
Hari sudah kian sore menunjukan
pukul 16.00 WIB (Waktu indonesia barat) tak menyurut kan obrolan 2 (dua) orang
paru baya yang sedang asik berbincang di teras rumah pak mulyadi, ya dua orang
paru baya itu adalah pak mulyadi dan pak burhan dua orang yang sudah bersahabat
dari mereka kecil hingga masing-masing mempunyai anak.
“Di, gak kerasa yah waktu itu
terus berlanjut!”, ucap pak burhan kepada pak mulyadi saat mengenang masa-masa
mereka yang dulu masih muda. “iya han, gak kerasa juga anak-anak kita sudah dewasa.
Kata pak mulyadi kepada pak burhan.
Pak burhan memang sengaja datang
menemui pak mulyadi karna sudah lama tak bertemu sejakpak burhan dan keluarga
memutuskan untuk pindah rumah, tap walaupun keluarga mereka berjauhan tak
menutup akses untuk mereka tetap menjalin persahabatan yang sudah seperti
saudara. Sungguh persahabatan yang sejati.
“assalamualaikum”!, terdengar
suara lembut yang menyapa dari depan gerbang rumah pak mulyadi.
“walaikumsalam” ucapk kedua orang
tua bersamaan “sudah pulang kamu nak?” kata pak mulyadi
kepada seorang gadis yang baru saja tiba dan langsung menyalami kedua
orang tua dihadapannya.
“iya pak, lagi gak banyak kerjaan
di kantor” kemudian tatapan perempuan itu beralih dengan menatap seseorang yang
berada disamping ayahnya “om burhan yah?” tebak putri pak mulyadi kepada
sahabat ayahnya itu.
“iya nak, wah ternyata kamu tidak
__ADS_1
melupakan om yah, om kira kamu tidak mengenali om lagi karna sudah lama tidak
bertemu!” kata pak burhan dengan sambil menampilkangelak tawa diantara mereka.
“kamu sudah besar yah re dan cantik”! puji om burhan kepada putri pak mulyadi.
“ingat dong om, tapi tadi sedikit
mikir”! kata regyna putri pak mulyadi dengan manampilakan cengir kudanya dan
gigi yang putih. Yah, regyna ariska merupakan putri pertama dari psangan suami
istri pak mulyadi dan ibu teti. “maaf ya om gak langsung inget, makasih loh om
pujiannya regy jadi enak dibilang cantik”! tawa mereka pun menggelegar di sore
hari karna ternyata regy seorang yang ramah dan suka bergurau. “eh mksud regy
jadi gak enak” tawa pun kembali pecah.
“yaudah kalo gitu bapak sama om
lanjut aj ngbrolnya, re mau bersih-bersih dullu” pamit regy kepada ayah dan pak
burhan dan langsung masuk ke dalam kamar untuk merebahkan badannya yang terasa
sangat remuk.
ketemu yang empuk gini” regy langsung menghempasakan ditri dan berbaring
memejamkan mata, tak begitu lama regy pun seketika terlelap.
Diluar halaman dua orang paru
baya masih terlihat asik berbincang sambil menikmati suasana sore hari dengan
ditemani cemilan danminuman yang disiapkan oleh istri pakmulyadi.
“di, ini waktu yang tepat untuk
kita bahsa janji kita dulu”, pakburhan menatap pak mulyadi untuk mengingatkan
janji yang dulu mereka ucapkan.
“menurutmu begitu ya han? Tapi
kenapa aku merasa masih belum pas, aku takut mereka tidak menerima”, suara
lirih dari pak mulyadi yang merasakan kecemasan.
__ADS_1
“aku yakin semua baik-baik saja
dan mereka pasti lambat laun akan menerima perjodohan ini, kau tau kan aku tak
mau menerima penolakan walaupun itu dirimu” tegas pak burhan kepada pak
mulyadi, tapi memang seperti itu watak dari laki-laki itu yang sekarang sudah
berumur hampir setengah abad.
“cih, selalu saja kau ini tak
pernah berubah”! kesal pak mulyadi terhadap sikap sabahat nya itu yangmemang
tidak pernah mau menerima penolakan. Pak burhan pun tertawa melihat tingkah pak
mulyadi selalu saja terlihat kesal. “ya sudah terserah kau saja, kau lah yang
mengaturnya, aku dari pihak wanita hanya mau terima beres nya saja”. Canda pak
mulyadi kepada pak burhan mengenai pernikahan.
Saat kedua orang tua itu sedang
tertawa dangan perbincangan mereka tak lama kemudian ada 1 buah mobil mewah
yang datang ke rumah pak mulyadi.
“assalamulaikum” pria itu
langsung menyalami pak mulyadi dan pak burhan dengan senyuman tampannya an
dibalas salam oleh kedua orang itu dihadapannya. “pa, om apa kabar”. Tanya pria
itu kepada pak mulyadi
“baik nak rey, kamu bagaimana
kabarnya, sini duduk?”, kata pak mulyadi kepada pria itu yang tak lain anak
pertama dari pak burhan danistriny aibu sintia.
“rey baik om” jawab anak pak
burhan dengan sopan,
“syukurlah, semakin deawas kau terlihat semakin tampan
saja rey” goda pak mulyadi dengan tawanya “pasti dong di, kau lihat dulu pabrik
__ADS_1
dan onderdilnya yang menghasilkan seperti ini”! canda pak burhan dengan
menjawab godaan pak mulyadi. Dan mereka pun tertawa.