
Dikamarnya Ameli sedang memikirkan sesuatu yang tak lain adalah sosok yang ia kenal dulu Putra Hartono Apri yang pernah ia sukai dulu. Namun, ia tak pernah berani menunjukkan perasaannya kepada siapapun dan hanya memendamnya sampai saat ini. Ameli melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan karena ia sadar bahwa ia merasa tidak pantas untuk seorang Putra Hartono Apri seorang anak konglomerat di kotanya. Selain kaya raya Putra juga merupakan sosok pria yang tampan dan gagah serta sangat pintar.
sedangkan dirinya hanya berasal dari keluarga sederhana, bahkan untuk kuliahnya saja ia mengandalkan beasiswa dan berjualan online untuk menambah pemasukannya.
*****
Hari ini seperti biasa Ameli melakukan rutinitasnya seperti biasa yaitu berangkat ke kampus karena memang rata-rata kelas Ameli di adakan pada pagi hari. Saat menuju ruang kelasnya Ameli tidak sengaja bertemu dengan kakak tingkatnya yang juga merupakan gebetan Ameli di kampus, yang tak lain adalah Dwiki Hermawan.
" Hai Ameli" sapa Dwiki ramah sambil mengulurkan senyum.
" eh eh hai juga kak Dwiki" Jawab Ameli terbata-bata karena merasa gugup.
Entah mengapa saat berpapasan atau beradu pandang dengan kakak tingkatnya itu Ameli selalu saja gugup bahkan ia akan kehilangan kata-kata yang ingin di ucapkannya.
" Mau kemana kok buru-buru banget mel" Tanya Dwiki santai sambil menatap Ameli.
__ADS_1
" Mau ke kelas kak bentar lagi mulai" jawab Ameli cepat.
" Ameli duluan yah kak" tambah Ameli cepat sambil berjalan meninggalkan dwiki.
" oh iya silakan" jawab Dwiki pelan.
Ameli memang langsung menyukai sosok Dwiki pada pandangan pertama saat mereka pertama kali bertemu di halte pada awal semester satu dulu. Dan ternyata Dwiki merupakan kakak tingkat nya di fakultas ekonomi walaupun berbeda jurusan karena memang Dwiki adalah mahasiswa jurusan manajemen.
Ameli dan Dwiki juga semakin mengenal karena ternyata organisasi-organisasi yang diikuti Ameli ternyata juga diikuti Dwiki, bahkan Dwiki mempunyai jabatan-jabatan penting dalam organisasi-organisasi tersebut.
" kamu kenapa Mel, kok muka kamu merah gitu" Tanya Siti heran.
" Ah masa sih, perasaan aku nggak pake bluss on deh" jawab Ameli bingung dengan pertanyaan Siti.
" Iya tapi emang muka kamu merah alami gitu mel" tambah Septi meyakinkan Ameli.
__ADS_1
Ameli mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya sehingga bisa membuat mukanya memerah. Dan ia pun sadar mungkin karena ia gugup habis bertemu dengan kak Dwiki gebetannya.
" Oh itu mungkin gara-gara tadi aku disapa sama kak Dwiki kali yah" celetuk Ameli yang didengarkan serius oleh teman-temannya.
" Cie Ameli lagi berbunga-bunga hatinya, kamu tuh bukan cuma suka sama dia tapi udah cinta kayaknya mel" goda Septi dengan nada yang menggelitik.
" Eh tapi bukannya kamu juga suka sama cowok masa kecil kamu ya mel?" tanya Lyna polos sambil menatap Ameli.
"Aduh aku tuh nggak tau, aku suka sama siapa atau cinta sama siapa, kalian kan tau aku tuh nggak pernah pacaran" celetuk Ameli gusar sambil menahan pipinya dengan kedua tangannya.
Ameli juga bingung dengan perasaannya karena ia tidak tahu ia benar-benar suka dengan siapa perasaannya begitu labil dan ia tidak tau bagaimana perasaan cinta yang sesungguhnya. Saat bertemu dengan Kak Dwiki semua yang ada di dalam kepalanya langsung hilang. Sedangkan saat bertemu dengan Putra jantungnya seakan-akan mau meledak.
" eh gaes udah ada dosennya tuh" celetuk Siti memberitahu ketiga temannya untuk berhenti mengobrol.
Mereka pun mengikuti kelas pagi itu dengan semangat dan fokus.
__ADS_1