Jodoh Dari Masa Kecil

Jodoh Dari Masa Kecil
Pelukan Pertama


__ADS_3

" Ameli ayo kita jalan-jalan hari ini" ajak Putra kepada Ameli yang tengah makan itu membuat Ameli tersedak.


" Aku mau dirumah saja, kamu jalan-jalan saja sendiri" ketus Ameli.


Sebenarnya Ameli ingin sekali berjalan-jalan keluar rumah karena dia tidak pernah jalan-jalan semenjak perjodohan bahkan sampai beberapa hari setelah menikah. Tapi apa boleh buat karena ia masih marah dengan Putra, ia menahan keinginannya itu.


" Padahal aku mau ngajak kamu makan gado-gado, tapi ya sudah lah kalau tidak mau" Putra sangat tahu makanan favorit Ameli sejak dulu.


Ameli membayangkan makanan favoritnya itu menahan air liurnya yang sudah ngiler mendengar Putra menyebut gado-gado.


" makan gado-gado sama es matcha sepertinya enak"


Ameli berjalan cepat menuju walk in closet mengganti pakaian rumahannya dan mengambil sling bag kecil miliknya.


Putra masih duduk diam di sofa merasa heran dengan sikap Ameli yang berlalu begitu saja.


Apa dia marah atau jangan-jangan dia sudah tidak menyukai gado-gado dan es matcha. Batin Putra.


" Ayo aku sudah lama tidak makan gado-gado dan es matca" Ameli keluar dari walk in closet siap untuk pergi.


Putra tertawa melihat tingkah Ameli yang tanpa menjawab ajakannya justru langsung bersiap untuk pergi.


" Nah gitu dong, tapi bentar aku mau ganti baju juga" Putra berjalan menuju ruang walk in closet namun dengan cepat Ameli menarik tangan Putra menghentikan langkah Putra.


" tidak boleh, nanti kamu lama" Ameli sudah tidak sabar.


" baiklah, aku hanya akan mengambil topi" Putra mengalah ia mengenakan kaos oblong warna hitam dan celana pendek warna putih serta topi warna hitam favoritnya.


****


Putra mengajak Ameli ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka yang tak lain adalah milik keluarga Putra yang akan menjadi miliknya mengingat ia merupakan pewaris tunggal dalam keluarganya.


" Kenapa kita kesini, katanya mau makan gado-gado" Ameli sedikit kecewa karena bukannya makan gado-gado justru dia di ajak berkeliling mall.


Putra hanya tersenyum melihat Ameli yang tengah kesal. ia malah menggandeng tangan Ameli dan menggenggam nya erat.


Ameli yang tidak terbiasa dengan hal tersebut pun berusaha melepaskan genggaman Putra. ia merasa risih karena banyak orang-orang yang memperhatikan mereka. Namun, bukan malah melepaskan genggamannya Putra justru mempererat genggamannya.


" Putra malu tahu, semua orang memperhatikan kita" bisik Ameli kepada Putra.

__ADS_1


"biarkan saja, kamu kan istriku jadi tidak masalah kan?" Putra cuek menanggapi hal tersebut.


" lagian untuk apa kamu menggenggam tangan wanita yang sama sekali tidak kamu cintai, bukan kah itu hanya menghabiskan waktumu yang berharga itu" sindir Ameli yang tak pernah melupakan kata-kata Putra semalam.


Putra merasakan sesak di dadanya, ucapan Ameli barusan bagaikan tamparan baginya. Putra tak menampik hal tersebut memang kesalahannya telah berbicara asal hanya karena rasa kecewa yang seharusnya ia pahami.


Putra menarik tangan Ameli menuntunnya menuju sebuah toko perhiasan yang memang merupakan tujuan awal Putra mengajak Ameli keluar rumah.


Putra memanggil karyawan toko perhiasan itu dan meminta perhiasan yang telah ia pesan. Tak lama sebuah kalung bermatakan berlian yang terlihat sangat mahal.


" Ameli, aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu. Selama ini aku hanya berpura-pura melupakanmu, padahal sedetik pun aku tidak bisa melupakanmu" Putra seraya memasangkan kalung berlian itu kepada Ameli yang hanya terdiam membeku.


" Maafkan aku atas perkataan ku semalam yang sungguh keterlaluan, aku hanya berusaha untuk menjauh dari mu. Tapi apalah daya aku sadar bahwa cinta itu tidak bisa dibohongi" Putra mengatakan yang sebenarnya yang selama ini hanya ia pendam sendiri.


Ameli tak kuasa menahan air matanya, ia sungguh tidak ingin menangis namun air matanya mengalir begitu saja. Bahkan ia tidak sanggup mengatakan apapun. ia meluapkan perasaan nya dengan tangisan bahagianya.


" Ameli aku bahkan menepati janji kita untuk saling menjaga hati kita sampai waktunya tiba" Putra memeluk Ameli yang tengah duduk terpaku dihadapannya.


Para karyawan toko perhiasan yang menyaksikan pun ikut merasakan suasana haru bahagia itu dan bertepuk tangan.


" a...aku juga mencintaimu Put" Ameli membalas ucapan Putra ia bahkan mempererat pelukannya.


****


Udara sejuk malam penuh bintang dan bulan bulat sempurna menemani malam Putra dan Ameli malam ini.


Putra dan Ameli kini sudah mengatakan perasaan mereka yang sesungguhnya dan yang mereka pendam selama ini.


Ameli tengah duduk santai diruang tengah menyaksikan acara tv kesukaannya dengan cemilan ditangannya. Sedangkan Putra menyandarkan kepalanya di pangkuan Ameli hanya menatap Ameli dalam dan lekat seperti tidak mau mengalihkan pandangannya saja.


" Kamu kenapa menatap aku seperti itu" Ameli yang sadar bahwa Putra sedang menatapnya.


" Aku masih tidak percaya saja, kamu sekarang berada sedekat ini denganku" Putra mengatakan yang sebenarnya.


" ya sudah tatap saja aku sampai puas" goda Ameli seraya mencubit hidung mancung suaminya itu.


" Sayang, bisakah kamu memangil ku sayang sekali saja" Putra menggenggam tangan Ameli.


Ameli tertawa kecil mendengar permintaan konyol suaminya itu. Memang selama ini ia tidak pernah memanggil Putra dengan sebutan itu, hanya Putra lah yang selalu memanggilnya sayang bahkan semenjak mereka pacaran dulu.

__ADS_1


" kenapa diam, apakah kamu tidak mencintaiku" Putra cemberut namun tidak mengurangi wajah tampannya itu.


" sayang, sayang, sayang, sayang" Ameli mengatakannya bahkan lebih dari sekali membuat Putra tersenyum gemas.


Mereka tertawa bahagia dengan celotehan manja bahkan terkadang tidak jelas. Namun, itulah cinta hal sekecil apapun dapat membuat suasana menjadi hangat.


" sayang apakah kamu tidak malu menikahi wanita sederhana seperti ku" Ameli penasaran apa yang membuat Putra lebih memilihnya sedangkan ia bisa saja memilih wanita yang sepadan dengannya.


" cinta itu tidak perlu sebuah alasan ia mengalir begitu saja dan untungnya itu kamu" Putra menjawab pertanyaan itu seakan ia seorang penyair sebab kata-kata yang ia gunakan begitu sahdu di dengar membuat Ameli berdebar.


" Apakah kau tahu bahwa aku lebih dulu mencintaimu" Ameli begitu hanyut dengan suasana sampai membuka hal yang hanya dia dan tuhan yang tahu.


" sungguh" Putra penasaran.


" iya aku menyukaimu semenjak sekolah dasar" dengan polos Ameli menceritakan hal tersebut.


" tapi kamu lebih menyukai teman satu geng ku, kamu jahat" lanjut Ameli.


" hahaha benarkah, tapi kan sekarang aku hanya mencintaimu sayang" Putra mengelus wajah cantik istrinya itu.


Waktu SD Ameli memang mempunyai sebuah geng dan wanita yang disukai Putra bukanlah Ameli melainkan Dewi teman satu gengnya. Namun itu hanyalah masa lalu kini Putra begitu mencintai wanita yang kini menjadi istrinya itu.


" sayang aku besok akan mulai bekerja setelah seminggu aku cuti" Ameli memberitahu Putra.


" apakah kamu masih harus bekerja, apakah kamu tidak bisa dirumah saja mengurusku. Aku tidak mau kamu melupakan aku"


Ameli bingung harus bagaimana suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang.


" ta..tapi aku susah payah mendapatkan pekerjaan itu dan juga aku harus tetap membiayai kehidupan orang tua ku karena hanya aku anak yang mereka punya sedangkan mereka sudah tua" jelas Ameli lembut menunduk.


Putra bangkit dari posisinya dan duduk disamping Ameli lalu memeluk Ameli lembut serta mengecup kening Ameli.


" kamu tidak perlu repot-repot bekerja sayang, masalah orangtua mu aku akan mengurusnya karena mereka orangtua ku juga" Putra kembali mencium pucuk kepala Ameli.


" apakah tidak apa-apa jika seperti itu" Ameli merasa tidak enak karena selama ini ia terbiasa bekerja keras.


" kamu adalah istriku, kamu adalah tanggung jawab ku begitupun dengan orangtuamu"


" terimakasih" Ameli memeluk erat Putra hangat meluapkan rasa terimakasih nya kepada pria yang begitu perhatian kepadanya.

__ADS_1


please tap like and loveđź’•


__ADS_2