Jodoh Dari Masa Kecil

Jodoh Dari Masa Kecil
Hari Pernikahan


__ADS_3

kebaya putih panjang dan riasan wajah yang natural membuat Ameli tampak sangat mempesona bagi siapa saja yang melihatnya. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk kedua orangtuanya.


Ameli menatap wajah cantiknya di cermin kamarnya. Ia membayangkan bagaimana hidupnya setelah menikah nanti.


Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa senang karena ia akan menikah dengan orang yang begitu ia cintai tapi ada ketakutan tersendiri bagi ameli melihat sikap Putra yang acuh terhadapnya.


Aku akan hidup bersama orang yang aku cintai selama ini, namun apakah Putra masih mencintaiku, aku begitu takut Putra membenci diriku.


Ameli sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia duduk dikamar menunggu dijemput Siska dan Mirna setelah ijab kabul selesai.


Diruang tengah rumah keluarga Ameli, Putra duduk di depan meja kecil berhadapan dengan Hendra yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya.


Putra tampak gagah dan tampan mengenakan setelan putih yang senada dengan yang dikenakan Ameli.


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 yang artinya acara ijab kabul akan segera dimulai. Semakin dekat acara ijab kabul Putra begitu gugup dan jantungnya berdebar tak karuan, ia berusaha mengatur nafasnya dengan repot.


Kenapa aku gugup banget seperti ini, padahal aku menikahi Ameli hanya ingin membalaskan semua kebencian ku terhadap keegoisan wanita ambisius itu.


" Baik apakah semua sudah siap, karena ijab kabul akan segera dimulai" penghulu mengarahkan hendra dan putra untuk bersiap.


Dengan dituntun penghulu, Hendra dan Putra berjabat tangan. Hendra pun dapat merasakan tangan putra yang dingin dan gemetar. Hendra hanya tersenyum kecil mengerti apa yang dirasakan Putra.


" Saudara Putra Hartono Apri bin Hartono Apri, saya dinikahkan kamu dengan anak kandung saya Amalia Ayu dengan mas kawin seperangkat alat sholat" Hendra dengan fasih dan lancar menatap lekat Putra.


Putra begitu gugup namun ia mampu mengontrol semua itu.


" Saya terima nikah dan kawinnya Amalia Ayu binti Hendra Wijaya dengan mas kawin tersebut" Putra dengan nafas lega.


SAH...


Semua orang yang ada disana mengucap Alhamdulillah tak terkecuali Ameli yang mendengar ijab kabul dari dalam kamar.


Mirna dan Siska menjemput Ameli untuk membawanya duduk disamping Putra.


Ameli keluar dari kamar, semua mata tertuju padanya tak terkecuali Putra yang terpanah melihat Ameli yang tampak cantik dan anggun itu. Ameli tersenyum melihat Putra namun Putra langsung melengos tak membalas senyum Ameli.

__ADS_1


Ameli duduk disamping Putra yang kini adalah suaminya. Mulai saat ini ia harus patuh dan berbakti kepada suaminya.


" Ameli sekarang kamu cium tangan suami kamu nak" perintah Siska lembut.


" Putra angkat tangan kamu sayang, ameli akan mencium tangan kamu" Mirna mengarahkan tangan Putra kepada Ameli.


Ameli pun mencium tangan Putra lembut, sedangkan Putra yang diarahkan Mirna menyentuh kepala Ameli dan bergantian mencium kening Ameli lembut.


Mirna dan Siska pun tersenyum bahagia melihat kedua anak mereka kini telah menikah.


Setelah selesai Acara dan para tamu sudah pulang. Hanya tinggal Hartono, Hendra, Siska, Mirna dan pasangan pengantin baru pastinya. Mereka bercengkrama dan asik bercanda bahkan sesekali menggoda Ameli dan Putra.


" Wah sebentar lagi kita bakal jadi oma-oma nih buk Siska" goda Mirna membuat semua orang tertawa kecuali Putra yang hanya diam.


"Iya buk Mirna saya juga sudah tidak sabar" tersenyum.


" oh iya acara resepsi kapan akan kita laksanakan pak hendra?" tanya Hartono


" Kalau saya dan keluarga terserah keluarga pak Hartono saja" Hendra lembut.


Sedangkan Putra dan Ameli masing diam dan hanya mendengarkan hal-hal yang bahkan tidak mereka pikirkan apalagi hal tentang mempunyai anak.


Acara ijab kabul yang diadakan hari ini memang lah sangat sederhana hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan tetangga saja. Bahkan teman-teman Ameli dan Putra pun tidak ada yang tau tentang pernikahan mereka yang terkesan buru-buru karena perjodohan yang di inginkan orang tua mereka.


Putra yang tidak begitu senang mendengar ocehan mamanya yang membahas tentang cucu itu, memutuskan untuk lebih dulu masuk kamar dengan alasan capek.


" Ma pa om dan tante, Putra permisi ke kamar duluan yah. Semua badan Putra capek banget" Putra berdiri sembari memijat-mijat bahunya.


" Kamu udah nggak sabar yah Put" goda Hartono tertawa kecil.


" Apaan sih pa, Putra tuh emang capek pengen tidur" ketus Putra.


" Ya sudah. Ameli kamu temenin suami kamu yah nak, ajak suami kamu ke kamar" Siska lembut menatap anaknya.


" i...iya ma" Ameli terbata-bata.

__ADS_1


Putra sudah berjalan lebih dulu dan sudah masuk ke dalam kamar sederhana Ameli.


" Kalo gitu Ameli duluan ya ma pa" izin Ameli kepada orangtua dan mertuanya.


Sebenarnya Ameli tidak mau masuk ke dalam kamar bersama Putra tapi apa boleh buat sekarang Putra adalah suaminya dan ia juga tidak mau menolak permintaan mamanya yang begitu bahagia.


Aduh gimana nih, Harus ngapain coba aku dikamar sama Putra. Dia aja ngomong sama aku aja dingin banget entar aku di cakar lagi sama si Putra. Ameli sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Begitu masuk ke dalam kamar Ameli terkejut melihat Putra yang baru saja keluar dari kamar mandi. Putra hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Ameli refleks membalikkan badannya mengarah tembok dan menutup matanya, badannya gemetaran.


" Kamu gila ya, dikamar orang nggak pakek baju gitu" teriak Ameli yang masih mengahadap tembok.


Putra yang juga kaget melihat kehadiran Ameli, Namun ia bersikap biasa saja dan cuek. Ia bahkan menahan tawanya yang ia tutupi dengan ekspresi dingin melihat tingkah Ameli.


" Makanya kalo masuk kamar tuh ketok pintu dulu, jangan asal masuk aja" jawab Putra dingin sembari mengambil pakaiannya di dalam koper.


" Ih ini kan kamar aku, yah terserah aku dong" Ameli membalikkan badannya menghadap Putra yang masih bertelanjang dada itu.


" cepetan pake baju" perintah Ameli yang masih menutup matanya dengan kedua tangannya.


Putra yang sudah mengambil pakaiannya langsung menuju kamar mandi lagi untuk mengenakan pakaiannya.


" Ini juga mau ganti, tadi aku lupa bawa baju ganti" ketus Putra dingin sambil berlalu ke kamar mandi.


Ameli memainkan ponselnya sembari menunggu Putra mengenakan pakaiannya, karena ia juga sudah gerah dan ingin segera mandi serta beristirahat mengingat betapa lelahnya ia menahan gerah mengenakan kebaya panjang sepanjang hari.


Tak lama Putra keluar dari kamar mandi yang telah mengenakan pakaian tidurnya yang tampak mahal dimata Ameli.


" Kamu udah selesai" Ameli lembut menatap Putra.


" Hmm" Putra berjalan mengambil hpnya dan langsung memilih untuk tidur diranjang sederhana Ameli.


Pendek banget jawabannya, apakah sebesar itu rasa benci kamu terhadap ku Put. Ameli sambil berlalu ke kamar mandi dan tak lupa membawa pakaian gantinya.

__ADS_1


__ADS_2