Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 12: For Goodness


__ADS_3

Luka yang tadinya tampak membaik, kini perlahan terasa sedikit perih. Melihat keadaan Ayahnya yang masih kesakitan, Marry hanya bisa berhambur ke pelukan Herms.


Beberapa kali pula Marry mencoba untuk menyentuh kalungnya, berharap cahaya aneh mau menghilangkan rasa sakit Herms. Namun sayang, kali ini kalung itu tak bereaksi.


Hal itu membuat Marry putus asa. Menahan segenggam kesedihan, Marry memapah Herms menuju kamar di sebelah perpustakaan. Membaringkan tubuh yang lebih besar itu, di ranjang kecil milik bibinya.


Kini, menunggu Alena adalah kesempatan mereka. Hanya Alena yang bisa membantunya agar dapat segera bertemu dengan Laura Quirkell. Bibi yang tak pernah ditemui, namun mulai dirindukan oleh Marry.


Unik. Sedari tadi hidung Marry bereaksi pada aroma lezat. Sepertinya, rumah ini benar-benar hidup, sesekali Marry bisa mencium aroma kentang panggang, dan roti madu selai kacang, maupun aroma keju renyah yang ditabur di atas waffle cokelat.


Entah perut atau kepalanya yang tengah berimajinasi saat ini. Marry duduk di sebelah ranjang dan tertidur dalam keadaan lapar. Sedangkan Herms masih belum bergerak, tampaknya pingsan Dan Marry tak menyadari hal itu.


***


Seminggu sudah Susan Smith mencari keberadaan Herms dan Marry, namun semua hanyalah sia-sia belaka.


Black Shadow mulai tenang dalam sesi pencarian Marry, daripada mencari Marry yang hilang entah di mana, dia lebih memlih meminum darah baru setiap harinya. Hal iniĀ  tentu saja tidak sejalan dengan Susan, dia begitu ingin menemukan Ayah-anak itu dan membunuh mereka dengan tanganya sendiri.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan jejaknya?" Susan mengemukakan apa yang ada dalam benaknya.


"Maafkan aku nyonya, Black Shadow tidak ingin terlibat dalam pencarian lagi. Dia tidak suka berlama-lama, aku tidak akan mencarinya tanpa izin Black Shadow," ujar pria berjubah cokelat pergi dan terbang menjadi kelelawar merah.


"Dia itu! Dia hanya menginginkan darah Marry tapi tak ingin mencarinya, aku benar-benar bodoh. Tapi tunggu sebentar, Jenny pasti mengetahui sesuatu, akhir-akhir ini dia selalu mengurung diri di kamarnya." Susan bergegas menemui Jennifer.


***


"Apa yang sedang kau lakukan? Kau bahkan tidak makan?" tanya Susan menatap wajah pucat Jenny. Jennifer membatu di ruangan kecil ini, bahkan tak berselera mendengar suara wanita yang setiap hari dipanggilnya ibu.


"Makan? Apa aku harus memakan daging manusia juga? Tidak cukupkah meminum darahnya dan sekarang aku harus memakannya juga." Akhirnya bicara, Jenny malah membuat Susan geram.


"Jennifer!"

__ADS_1


"Aku masih tidak percaya, kau melakukan semua itu untuk dirimu sendiri. Kau bilang padaku, dengan mengonsumsi darah Marry bisa membuatnya kembali berbicara. Itu akan membantu membuang racun cokelat yang kauberikan saat dia masih bayi. Tapi apa? Kau pembohong besar!" Tatapan Jennifer sangat kesal.


"Maafkan ibu! Tetapi, apa kau terpikirkan sesuatu? Tentang ke mana ayahmu pergi? Ini sudah satu minggu dan belum ada tanda-tanda apapun tentang dirinya maupun Marry." Susan mencoba mencari tahu arah pikiran putrinya, tanpa peduli apa yang Jennifer rasakan.


"Maaf ibu, seharusnya kau bukan datang padaku. Apa kau pikir bisa melacak mereka dengan membaca pikiranku? Datanglah pada Black Shadow! Sebentar, apa sekarang kau ditinggalkan? Malangnya ibuku!" Bibirnya tersungging kecil, tanda meledek Susan.


"Jenny!" Susan menjadi sangat kesal.


Garis biru keunguan tumbuh di sekeliling wajahnya, lensa mata berubah kemerahan. Napasnya sedikit tersengal, sesekali ia menelan saliva. Berharap takkan menyakit Jenny dan memutuskan pergi meninggalkan ruangan itu.


***


Susan berdiri di depan goa tua, menanti sang kelelawar merah. Tak lama kemudian, kelelawar merah mendarat di hadapannya. Sekejap, menjadi lelaki berjubah cokelat. Tak terlalu tampan, tapi cukup untuk menganggap dia manusia biasa.


"Dia mengizinkanmu masuk!" ucapnya seketika.


Sue memantapkan kakinya maju menghadap Black Shadow.


"Professor? Hmmm? Ada hal baik apa? Kenapa tiba-tiba memanggilku seperti itu? Apa yang kau inginkan?" Black Shadow memalingkan badan tegapnya.


"Kumohon jangan tinggalkan aku seperti ini, biarkan para kelelawar kembali mencari Herms. Akan kulakukan apapun untukmu, biarkan aku menemukan Marry. Bukankah kita sangat membutuhkan darahnya. Meskipun kau membunuh seribu orang sekali pun, itu tidak akan menggantikan darah seorang Dahlia. Darah keabadian, kumohon jangan berhenti seperti ini."


"Sue, inilah dirimu yang sebenarnya! Kau hanya melemah di hadapan putrimu, beri sihir Hippno padanya!" ucap Black Shadow tiba-tiba.


"Apa maksudmu?"


"Baca pikirannya! Jika kau tidak ingin menggunakan Hippno pada puterimu! Dia tidak bisa berguna! Pikiran putrimu dan Marry saling terhubung."


"Aku sudah membaca pikirannya, tetap saja tidak bisa. Tolong, jangan sihir. Itu akan sangat berbahaya bagi puteriku. Aku percaya padamu! Ini tidak semudah mencari padma 15 tahun yang lalu. Puterinya jauh lebih kuat, aku yakin Marrietta lah yang telah melindungi Herms!"


"Padma? Apa kau baru saja menyebut namanya?" sela Black shadow menyadari sesuatu.

__ADS_1


Ingatannya melayang sesaat, teringat perempuan berkulit putih yang dimangsanya belasan tahun lalu. Padma, seorang kelahiran Bangsa Flore. Dilahirkan dari rahim seorang Dahlia, dan ditakdirkan menjadi Ibunda sang Dahlia.


"Ada apa?" Sue penasaran.


"Hanya ada dua tempat untuk mereka bersembunyi. Pertama, kediaman keluarga Quirkell dan yang kedua hutan permintaan. The Wish Forest, mereka pasti di sana. Bukankah itu tempat kelelawar pembunuh menemukan Padma dahulu?"


"Hah? Kau benar sekali, kenapa kita tidak memikirkannya!"


Black shadow membuka penutup kepalanya dan menyentuh rambut putih.


"Dravis, bawa Jenny padaku!" teriaknya dengan tatapan yang membuat Susan Smith menelan ludahnya beberapa kali.


"Apa? Tidak! Jangan gunakan puteriku!"


"Sue, kau juga telah membiarkan aku memperalat puterimu saat ia masih bayi. Dia sudah dewasa, keinginannya untuk bertemu Marry bisa terwujud di sana. Bawa Nona Goldstein padaku, Dravis!" senyumnya dalam kabut.


Pria yang dipanggilnya Dravis membungkuk beberapa kali lalu berjalan menuju Susan. Pria berjubah cokelat itu, menatap susan dengan tatapan dingin dan terbang menjelma menjadi wujud aslinya. Dulu Dravis bekerja sebagai pegawai di rumah lama Herms dan Padma, namun hanya sebagai mata-mata Black Shadow.


Susan memang mampu menarik sedikit napas lega, balas dendamnya masih berlanjut, yang dia butuhkan hanyalah Herms. Semua ini demi Oliver Goldstein, mantan suaminya. Setidaknya peluang untuk menyaksikan kematian Herms karena pisau itu, bisa Susan lakukan.


Menyenangkan sekali pada akhirnya bisa bertemu dengan Black shadow, setidaknya Susan memliki sekutu. Walaupada akhirnya Jennifer lah yang menentukan langkah mereka selanjutnya.


***


Susan kembali ke rumahnya. Ia gusar akan konsekuensi Yang akan menimpa puteri kesayangannya.


Kelelawar merah bertengger tepat di depan jendela kamar Jennifer. Susan meyakini, bahwa ini semua demi kebaikan mereka. Ia mantapkan hati, dan memilih mengorbankan Jennifer sebagai umpan atas balas dendam mereka.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2