberitahu mereka kalau aku sudah menikah denganmu" Ameli sedikit gugup ia takut Putra marah. ia bahkan memeluk tubuh suaminya untuk meminimalisir kemarahan Putra.
" Tidak apa-apa, mungkin kamu belum terbiasa dan juga ini baru pertama kali kalian bertemu lagi kan" Putra menjawab dengan santai membuat Ameli berani untuk melanjutkan ceritanya.
" Aku juga bertemu dengan kak Dwiki tadi, tapi itu sungguh kebetulan kok sayang" Ameli semakin memperkuat pelukannya.
" jangan melirik pria lain selain aku" Putra dengan nada tegas dan lugas namun masih memainkan rambut Ameli lembut.
__ADS_1
" apakah kau marah denganku?" Ameli mengelus-elus dagu suaminya.
" hmm" hanya itu yang keluar dari mulut Putra. Bukan suara melainkan hanya gumaman yang tentunya tidak membuat Ameli puas.
" Sayang" Ameli memanggil Putra namun tidak ada jawaban.
Putra memejamkan matanya pura-pura tertidur. Sebenarnya ia cemburu mendengar Ameli bertemu kembali dengan Dwiki. Namun, ia tidak mau membuat Ameli menjadi korban kecemburuannya.Ia tidak mau menyakiti untuk kedua kalinya.
" Baiklah, tidurlah" Ameli berangkat dari posisinya menuju kamar mandi. ia harus mandi lagi akibat ulah suaminya.
Putra membuka matanya menatap langit-langit. Ia begitu tidak menyukai sosok Dwiki yang dari empat tahun lalu mengganggunya.
Aku harus segera mengadakan resepsi pernikahan agar semua orang di dunia ini tahu kalau Ameli hanya milik seorang Putra Hartono Apri. Batin Putra
Putra dan Ameli memang belum mengadakan resepsi pernikahan,mengingat pernikahan mereka yang terkesan buru-buru karena perjodohan. Sudah hampir sebulan mereka menikah tapi masih banyak orang belum mengetahui kalau mereka menikah.
Putra berangkat dari tempat tidur berjalan masuk kamar mandi yang ternyata tidak dikunci oleh Ameli. Putra nyelonong masuk membuat Ameli berteriak.
" Putra" Ameli memukul-memukul tangan Putra yang kini sudah memeluknya dari belakang.
Putra hanya tertawa kecil melihat Ameli yang kaget. Setiap melihat Ameli apalagi kalau sedang mandi begini Putra selalu mencari-cari kesempatan. Putra membalikkan tubuh Ameli sehingga kini mereka saling berhadapan. Bibir mereka menyatu mengikis jarak antara mereka. 18++++
Hampir satu jam mereka dikamar mandi melakukan aktivitas mereka di kamar mandi dan mandi bersama. Sungguh ini adalah hari yang melelahkan bagi Putra dan Ameli.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian rumah yang santai serta usai sholat Maghrib dan isya berjamaah. Putra dan Ameli menuruni anak tangga menuju meja makan. yah setelah bekerja keras mereka tentu sangat lapar.
" tuan nona, silahkan makan" bik Sumi tersenyum kepada tuan dan nona muda.
" Terimakasih bik" Putra dan Ameli bersamaan seraya menarik kursi dan duduk bersiap untuk melahap makan malam mereka.
Ameli mengambilkan nasi dan lauk untuk Putra baru setelah itu untuknya.
" ini Put" Ameli menyodorkan makanan yang sudah ia ambilkan.
" terimakasih" Putra tersenyum ia begitu bahagia kini ada wanita yang ia cintai disampingnya. Bahkan mengambilkan makanan untuknya.
" Sayang kamu jangan panggil aku dengan namaku, carilah satu panggilan untukku" pinta Putra.
" baiklah nanti akan ku pikirkan" Ameli tertawa kecil.
__ADS_1