Jodoh Dari Masa Kecil

Jodoh Dari Masa Kecil
Tabungan Rindu


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Putra kembali bekerja ke kantor yang kini ia pimpin setelah seminggu lebih meliburkan diri. Sebenarnya Putra masih ingin berlama-lama bersama dengan Ameli. Namun, apalah daya pekerjaan sudah menumpuk meskipun sudah ada Aldi yang mengambil alih tugas Putra selama masa cuti Putra tetapi ada beberapa pekerjaan yang harus ditangani langsung oleh Putra.


Ameli menyiapkan pakaian yang akan Putra kenakan ke kantor. Mulai dari jas, kemeja celana, dasi, dan sepatu yang Ameli semir sendiri. Sebenarnya Ameli tidak perlu repot-repot untuk menyemir sepatu Putra karena itu semua bisa dilakukan oleh bik sumi ataupun Siti. Tapi ia tetap saja ingin melakukan hal tersebut karena menurutnya itu merupakan baktinya terhadap suami apalagi ia juga tidak melakukan apapun karena Putra melarangnya termasuk untuk kembali bekerja.


Putra keluar kamar mandi setelah hampir setengah jam berendam di bathtub dan membersihkan diri. Tubuhnya hanya dililit dengan handuk yang menutupi bagian pinggang saja dan tentunya bertelanjang dada.


" Sayang kamu tidak perlu repot-repot melakukan hal ini nanti kamu lelah" Putra menghampiri Ameli yang tengah meletakkan kemeja warna maroon di atas tempat tidur.


" Hanya menyiapkan pakaianmu tidak akan membuat aku sakit kan?" elak Ameli tertawa kecil melingkarkan tangannya memeluk tubuh tegap suaminya itu.


" Baiklah kalau itu mau mu, tapi ingat jangan terlalu capek" Putra mengacak rambut halus Ameli membuat Ameli melepaskan pelukannya tidak mau rambutnya tambah berantakan.


" kamu mah, rambut aku kan jadi berantakan" Ameli memukul pelan dada Putra membuat Putra tergelak tertawa melihat muka istrinya yang manyun.


" tetap kelihatan cantik kok" Putra seraya mengenakan pakaian yang telah disiapkan Ameli.


" Put, aku boleh pergi keluar tidak hari ini" Ameli berniat bertemu dengan ketiga temannya waktu masih kuliah dulu.


" Pergi kemana? sama siapa?" Putra bertanya beruntun membuat Ameli menggelengkan kepalanya gemas.


" satu-satu dong, kayak di kejar anjing aja" Ameli meledek suaminya yang tengah bersiap.


Putra memasang ekspresi wajah galak seperti menuntut Ameli untuk segera menjawab pertanyaannya tadi.


" iya deh, aku jawab. aku mau pergi ke mall sama temenku waktu kuliah dulu" jelas Ameli membantu memasangkan dasi berwarna hitam itu dileher baju Putra.


" baiklah, bersenang-senanglah. Nanti akan ku transfer uang untukmu dan traktirlah teman-temanmu juga".


" terimakasih sayang" Ameli kembali memeluk tubuh tegap suaminya itu. Entah sudah berapa kali mereka saling berpelukan pagi ini.


Senyum mengembang di wajah cantik Ameli mencium punggung tangan Putra mengantarnya sampai ke mobil yang telah ditunggu oleh supir pribadi Putra.


" Aku berangkat kerja dulu ya sayang" Putra mencium pucuk kepala Ameli.

__ADS_1


" iya, hati-hati"


Mobil mewah yang ditumpangi Putra sudah menghilang dari pandangan mata Ameli pagar rumah pun otomatis tertutup setelah pak Ahmad memencet tombol pada remot ajaib yang dapat membuka maupun menutup pagar tinggi dan besar itu secara otomatis.


Ameli tidak sadar kalau sedari tadi ia bengong memperhatikan pagar tertutup dengan sendirinya. Ameli memang masih baru berada dirumah ini sehingga ia harus menyesuaikan diri dan terkadang di buat heran oleh teknologi canggih yang dikenakan dirumah ini.


Bahkan Ameli pernah ketakutan saat pertama kali masuk rumah ini karena semua lampu dirumah itu akan menyala secara otomatis saat ada yang memasuki ruangan tersebut. Awalnya Ameli mengira itu adalah ulah makhluk ghaib sejenis jin atau kuntilanak. Namun setelah diberitahu oleh Putra ia sudah merasa tenang karena ternyata semua lampu dirumah ini dilengkapi dengan teknologi sensor gerak dimana lampu akan menyala apabila ada gerakan yang terdeteksi. owalah.


Hari sudah pukul sembilan pagi, itu artinya Ameli harus segera bersiap untuk menemui teman-temannya ditempat yang telah mereka sepakati.


Suara lagu body speak milik rossa yang menjadi nada panggilan masuk ponsel milik Ameli mengagetkan Ameli. ia segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan masuk tersebut.


" halo mel" ucap suara cempreng Septi dari seberang sana.


" waalaikumussalam" Ameli memang sudah tahu kebiasaan temannya itu. Sehingga ia langsung menjawab salam untuk mengingatkan.


" eh iya lupa mel, Assalamualaikum maksudnya hehe" Septi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.


" kamu dimana mel, kita bertiga udah mau sampai nih" tanya septi.


" ya udah jangan lama-lama kalau bisa ngebut aja hehe"


" iya, iya" Ameli bergegas dan memanggil pak Ardi supir pribadi yang disiapkan Putra khusus untuk Ameli.


" pak Ardi tolong antar saya ke mall X yah" pinta Ameli sopan.


" baik non" pak Ardi bergegas mengambil mobil yang sudah ia panaskan.


Tak butuh waktu lama Ameli telah sampai di mall X. Hanya sekitar dua menit saja waktu yang dibutuhkan Ameli untuk sampai ke mall ini karena memang rumah Ameli terletak sangat strategis dekat dengan berbagai fasilitas yang tentunya sangat memudahkannya.


" Sudah sampai non"


" makasih pak, pak Ardi tidak perlu langsung pulang saja. Nanti kalau saya sudah mau pulang saya akan telpon bapak" perintah Ameli yang tidak mau membuat supirnya itu bosan menunggu dirinya.

__ADS_1


" baik non" angguk pak Ardi mengerti dan melajukan mobilnya meninggalkan Ameli.


Ameli masuk ke dalam mall mencari keberadaan tiga temannya itu. Tidak begitu lama Ameli menemukan mereka yang tengah asik melihat-lihat baju disalah satu toko yang terpasang banner sedang diskon 50 persen. Ameli tertawa kecil menghampiri ketiga temannya yang berburu baju diskonan itu.


" hai, kalian pada ngapain. Tidak jadi nonton kah?" Ameli dari belakang.


" Ameli" histeria ketiganya melihat kedatangan Ameli.


Ameli memang sudah lama tidak berjumpa dengan tiga temannya itu. Terakhir ia bertemu mereka sekitar dua tahun yang lalu. Selama ini mereka hanya intens berkomunikasi lewat ponsel saja. Hal tersebut disebabkan karena kesibukan masing-masing. Apalagi Septi dan Lyna bekerja di luar kota serta Siti yang melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.


Mereka saling berpelukan dan cepika-cepiki meluapkan rasa rindu yang telah mereka tabung selama dua tahun terakhir.


" ya Allah, akhirnya bisa kumpul sama kalian lagi" lyna meneteskan air matanya terharu.


" jangan nangis dong Lyn, kamu tambah jelek kalau nangis" ledek Septi yang tidak pernah berubah selalu saja ceria dan heboh.


" Aku tuh terharu tau, bisa lihat kalian setelah dua tahun tidak bertemu" Lyna mendengus kesal kepada septi.


" sudah-sudah tidak usah ribut, mending kita makan aja" ajak Ameli menghentikan adu mulut Lyna dan Septi.


" iya nih aku juga udah laper" Siti mengusap perutnya menandakan ia tengah lapar.


" kali ini aku yang traktir" Ameli memanfaatkan uang pemberian suaminya yang menurut Ameli terlalu banyak jika hanya untuk jalan-jalan ke mall saja. Putra memang suka berlebihan terhadap Ameli tapi Ameli menyukai hal itu.


" Alhamdulillah, uangku aman deh hehe" Septi menepuk tasnya sumringah.


Setelah berkeliling mencari tempat makan yang cocok dengan lidah mereka yang Indonesia sekali itu. Akhirnya menemukan tempat makan yang mereka sukai.


" eh tapi kan kalau makan disini harganya pasti mahal. kita cari tempat lain aja ya" pinta Septi merasa kasihan kepada Ameli yang pastinya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk mentraktir mereka.


" tidak apa-apa kok, sekali-kali makan yang mahal-mahal kan boleh juga" Ameli tersenyum kepada ketiga teman yang memasang muka tidak tega Ameli.


Teman-teman Ameli memang belum mengetahui status Ameli yang sudah berubah 360 derajat setelah menikah dengan seorang pewaris grup Hartono yang pastinya membuat hidup Ameli jauh dari kesusahan.

__ADS_1


" baiklah, tapi kamu yakin tidak apa-apa mel. Nanti kita disuruh cuci piring lagi gara-gara tidak bisa bayar" celetuk Septi membuat gelak tawa temannya pecah.


Mereka masuk ke dalam tempat makan yang terbilang sangat mewah itu. Menghabiskan banyak makanan sembari mengobrol mengenang masa lalu dan tak lupa untuk mengabadikan momen berharga itu.


__ADS_2