Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 9: The Wish Forest


__ADS_3

Itu sudah siang. Akan tetapi, Herms tidak begitu yakin akan apa yang dirasakannya, karena dari dalam gubuk tampak langit di luar sana sangat gelap.


Keheningan itu mendadak pecah, sayup-sayup terdengar bunyi air mengalir di sisi gubuk mereka. Dengan tubuh Herms yang masih lemah, ia berjalan ke luar melewati pintu yang telah diperbesar. Ia meninggalkan Marry dan Agni sedang memakan buah yang mereka temukan di sekitaran gubuk.


Sebuah sungai kecil, tiba-tiba ada di sebelah gubuk. Sungai itu tampak memanggil Herms, Herms mengelilingi setiap sudut hutan yang bisa terjangkau oleh matanya.


"Tempat apa ini? Seperti tidak asing, Marry ... aku harus bicara padanya," tandasnya.


Herms mengangkat wajahnya ke arah langit. Awan-awan memang masih berkutat di sekililing mereka, menjadikan tempat ini terasa sangat menakutkan. Tapi, sebisa mungkin Herms menghilangkan rasa takutnya. Herms mengambil air menggunakan kantung semar dan membawakannya untuk Marry.


"Marry, apa kau pernah membaca sesuatu tentang tempat seperti ini?" tanya Herms sembari memberikan air kepadanya. Marry menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kau menemukan benda itu?" lanjut Herms menunjuk kotak yang kelihatan tak begitu asing baginya. Marry hanya diam dan tersenyum.


"Marry? Apa kau lupa, bahwa kau sudah bisa bicara?" Marry menatap Herms dan menggelengkan kepalanya. Herms kebingungan melihat sikap Marry. "Apa kau baik-baik saja?"


"Iya, Ayah! Aa-ku masih tidak percaya jika ini suaraku, terasa a-neh saja ... maafkan aku, aku tidak ingin bi-cara!" ocehnya.


"Kau baru saja bicara! Teruslah bicara, aku ingin mendengarnya, kau terdengar seperti dirinya. Suaramu indah seperti dirinya," imbuh Herms.


"Ibu? Apa aku seperti dia?" Herms mengangguk kecil mendengar pertanyaan Marry. "Baiklah aku a-kan terus bicara, aku juga merindukan ibu-ku. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan i-ni semua, aku pikir ibu menyayangiku. Tapi dia–"


"Apa kau sedang bicara tentang Sue? Ibu tirimu?" sela Herms saat mendengar pernyataan Marry.


Marry melirik ayahnya sembari berkata, "Apa kita tidak bisa pulang? Aku merindukannya."


"Ayah pikir kau sudah tahu siapa itu ibu tirimu?"


"Aku tahu, dia Vampire 'kan? Dan--" Marry terhenti, dan membuang wajahnya ke arah Agni. "Maaf! Ayah ...," lanjutnya saat menyadari kekacauan yang terjadi kemarin adalah karena ulah Ibu tirinya itu.


"Hhh, tidak apa-apa, Nak ... sekarang beritahu aku, apa saja yang sering dia lakukan kepadamu? Apa dia sering melakukan hal buruk di belakangku? Seperti memukul atau apapun itu?" tanya Herms penasaran.


"Ayah--"

__ADS_1


"Aku tidak begitu mengingat semuanya dengan jelas, karena penjahat itu!" gumamnya perlahan. Marry, masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas.


"Ibu Sue, selalu baik ke-pa-daku, dia hanya akan menghukumku, saat aku melakukan ke-salahan besar. Dia bahkan sering membereskan darahku ji-ka aku terluka. Jangan terlalu khawatir."


"Membereskan? Apa maksudmu?" sela Herms


"Itu ... Jika aku terluka, Ibu yang akan membantu membersihkannya, dia sangat perhatian. Memang, te-rasa sakit saat dia terus menekan anggota tubuh yang terluka, da-rahku juga dimasukkan-nya ke dalam tabung berukuran kecil –"


"Marry ...," sela Herms menatap Marry dengan penuh amarah.


"Ya?"


"Dia meminum darahmu!" Giginya dirapatkan saat mengucapkan kata tersebut. Ingin rasanya Herms mencabik Susan Smith.


"Apa? Kenapa? Tidak! Kenapa dia mau mi-num darahku? Aaah, itu karena–"


"Itu bukan hanya karena dia seorang vampire, tapi karena darahmu dapat menguatkan mereka. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kuperbuat. Apa Susan sudah tahu kau seorang Dahlia, karena berhasil memengaruhiku?"


"Ini belum saatnya, aku yakin kau kebingungan saat ini. Entah karena ucapan tentang plant controlling, Dahlia dan semua yang terjadi belakangan ini. Jika sudah aman, aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang, bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini, bagaimana menghindari Susan dan Black Shadow si Tuan Kegelapan itu. Serta, bagaimana menghilangkan racun pisau emas yang ada dalam tubuhku," ungkap Herms menatap Marry yang tampak bingung.


"Pisau emas? Kau terluka karena itu 'kan? Apa itu sangat be-racun? Berapa la-ma kau bisa bertahan? Aku sudah mengobatimu 'kan? Ayah?" ujarnya terdengar merengek.


"Sepuluh hari, hanya sepuluh hari saja aku bisa bertahan. Kita harus keluar dari tempat ini dan mencari bibimu, Laura Quirkell! Setidaknya, terima kasih untuk momen pertamamu sebagai Dahlia, aku bisa melihatnya sendiri. Kau, menyembuhkan dirimu sendiri Marry," jelas Herms pelan.


Marry tak bisa berkata apa-apa, dia merasa dirinya terlalu bodoh untuk memahami situasi ini. Bagaimana bisa semuanya terjadi? Membuat Marry semakin bingung.


***


Ini malam kedua mereka tidur di alam terbuka, sayangnya langit tak menampakkan bintang. Ini hutan, tapi mereka seperti berada di tempat antah berantah. Baru tadi pagi luka Herms diobati, Herms mulai tampak membaik. Sepertinya racikan obat Marry mampu memperlambat racun dalam tubuhnya.


Marry duduk di depan gubuk bersama Agni, menemani kegelapan yang kesepian di luar sana. Kasihan sekali si malam, ia bahkan tak ditemani bintang.

__ADS_1


"Seandainya ada api dan kayu bakar, a-kan sangat hangat!" bisik Marry pada Agni, si kucing lucu itu hanya diam dengan bulu-bulunya yang semakin mekar pertanda kedinginan.


"Marry?" Suara Herms membuatnya menengok.


"Hah, dingin sekali!" Marry berdiri dan berbalik menuju gubuk. Namun terhenti karena sesuatu hal. "Api? Ayah! Ada api di sini!" serunya.


"Bukan kau yang membuatnya?" Herms keluar untuk melihat yang Marry katakan.


"Bukan! Tidak, aku tidak melakukannya! A-neh!"


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Herms tiba-tiba.


"Aku hanya berkata me-nginginkan api dan kayu bakar, i-tu saja!"


"Wah! Itu berarti, tempat ini adalah Wish Forest! Tempat di mana semua keinginanmu bisa diwujudkan." Herms tersenyum.


"Apa maksudmu ayah? Aku tidak mengerti!"


"Selamat datang di Wish Forest, saat wangi angin dan pepohonan menjadi taman bermain para peri. Segala inginmu bisa jadi kenyataan."


"Wish Forest?" Dahi Marry mengernyit.


"Kita tersesat di Hutan Permintaan, itulah sebabnya semua keanehan ini terjadi. Obat-obatan yang kau temukan, kotak dan Agni, lukaku yang tidak terlalu sakit lagi, kayu bakar itu dan mungkin saja gubuk itu, bukan kau yang membuatnya melainkan karena keinginanmu untuk berteduh. Itu semua karena kita berada di Wish Forest," ungkap Herms mengembuskan napas penuh kelegaan. Begitu bersemangat.


"Jika yang ayah ka-takan tentang gubuk itu benar? Aku se-tuju. Tapi, aku sama sekali tidak berpikir untuk berlindung maupun mem-buat gub-uk itu. Aku tidak mengerti!"


"Ah, jadi gubuk itu ...." Lidah Herms terhenti. "Nanti saja, aku akan menjelaskan saat kita berhasil keluar dari tempat ini." Marry mengangguk pertanda mengikuti keinginan sang Ayah.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2