Jodoh Dari Masa Kecil

Jodoh Dari Masa Kecil
Kamar Mandi


__ADS_3

Ameli menghabiskan setengah jam untuk berendam dan mandi karena rasa lelah hari ini. Setelah selesai menyegarkan diri dan telah mengenakan pakaian tidurnya ia keluar kamar mandi.


Matanya langsung tertuju pada Putra yang sudah tertidur di ranjangnya dengan meletakkan bantal guling yang mungkin sengaja ia jadikan pembatas antara ia dan Ameli.


Ameli yang sudah mengantuk naik ke tempat tidur dengan pelan tidak mau menganggu Putra yang sudah nampak pulas.


Ameli duduk di tepi ranjang tempat tidurnya menatap Putra lekat seraya mengembangkan senyumnya.


" Kenapa kamu jadi dingin seperti ini Put" ucap Ameli pelan mengelus wajah Putra lembut.


Tak terasa air mata Ameli menetes, ia juga tidak tahu mengapa ia begitu rapuh saat melihat Putra yang dingin dengannya. Ameli menghela nafasnya seraya menarik selimut membenamkan dirinya.


Putra membuka matanya menatap langit-langit kamar. Sebenarnya ia belum tidur, ia mendengar semua ucapan Ameli bahkan mendengar isak tangis Ameli. Bahkan saat Ameli mengelus wajahnya jantungnya berdebar tak karuan.


aku tidak tau apakah aku masih bisa mencintaimu seperti dulu lagi Ameli kamu tiba-tiba hadir setelah empat tahun. Putra mengalihkan pandangannya menatap Ameli lekat.


****


Sinar matahari menyinari pagi yang cerah ini, Ameli sudah bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun, belum sampai dapur Ameli sudah mendapati sarapan yang sudah disiapkan Mirna dan Siska.


" Mama sama tante Mirna kok udah pada masak, padahal tadinya Ameli yang mau masak" Ameli menghampiri kedua mamanya.


" eh kok masih tante sih, panggil mama dong sayang" Mirna tersenyum kepada Ameli.


" eh i..iya ma, Ameli belum terbiasa hehe" Ameli malu.


" Ya udah kamu mandi dulu aja sana, sekalian ajak suami kamu sarapan bareng-bareng" ucap Siska lembut yang langsung di iyakan Ameli.


Ameli bergegas menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Seusai mandi Ameli baru menyadari kalau ia lupa membawa baju ganti. ia menggerutu dalam hati dan kesal dengan kecerobohannya.


Aduh kenapa pakai lupa segala sih, ceroboh banget sih kamu Ameli hal kecil kayak gitu aja bisa lupa. Terus gimana dong sekarang masak iya aku cuma pake handuk keluar kamar mana masih ada Putra lagi. Gerutu Ameli kesal.


Ameli mondar-mandir dalam kamar mandi memikirkan apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba ia terpeleset karena sangking mondar-mandirnya sampai ia tidak memperhatikan ada tumpahan sabun di lantai.


Brukk.....


Ameli terjatuh membuat ia mengerang kesakitan memegangi kakinya yang memerah.


" Aduh"


" Arghh sakit" Ameli tak sengaja berteriak.


Putra yang baru saja terbangun dari tidurnya yang nyenyak langsung berlari ke depan pintu kamar mandi. Ia merasa khawatir dengan keadaan Ameli.

__ADS_1


" Ameli kamu kenapa?"


" Ameli jawab aku, kamu baik-baik aja kan?" Putra sembari mengetuk pintu kamar mandi kencang.


Ameli yang merasakan perih dikakinya berusaha menjawab.


" Aku nggak apa-apa kok, cuma kepeleset aja" Ameli masih mengerang kesakitan.


" Ya udah buka pintunya sekarang, aku takutnya kamu keseleo lagi" Putra berbicara di depan pintu kamar mandi.


Ameli yang bingung harus bagaimana, kalau ia membukakan pintu ia akan merasa malu karena tubuhnya hanya di tutupi oleh handuk tapi ia juga tidak bisa berdiri dengan baik.


Apa aku minta ambilkan baju ganti aja yah, tapi malu banget masa iya Putra ngambilin pakaian dalem aku. Tapi dari pada Putra masuk ke kamar mandi lihat aku cuma pake handuk aja itu juga malu banget. Astaga. Geram Ameli.


" emm..Put, kamu boleh tolong ambilin pakaian ganti aku nggak" Pinta Ameli pelan berusaha melupakan rasa malunya.


Putra tertawa kecil mendengar ucapan Ameli barusan dan bergegas membuka lemari baju Ameli dan mengambil asal.


Putra mengetuk pintu kamar mandi dengan membawa pakaian ganti untuk Ameli.


" Ini pakaian gantinya"


Ameli bergerak dengan cara mengesot dan meraih gagang pintu dengan susah payah karena ia tidak sanggup untuk berdiri. ia membuka pintu kamar mandi sedikit agar Putra dapat menyodorkan pakaian gantinya.


Ameli susah payah mengenakan pakaiannya dan bingung untuk keluar dari kamar mandi.


Sekarang aku keluar nya gimana, aku nggak bisa jalan. Atau aku minta tolong Putra ya. Tapi....


Putra terus melihat ke arah kamar mandi, ia merasa heran mengapa Ameli begitu lama. Akhirnya Putra memutuskan untuk menerobos masuk ke kamar mandi yang ternyata Ameli lupa mengunci pintunya.


" Pu..putra, kamu ngapain" Ameli terbata-bata


" Kamu ngapain lama banget, aku juga mau mandi" Putra dingin padahal dalam hatinya ia sangat khawatir dengan keadaan Ameli yang masih duduk dilantai.


" maaf Put, kaki ku sakit jadi lama" Ameli berusaha berdiri namun ia malah hampir terjatuh. Untung saja Putra sigap dan langsung menahan tubuh Ameli.


" Kamu ceroboh banget sih, kalau sakit ya gak usah dipaksakan" ketus Putra menggendong Ameli dan membawa Ameli ke atas kasur.


Ameli terdiam bisu dan tidak bisa berkata apa-apa saat Putra menggendongnya. Jantungnya berdegup kencang perasaannya tak karuan.


" Kamu istirahat aja nanti sarapannya biar aku ambilin" Putra masih dengan nada dinginnya.


" Put" Ameli menarik tangan Putra.

__ADS_1


Putra menghentikan langkahnya dan menatap Ameli.


" Ada apa"


" Makasih ya, kamu udah bantuin aku tadi" ucap Ameli lembut.


Putra tidak menanggapi ucapan terima kasih Ameli. Ia berlalu masuk ke kamar mandi.


Aku tau kamu masih menyimpan perasaan kamu untuk aku Put. Buktinya kamu masih peduli sama aku. Aku akan berusaha meluluhkan hati kamu lagi. Ameli menatap Putra yang tengah masuk kamar mandi.


Ameli masih merasa nyeri pada kakinya karena setelah jatuh tadi ia belum memberi penanganan apapun pada kakinya yang sepertinya terkilir.


" Ahh..sakit banget kaki ku, kayaknya terkikir deh" gumam Ameli pelan seraya meraba kakinya.


Putra keluar dari kamar mandi seraya mengelap rambutnya dengan handuk. Ia memperhatikan Ameli yang merintih kesakitan, namun ia berusaha tak peduli dengan keadaan istrinya itu.


Putra keluar kamar berniat untuk mengambilkan sarapan untuk Ameli.


" Lah Put istri kamu mana kok gak di ajak sarapan juga" ucap Mirna yang tengah duduk dimeja makan bersama yang lainnya.


" Ameli tadi kepleset mah di kamar mandi, jadi gak bisa jalan" jawab Putra santai dan seolah-olah tak peduli.


" Terus udah kamu kasih salep belum? kalau terkilir gimana coba" Mirna khawatir.


Begitupun dengan Siska, Hendra, dan Hartono yang cemas dengan Ameli.


" Belum ma"


" Ya ampun Putra kamu itu sekarang udah jadi suaminya Ameli kamu harus perhatian sama istri kamu" Mirna tidak habis pikir dengan sikap Putra yang tak peduli.


" Ya sudah kalau begitu biar papa panggil tukang urut dulu" ucap Hartono dan di setujui oleh Hendra.


" Ma, Putra mau sarapan di kamar aja sama Ameli" Putra sambil membawa dua piring makanan.


Sebenarnya Putra bukan tidak peduli dengan keadaan Ameli, tapi Putra tidak mau membuat Ameli besar kepala kalau tau Putra masih mempunyai perasaan yang sama seperti dulu kepada Ameli.


Putra meletakkan sarapan Ameli di meja samping tempat tidur dan ia duduk di tepi ranjang.


" ini sarapan kamu"


" Makasih Put, maaf sudah merepotkan kamu" Ameli berharap Putra membalas ucapannya.


Namun, Putra hanya diam dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak oleh Ameli. Putra hanya menoleh sebentar lalu menyantap sarapannya.

__ADS_1


kenapa kamu dingin ke aku seperti ini Put, Aku nggak akan berhenti meluluhkan hati kamu sampai kamu memaafkan aku dan kamu kembali bisa mencintai aku seperti dulu.


__ADS_2