Jodoh Dari Masa Kecil

Jodoh Dari Masa Kecil
Bersama Dwiki


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama mereka berempat memutuskan untuk berkeliling mall mencari barang diskonan seperti biasa.


" Mel kamu masih ingat kak Dwiki tidak?" tanya Septi tiba-tiba menghentikan langkah kaki Ameli.


" kok berhenti sih mel" gerutu Septi lagi.


" Pasti kamu tidak bisa ngelupain kak Dwiki yah?" Septi mencolek pipi Ameli yang sedikit tembem.


Sedangkan Lyna dan Siti hanya memperhatikan guyonan Septi yang memang suka menggoda orang lain. Apalagi perihal percintaan yang menurutnya sangat menarik. Padahal ia sendiri tidak pernah pacaran. haha kasian.


" tidak, aku bahkan sudah lupa seperti apa wajahnya kak Dwiki" Ameli memang sudah tidak mempunyai perasaan dengan Dwiki tapi ia masih ingat dengan jelas seperti apa wajah Dwiki. Ameli bohong.


" oh ya sudah kalau begitu perlu diingatkan dong" Septi bersemangat karena tanpa sepengetahuan Ameli,Lyna, dan Siti. Septi juga mengajak Dwiki untuk reuni dengan mereka.


" astaga Sep, kasihan tuh Ameli mukanya merah sudah seperti kepiting rebus. Masih aja digodain" Siti memang tidak pernah berubah selalu menjadi penengah. Tapi mengingat nama siti, Ameli jadi teringat dengan Siti pembantunya membuat Ameli menahan tawanya.


" Aku tuh punya kejutan buat kalian, terutama buat Ameli"


"taraaaa" Septi memajukan dua tangannya semangat menyambut Dwiki yang datang dari arah belakang mereka.


" ka...kak Dwiki" Ameli tersontak bagaimana kalau Putra tahu ia bertemu dengan pria yang pernah Ameli sukai dulu. Pikiran Ameli sudah kemana-mana.


" Hai Ameli, wah kamu tambah cantik saja yah" begitu hangat sapaan Dwiki yang menatap Ameli berbinar.


" ah kak Dwiki bisa aja deh, kan Ameli jadi malu hehe" Septi nyeletuk seolah dia yang dipuji. Dasar Septi sudah seperti banteng aja suka nyeruduk sembarangan.


Sedangkan Ameli hanya tersenyum simpul, pikirannya sudah tidak tenang meskipun ia tidak melakukan hal yang aneh-aneh dan juga ada teman-temannya. Tapi ia sangat tahu Putra adalah sosok yang sangat pencemburu.


" Kak Dwiki kenapa bisa ada disini?" tanya Lyna yang sepertinya menyimpan rasa untuk Dwiki namun hanya ia, tuhan, dan author yang tahu. wkwk


" oh kakak di ajak...."


" ini kan tempat umum jadi siapapun bisa kesini" Septi kembali menyeletuk seperti sambaran petir saking cepatnya. ia tidak mau teman-temannya tahu kalau dia yang mengajak Dwiki.


Ameli meraih ponselnya yang berdering. Ia menelan salivanya lalu mengangkat telepon dari suaminya yang tak lain adalah Putra.


Kenapa Putra menelpon disaat seperti ini. Apakah ia tahu kalau ada Dwiki disini. tenang Ameli tenang. batin Ameli.


" Siapa mel, mama kamu ya?"


" bukan kok, sebentar ya aku angkat telepon dulu" Ameli menjauh dari keempat orang tersebut. Mengingat mereka belum mengetahui tentang pernikahannya.


" Assalamualaikum Sayang" Putra dari seberang sana.

__ADS_1


" waalaikumussalam, ada apa Put?"


" kamu masih sama teman-teman kamu yah?"


" i..iya Put, tadi aku sudah traktir mereka juga"


" Kamu kenapa?, kok seperti gugup gitu" Putra merasa ada yang disembunyikan Ameli. Sejak dulu Ameli selalu saja terbata-bata kalau ada sesuatu yang membuatnya kepikiran atau disembunyikan nya.


" hmm...tidak kenapa-kenapa kok"


" kamu jujur deh sama aku, aku sangat tahu kalau kamu menyembunyikan sesuatu" suara Putra mulai sedikit meninggi.


" Nanti aku akan ceritakan sama kamu, tidak enak sama teman-temanku"


" ya sudah, enjoy yah. Assalamualaikum"


" waalaikumussalam"


Ameli kembali mendekat kearah tempat temannya dan Dwiki tengah duduk di sebuah coffeshop yang tak jauh dari tempat ia menepi tadi.


" Sini Mel duduk" Lyna menepuk kursi kosong disampingnya yang terletak antara Lyna dan Dwiki.


" terimakasih Lyn" tersenyum


" Ameli kamu sekarang bekerja dimana?" Dwiki memulai pembicaraan dengan santai bahkan senyum manis yang sepertinya mengandung gula itu mengembang.


Ameli tertegun sebentar. " ehm sekarang Ameli sudah tidak bekerja lagi kak, tapi aku sempat bekerja di perusahaan X sebagai pengurus keuangan" jelas Ameli mengatakan sebenarnya.


" kenapa berhenti, padahal jabatan kamu sangat baik" Dwiki semakin tertarik berbicara dengan Ameli bahkan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ameli.


" karena...."


" Mel boleh pinjam ponselmu tidak, aku mau memesan taksi online ponselku baterenya habis" untuk kesekian kalinya Septi memotong pembicaraan menyeletuk sesuka hatinya.


" ini pakailah" Ameli menyodorkan ponselnya.


" terimakasih mel, kamu memang yang terbaik" mencubit pipi Ameli seperti biasa.


Sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Septi. Di umurnya yang sudah 23 tahun ia bertingkah laku seolah anak sepuluh tahun atau bahkan tujuh tahun.


" Apakah kamu sudah punya pacar Ameli?" Dwiki berharap Ameli belum mempunyai pacar.


" aku tidak mempunyai pacar tapi aku sudah menikah" Ameli tersenyum lembut mengatakan sejujurnya.

__ADS_1


"hahaha...kamu sekarang jadi pandai melucu" Dwiki menganggap bahwa itu hanya lelucon yang dibuat Ameli sebagai upaya jual mahalnya.


Sedangkan Septi sibuk menunggu taksi onlinenya datang, Lyna dan Siti asik mengobrol tentang tas branded yang ingin mereka beli.


" Alhamdulillah akhirnya sampai juga taksi onlinenya" Septi sedikit berteriak kegirangan membuat semua mata disana tertuju padanya.


" biasa aja kali Sep" Ameli mengambil ponselnya.


" ya sudah kalau begitu aku sama Lyna dan Siti pulang dulu yah. Sudah sore nih. kalian berdua have a fun yah" Septi berangkat dari kursinya. Sedangkan Siti dan Lyna mengekor saja mengikuti Septi.


" eh...aku juga mau pulang kalau begitu" Ameli terperanjat ia mengira hanya Septi yang akan pulang. eh ternyata dua dayang juga ikut.


" jangan mel, kasihan kak Dwiki baru juga sampai masa ditinggal" Siti mengedipkan sebelah matanya. Memberikan kesempatan kepada Ameli dan Dwiki untuk bersama.


Sialan kenapa aku sampai lupa memberitahu mereka kalau aku sudah menikah. Pasti mereka tidak akan membiarkan aku bersama kak Dwiki.


" iya mel, lagian kan sudah lama kita tidak bertemu"


"hehe, iya kak. Sekarang kakak kerja dimana?" Akhirnya Ameli bertanya perihal kehidupan Dwiki sekarang sekedar untuk memecah kecanggungan sekarang.


" sekarang kakak kerja sebagai general manajer di salah satu anak perusahaan Hartono grup mel"


" uhuk uhuk" Ameli tercengang bukan kepalang mendengar hal tersebut. Sekarang ia percaya kalau dunia ini selebar daun kelor.


" kamu kenapa mel?" Dwiki menyodorkan air mineral miliknya.


" tidak apa-apa kak, kakak hebat diusia semuda kakak bisa menjadi general manager"


" terimakasih, itu semua juga berkat kamu mel" Senyum bergula pun kembali mengembang di wajah yang tak kalah tampan dari Putra. ia wajah Dwiki yang putih bersih keturunan Tionghoa namun matanya tidak sipit membuat siapa saja yang melihatnya akan tampak kagum dengan ketampanan nya.


" maksud kak Dwiki apa?" Ameli benar-benar bingung dengan yang dimaksud Dwiki.


" iya karena kamu adalah motivasi ku untuk bisa menjadi seperti ini. Selain orang tuaku kamu menjadi alasanku untuk sukses"


Ameli terdiam sejenak memikirkan kalimat apa yang harus ia ucapkan. Ia tidak mau salah dalam bertindak takut Dwiki merasa di beri harapan olehnya.


" Kak Dwiki tidak perlu menganggap saya terlalu berlebihan kak" Ameli sudah kehabisan kata-kata berusaha secara halus menjauh dari Dwiki karena ia mengerti arah pembicaraan Dwiki.


" Aku tidak berlebihan, tapi ini semua karena aku mencin....." Dwiki mengumpulkan semua keberaniannya yang telah ia simpan selama ini.


" Kak, aku pulang dulu yah. Sudah sore nanti suamiku marah kalau aku pulang telat" Ameli memotong kalimat Dwiki dan melipir pergi meninggalkan Dwiki. Kini bukan hanya Septi yang suka memotong pembicaraan orang tapi kini juga Ameli.


Dwiki memperhatikan Ameli menjauh sampai tak terlihat dari pandangannya. Ia tertawa kecil melihat tingkah Ameli yang ia anggap salah tingkah saat berhadapan dengannya sampai-sampai ia harus berbohong telah memiliki suami.

__ADS_1


kamu lucu banget sih. Sikap sok jual mahal kamu yang buat aku makin sayang sama kamu mel. Sampai-sampai bohong kalau kamu sudah punya suami hahaha. Batin Dwiki yang masih duduk sendirian di coffeshop itu.


__ADS_2