
Ameli merasa sesak tidak leluasa menggerakkan tubuhnya seperti biasanya. Matanya terbelalak namun hanya diam melihat pemandangan yang tak pernah terjadi selama ini. Putra tidur disampingnya dan memeluk erat tubuh Ameli seakan tidak mau melepaskan.
Putra tidur disini memelukku, apa ini hanya karena ia merasa bersalah telah membentakku semalam. Aku tidak boleh terbawa perasaan toh Putra sama sekali tidak mencintaiku. Ameli teringat akan semua yang Putra katakan padanya semalam.
Semua yang keluar dari mulut Putra semalam membuat hati Ameli hancur. Ameli memutuskan untuk tidak melanjutkan rencananya untuk merebut hati Putra kembali. Ia begitu kecewa kepada Putra yang begitu sangat ia cintai.
Setelah beberapa waktu Ameli memandang wajah Putra yang masih tertidur pulas dengan posisi masih memeluk erat tubuh Ameli. Ameli berusaha menyingkirkan tangan tegap suaminya pelan supaya tidak membangunkan Putra karena ia malas untuk berbicara ataupun hanya melihat Putra setelah kejadian semalam. Ameli melepaskan pelukan Putra perlahan itu dengan susah payah namun hal tersebut justru membuat Putra terbangun dan menggeliat langsung menatap Ameli seraya tersenyum manis.
" Kamu sudah bangun?" Putra yang masih diatas kasur sedangkan Ameli masih duduk menyender di tepi kasur.
huh dasar manusia jahat, apa dia sudah lupa dengan kejadian semalam. Dia bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Ameli tidak menjawab, ia bangkit dari posisi duduknya berlalu keluar kamar meninggalkan Putra. Ameli masih sangat kecewa bahkan merasa kesal dan marah kepada Putra.
Putra merasa tidak enak hati ia bahkan belum sempat meminta maaf kepada wanita yang sebenarnya sangat ia cintai. Namun egonya dan rasa kecewanya yang dulu pada Ameli menjadi tembok besar bagi Putra.
Sebenarnya Putra paham mengapa Ameli menolaknya empat tahun lalu. Namun, rasa gengsi dan egonya yang telah terkumpul setelah empat tahun belakangan ini membuatnya begitu dingin bak gunung es saja.
Putra bangkit dari posisinya berjalan cepat menyusul Ameli yang berjalan ke lantai dua rumah mereka.
Ameli duduk di sebuah sofa kecil di balkon kamarnya dengan Putra. Ia berusaha menenangkan diri dan menghindar dari Putra.
Putra yang melihat Ameli tengah duduk di balkon dengan tatapan kosong menatap ke sembarang arah itu langsung ia peluk dari belakang.
" Maafkan aku Ameli, sungguh yang aku katakan semalam hanyalah kekeliruan ku" Putra seraya memeluk erat tubuh Ameli dari belakang.
" Ameli maaf kan aku" suara Putra sendu membuat Ameli yang masih diam bisu terenyuh namun masih tidak mengatakan apapun.
" Kamu boleh menghukumku tapi kamu jangan diam seperti ini"
Ameli bangkit dari posisi duduknya membalikkan tubuhnya menghadap tubuh tegap suaminya itu.
" kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah. Tapi aku yang salah karena aku begitu mencintai orang yang sama sekali tidak mencintaiku" Ameli berlalu meninggalkan Putra.
Namun, tangan Ameli ditarik Putra yang membuat Ameli sontak menghentikan langkahnya.
" Kamu tidak salah karena aku juga masih sangat mencintaimu Ameli" Putra menarik tangan Ameli membuat Ameli jatuh kepelukannya.
Ameli merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Putra barusan.
" Aku tidak percaya. Tadi malam kamu memakiku sekarang kamu mencintaiku. Aku tidak akan membiarkan kamu mempermainkan perasaanku" Ameli melepaskan pelukannya menuju ruang pakaian mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Putra yang tengah memperhatikannya.
Aku benar-benar masih sangat mencintai kamu Ameli. Maafkan aku yang telah membuatmu kecewa dengan sikap dinginku semalam. Aku akan merebut kepercayaan mu lagi.
__ADS_1
Putra bertekad merebut kepercayaan Ameli lagi untuk tetap mencintainya. Meski ia tahu bahwa itu tidak akan mudah setelah semua hal yang telah terjadi.
Ameli keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju santai warna maroon yang terlihat sangat cantik.
Meskipun ia marah dengan Putra namun Ameli tetaplah seorang istri yang harus melayani suaminya. Ameli berusaha dengan sebaik mungkin namun ia juga tidak lupa kalau ia hanya melakukan tugas tersebut hanya karena ia adalah istri Putra.
" Kamu mau sarapan apa?" Ameli seraya membenarkan rambutnya dengan muka datar.
Putra tersenyum bahagia karena Ameli mau berbicara dengannya bahkan memikirkan sarapan untuknya.
" apa saja yang penting bisa dimakan"
" baiklah"
" Ameli, aku tahu kamu tidak bisa marah denganku kan buktinya kamu masih perhatian kepada ku" Putra mengungkapkan yang memang ada dibenaknya.
Ia ingin berusaha mengungkapkan perasaannya dan mengalahkan semua egonya.
" Aku melakukannya hanya karena aku sekarang adalah seorang istri, tidak lebih" berkata sekenanya, lalu berlalu.
Aku tahu kamu masih marah denganku, memang semua salahku harusnya aku jujur bahwa aku bahagia bisa memilikimu bukan malah bersikap dingin seperti anak kecil. Putra menyadari kesalahannya.
Di dapur Ameli sibuk menyiapkan menyiapkan sarapan untuk Putra. Meskipun dirumah mewah itu sudah ada pelayan namun Ameli tetap ingin melakukannya sendiri.
" nyonya biar kan bibik saja yang masak" bik Sumi merasa tidak enak karena nyonya rumah ini yang mengerjakan pekerjaannya sedangkan ia hanya menyaksikan saja.
" baik nyonya" turut bik Sumi sambil tersenyum.
Setelah selesai memasak Ameli menata menu sarapan yang telah ia siapkan ke atas meja makan.
" Nah udah selesai" Ameli melepas celemek biru muda yang ia kenakan sambil tersenyum kecil melihat makanan yang telah tertata rapi itu.
Putra yang telah rapi mengenakan setelan santai karena memang ia cuti selama tiga hari. Ia menuruni anak tangga satu demi satu menuju meja makan.
" wah ini kamu yang masak sayang" Putra seraya meraih kursi dan duduk.
sayang, salah makan obat ini orang. Ameli masih marah dengan Putra.
" tidak usah panggil aku sayang, lagian itu bik sumi yang masak" kesal Ameli meninggalkan Putra naik kelantai dua.
Putra memaklumi sikap istrinya itu karena memang kata-kata yang ia ucapkan semalam memang sangat menyakitkan. Ia saja yang mengatakan hal tersebut saja gemetar apalagi Ameli yang ia maki.
" bik...bik sumi"
__ADS_1
" iya tuan" bik Sumi menghampiri Putra begitu mendengar tuan rumah itu memanggilnya.
" bik yang masak sarapan buat saya siapa?"
" nyonya tuan"
" baiklah, terimakasih bik" Putra tersenyum dan melanjutkan aktivitas makannya dengan perasaan senang.
" sama-sama tuan" bik Sumi kembali kebelakang mengerjakan pekerjaannya.
Pagi itu adalah sarapan yang paling istimewa bagi Putra karena itu pertama kalinya Ameli memasak langsung untuknya. Ia melahap makanan itu tanpa sisa meskipun hanya omelet dan roti saja.
Ameli duduk di sofa kamar sembari menonton tv yang sebenarnya tidak terlalu ingin ia tonton. Ameli merasakan nyeri diperutnya karena memang ia belum makan sedikitpun sedari tadi.
" ah aku sampai lupa sarapan, sangking kesalnya dengan pria dingin itu" gumam Ameli pelan seraya memegangi perutnya.
Putra masuk ke kamar membawa nampan yang berisi makanan. Ia tahu bahwa Ameli belum sarapan dari bik Sumi. Akhirnya Putra menyuruh bik membuatkan makanan untuk Ameli.
" aku tahu kamu pasti belum sarapan" Putra meletakkan makanan di atas meja dekat Ameli.
Ameli melirik Putra lalu melirik makanan yang dibawa Putra sebentar kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah tv.
Putra yang sangat mengetahui sifat Ameli dari dulu pun paham bahwa Ameli merasa gengsi ditambah rasa marah dengannya.
" Mau aku suapin tidak?" tawar Putra yang beralih duduk disamping Ameli.
" tidak usah, aku sudah kenyang" Ameli melirik Putra sebentar.
Aku tahu apa yang bisa membuat Ameli menurut. Selama ini Ameli begitu taat menjalankan perintah Agama. Putra mempunyai ide cemerlang.
" Kamu pasti tahu bahwa seorang istri harus melayani dan menurut kepada suaminya, jika tidak menjalankan kewajiban nya maka..."
" iya aku makan" Ameli memotong kalimat Putra yang ia tahu apa kata selanjutnya yang akan Putra ucapakan.
"bagus ini baru istri yang baik" Putra mengacak rambut Ameli yang memang sedang tidak mengenakan kerudung itu sambil tersenyum karena berhasil membujuk Ameli.
Ameli mengambil makanan yang ada didepannya itu dan langsung menyantapnya dengan terus diperhatikan oleh Putra.
" Kamu tidak pernah berubah yah" Putra kembali mengacak rambut Ameli seraya tertawa kecil.
" iih berhenti acak rambut aku" kesal Ameli yang tengah makan.
" Abis kamu lucu sih, cantik lagi"
__ADS_1
" huwek, tidak usah bilang seperti itu lagi" balas Ameli.
Putra hanya tertawa melihat Ameli yang salah tingkah. Namun, masih dengan egonya yang mempertahankan amarahnya kepada Putra.