
Ameli mulai diserang rasa kantuk yang begitu hebat matanya seakan ingin tertutup saat itu juga. Putra yang memperhatikan istrinya yang sudah beberapa kali menguap itu langsung mengajak Ameli untuk pindah ke kamar.
" Sayang kalau sudah mengantuk pindah ke kamar saja" Putra mengelus pelan pucuk kepala Ameli.
" hooh" Ameli mengangguk pelan karena memang rasa kantuknya yang luar biasa.
Langkah demi langkah Ameli dan Putra menaiki anak tangga dengan terus berpegangan tangan.
Ameli mengganti bajunya dengan baju tidur begitupun dengan Putra. Setelah itu mereka menyikat gigi bersama saling bercanda dan tertawa. Entah mengapa semua hal yang mereka lakukan membuat mereka merasa berbunga-bunga.
Di sebuah kamar yang begitu luas dan dilengkapi berbagai fasilitas mewah tepatnya di ranjang yang berukuran king size Putra memeluk Ameli yang tak mampu ditolak Ameli.
" Sayang, lenganmu begitu berat dan besar dadaku sesak" Ameli mengeluh karena Putra memeluknya begitu erat seakan tidak mau ia lepaskan.
Putra hanya tersenyum bahkan mempererat pelukannya membuat Ameli mencubit gemas Putra.
Putra memang sengaja menggoda Ameli, baginya itu adalah hal yang menyenangkan apalagi Ameli yang sering salah tingkah.
" Putra aku gak bisa bernafas" Ameli sedikit berteriak membuat Putra tersenyum lagi karena rencananya berhasil yaitu membuat Ameli tidak jadi tertidur.
Jujur saja Putra begitu mencintai Ameli namun ia belum memiliki Ameli seutuhnya. Sudah hampir seminggu mereka menikah namun mereka belum benar-benar bersatu seutuhnya.
Hal tersebut bukanlah terjadi tanpa alasan ini semua karena kesalahpahaman Putra dan Ameli yang baru membaik hari ini.
" apa mau mu, aku bukan bantal guling tau" Ameli menatap mata Putra membuat mereka saling tatap.
" Aku mau kamu seutuhnya" Putra menciup bibir Ameli lembut" membuat jantung Ameli tak karuan.
jantungku berdetak cepat sekali, semoga Putra tidak mendengarnya.
Bukan hanya jantung Ameli saja namun juga Putra yang begitu berdebar seakan jantungnya akan melompat saja.
Ameli dan Putra menghabiskan malam itu dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Kini mereka telah benar-benar bersatu.
18+++
****
Pagi ini Ameli terbangun lebih lama daripada biasanya. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya namun semua percuma karena ia dijadikan bantal guling oleh Putra. Tubuhnya terkunci dalam pelukan pria tampan itu. Ameli menatap wajah suaminya dalam membuatnya tersenyum lebar, ia tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Intinya ia merasa sangat sangat bahagia.
"aku mencintaimu" Ameli mengelus-elus wajah tampan Putra membuat Putra mengerjapkan matanya merasa geli.
"aku juga mencintaimu sayang" Putra mencium bibir Ameli lembut.
" Put, aku mau mandi kamu lepasin pelukan kamu" pinta Ameli yang memang merasa risih dengan tubuhnya yang bau keringat dan beberapa bercak darah di tempat mereka tidur.
__ADS_1
" tidak mau, aku mau kamu" Putra mempererat pelukannya yang sepertinya memang kebiasaannya memeluk Ameli seperti bantal guling.
" ini sudah siang, apakah kamu tidak ke kantor?" Ameli berusaha mencari-cari alasan agar ia bisa lepas dari pelukan Putra.
" itu kantorku, jadi aku tidak perlu bersusah paya untuk ke kantor" Putra memejamkan matanya menempelkan menempelkan kepalanya di bahu Ameli.
" Baiklah aku beri waktu lima menit , setelah itu kamu harus melepaskan pelukan mu" rengek Ameli yang sebenarnya ia merasa senang dengan sikap manja Putra.
" hmm" jawab Putra mencium pipi Ameli.
Setelah lima menit lebih Putra melepaskan pelukannya membiarkan Ameli pergi untuk mandi. Ameli turun dari ranjang perlahan karena seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri terutama di bagian itu.
Ia berjalan perlahan-lahan menuju kamar mandi yang tidak terlalu jauh sebenarnya. Namun, karena semalam tubuhnya sakit semua sehingga kamar mandi terasa sangat jauh.
" Kamu kenapa sayang" Putra menghampiri Ameli yang tengah bertahan pada dinding dekat kamar mandi.
" badanku terasa nyeri dan sakit semua" Ameli mengeluh menatap Putra.
Putra tersenyum kecil mengerti kenapa istrinya itu merasakan sakit ditubuhnya.
" maaf kan aku sayang" Putra memeluk Ameli menempelkan kepala Ameli di dada bidangnya.
Putra membantu Ameli menuju kamar mandi dengan menggendong Ameli. Mereka mandi bersama.
****
Ameli tengah menata makanan pagi itu di meja makan dengan masih mengenakan celemek biru muda.
" nyonya biar saya saja yang menatanya" pinta Siti merasa tidak enak melihat nyonya dirumah tempat ia bekerja melakukan tugasnya.
" tidak usah, kamu bantu bik sumi aja di belakang biar ini saya yang selesaikan" Ameli lembut karena memang ia sudah menganggap karyawan dirumahnya sebagai keluarga.
" baiknya" Siti berlalu ke belakang membantu bik Sumi.
Putra menuruni anak tangga menuju meja makan dengan wajah berbinar mengenakan setelan santai namun tetap tampan seperti biasanya.
Ameli yang melihat kedatangan Putra pun memanggil suaminya untuk sarapan bersama.
" Sayang, ayo sarapan dulu" Ameli meraih tangan suaminya dan menyuruh Putra duduk.
" badan kamu kan lagi sakit kok sudah masak-masak lagi, kan ada Siti dan bik Sumi" Putra yang memang tidak pernah suka kalau Ameli mengurus rumah karena menurutnya itu akan membuat wanita yang ia cintai itu akan kesusahan.
" udah baikan kok, lagian cuma buat sarapan aja" Ameli berusaha membujuk Putra yang terlihat cemberut.
" oh iya Put, tadi mama Mirna bilang dia mau kesini katanya mau sarapan bersama" Ameli memberitahu Putra perihal mamanya yang akan berkunjung.
__ADS_1
" iya tadi mama juga sudah menelepon ku" Putra tertawa meledek istrinya itu.
ting...tong...
ting...tong...
Suara bel rumah menghentikan pembicaraan mereka berdua. Mirna datang membawa makanan kesukaan Ameli.
" Assalamualaikum"
" waalaikumussalam" Putra dan Ameli menjawab bersamaan dan segera mencium tangan Mirna.
Mereka duduk bersama dimeja makan.
" wah mama bawa apa nih" Putra yang melihat plastik yang ditenteng mamanya.
" oh iya, ini mama bawakan gado-gado makanan kesukaan istri kamu dan mama juga mau kasih jamu buat Ameli" Mirna memang datang berkunjung untuk memberikan jamu kesehatan untuk Ameli.
" Makasih ma, jadi ngerepotin mama saja" Ameli membuka plastik pemberian Mirna.
" sama-sama sayang" Mirna membalas senyum menantunya yang cantik itu.
Putra cemberut mendengar semua yang dibawa mamanya hanyalah untuk Ameli.
" Jamu untuk apa ma, lagian Ameli tidak suka pahit" Putra yang penasaran
Sedangkan Ameli hanya memperhatikan celotehan suaminya dengan mamanya yang menurutnya begitu hangat.
" ini jamu agar cepat hamil"
" uhuk..uhuk" Ameli kaget sampai tersedak.
" sayang hati-hati, makannya pelan-pelan" Putra menyodorkan air putih sambil mengelus badan belakang Ameli.
Sedangkan Mirna tertawa melihat kemesraan anak menantunya itu. Melihat Putra yang begitu perhatian dengan Ameli membuat Mirna tenang karena sosok Putra yang hangat sudah mulai kembali setelah beberapa tahun belakangan ini sikapnya begitu dingin dan sekenanya saja.
" Mama, tidak perlu minum jamu pun mama akan mendapatkan cucu secepatnya" goda Putra melirik Ameli.
" Apaan sih Put, malu sama mama" Ameli menepuk bahu Putra lembut.
" namanya juga usaha Put, tapi mama harap kalian bisa secepatnya memberikan mama cucu" Mirna mengelus pucuk kepala Ameli
" doa kan saja ma" Ameli tersenyum kepada ibu mertuanya itu.
Mereka bertiga menghabiskan sarapan dan asik mengobrol membicarakan tentang masa depan Putra dan Ameli.
__ADS_1