
Pepohonan bergerak cepat, menutup pintu yang baru saja dilewati segerombolan kelelawar. Sementara itu, Susan Smith berhasil keluar dari hutan permintaan.
Black shadow berdiri di hadapannya, memperhatikan tempat yang tak asing ini.
"Sepertinya kita kembali ke Okrey, Sue?" tanyanya menolehkan kepala beberapa derajat, hingga menampakkan hidung mancung yang berkeriput.
"Aku hanya memikirkan Jenny, bukan kuasaku untuk memutuskan kemana hutan permintaan akan membawa kita. Kau juga tahu benar akan hal itu."
"Kembalikan kotaknya padaku," pintanya pada Dravis, mengabaikan jawaban Susan.
"Ini, Tuanku!"
Kotak pemicu memori, sebuah kotak yang harus dipertahankan Black shadow dengan upaya membunuh pemilik aslinya. Sayang, sang pemilik tidak dipilih begitu saja menjadi penjaga hutan permintaan. Mereka adalah makhluk spesial, sehingga dia tak tewas dalam pergulatan melawan Black Shadow.
Itulah sebabnya Black shadow tak mampu membuka gerbang hutan permintaan, sementara dia memiliki kotak pemicu memori. Karena pemilik dari kotak itu adalah Rose Whitby, nama itu terukir jelas di bagian bawah kotak Dellivana. Seorang mantan penjaga hutan permintaan, seorang yang kelak akan menjadi pelatih Marrietta, sesuai ramalam Yovanka beberapa tahun lalu. Sebuah ramalan yang disembunyikan keluarga Quirkell dan sahabat.
***
"Aku akan melanjutkan pencarian Marry dan Herms." Black Shadow menatap Susan.
"Pakailah jalur udara, kau harus menghemat tenagamu. Kurasa dengan menjadi kelelawar kau bisa lebih mudah mencarinya," saran susan.
"Tidak, aku akan menggunakan jalur hutan."
"Dan kau akan bertemu hutan permintaan lagi, lalu terjebak!" teriak Susan.
"Kau! Carilah puterimu, dia pasti mengetahui keberadaan Herms."
"Kenapa kau lakukan ini? Kenapa terus mengganggu Jenny? Coba kau periksa saja di Arsk. Mereka pasti ada di sana. Laura Quirkell pasti menjaga mereka." Susan semakin kesal.
"Baiklah! Kita tidak perlu mencari Jennifer. Dia juga tidak berguna."
"Tapi, dia putriku!" Susan tiba-tiba berubah.
"Apa dia putriku?" tanyanya kepada susan dengan alis kiri menukik ke atas. "Ingat, kau berhutang nyawa padaku. Begitu pun, Jennifer!" Black Shadow mencengkeram dagu Susan.
Susan terdiam, kini terjebak. Jika bukan karena balas dendam untuk apa dia menerima semua perlakuan ini? Tapi, dia memang tak punya kuasa apapun.
"Aku tidak bisa gegabah, mereka adalah pelarian. Apa menurutmu mereka akan mendatangi, tempat yang mudah ditebak, jika memang benar mereka di sana. Si penjaga hutan itu pasti akan menyembunyikan mereka di suatu tempat," sambungnya.
"Bodoh," umpat Susan dalam hati. "Aku akan mengawalmu. Akan sia-sia saja mencari Jenny sekarang."
"Kau semakin tidak tahu diri, siapa kau berani mengaturku?" Kuku tajamnya menembus kulit dagu Susan.
"Aku hambamu, maaf!" Susan pun dilepaskan setelah mengucapkan hal itu.
"Aku lewat udara, kau lewat hutan dan tetap cari putrimu," perintahnya. Susan mengangguk. Keinginannya untuk tak mengusik Jenny, gagal.
Meskipun ada luka di ujung hati, tapi dendam menutupi segalanya. Jika tujuan utama Susan adalah Herms, maka tujuan utama Black Shadow adalah Marry sang Dahlia.
***
Malam semakin pekat, mimpi buruk itu terasa nyata, ada sesuatu di sana. Marry yang panik tidak menyadarinya. Dirinya terfokus pada rasa aneh di tengkuknya.
__ADS_1
"Marry, Marrietta lihat aku? Sekarang kau tidak bisa bicara?" Laura mencoba menenangkan. Marry menggeleng panik, suara serak pun bahkan tak mau keluar dari bibir kecilnya.
Laura memeluknya erat, seketika kebingungan.
"Alena!" ucapnya bergegas keluar meninggalkan Marry yang mulai menangis. Otaknya mendadak bertemu cahaya kecil dengan ide di baliknya.
"Alena! Tolong aku!" Alena pun keluar dari rumah pohonnya. Menuju kamar tidur Marry.
"Ada apa?" Terkejutnya begitu melihat Marry ada di pelukan Laura.
"Carikan aku apel emas dan daun mint, sekarang juga!" pintanya berdiri ke arah pintu mendekati Alena, sesaat melepaskan Marry.
"Kenapa?"
"Tidak perlu bertanya, pergilah! Sebelum terlambat!" Alena bergegas terbang menuju angkasa. Gelap malam tak menghalanginya, peri pekerja ini bertekad menemukan permintaan Sang nona.
Tapi, di mana aku bisa menemukan apel emas? Batinnya merajuk.
***
Laura kembali kepada Marry. Marry tampak meringkuk di ranjang, wajahnya mendadak pucat. Bukan hanya mimpi buruk yang membuatnya setakut ini, suara indahnya kini berada di ujung tanduk.
"Aku akan membuatmu kembali berbicara, tolong tenang lah. Ayahmu bisa bersedih jika melihatmu seperti ini."
"Aa ... aa-a-aa ...." Marry menggeleng.
"Tenangkan dirimu, cobalah untuk mengeluarkan kekuatanmu. Apa kau butuh sesuatu?"
Benarkah aku seorang Dahlia? Benarkah itu aku? Lalu, kenapa aku selemah ini? Batinnya mulai menyiksa.
"Tidurlah, semua ini hanya mimpi buruk. Kuyakin saat terbangun besok pagi, suaramu akan kembali lagi." Laura mencoba meyakinkannya.
Marry lagi-lagi menangis, suara seraknya mulai menggema. Terlampau penasaran, Laura mengambil kertas dan pena, lantas meminta Marry menulis. Dalam keadaan terisak, Marry pun menuliskan kata per-kata.
Aku bermimpi, melihat Black shadow. Aku tidak begitu mengingat kejadian itu, tapi itu terasa nyata. Dinginnya malam bahkan membuat kulit wajahku perih. Mimpi apa itu?
"Kau yakin tidak pernah mengalaminya?" Laura bertanya, Marry menggeleng ragu. Sejenak berpikir, lalu lanjut menulis.
Itu terasa nyata, sehingga aku seolah merasakan semua ketakutannya, tetapi aku tidak ingat jika itu pernah terjadi.
"Apa itu? Apa kau melihat masa depan? Hhah...," tanya Laura. Marry kembali menggeleng, keningnya mengernyit, napasnya mulai tersengal.
Laura membelai rambut Marry, setelah itu berjalan menuju pintu. Ia sejenak menoleh ke belakang, melihat Marry yang tertunduk lemas di ranjang.
"Aku harus beritahu Herms," gumamnya ragu, "akan aku ambilkan air," lanjutnya.
Laura berpikir keras tentang apa yang dimaksudkan Marry. Mimpi seperti apa itu?
Diberikannya air putih kepada Marry, gadis itu akhirnya meneguknya. Laura terus memperhatikan, berharap suara Marry akan keluar. Tapi, nihil. Marry hanya terbatuk.
Laura membaringkan Marry, mata keduanya bertemu di satu titik. Kegelisahan Marry begitu nampak, pun Laura yang perlahan mulai menangis.
"Ceritakan mimpimu, saat suaramu telah membaik." Laura menyentuh helai rambut Marry yang basah karena keringat. Marry mengangguk mendengar ucapan bibinya.
__ADS_1
***
"Herms aku harus bicara." Laura memasuki kamar Herms dengan penuh kekalutan. Herms pun terbangun dan menanyakan hal yang membuat Laura tampak sangat kacau.
"Marry bermimpi buruk, dan kini tidak bisa bicara lagi."
"Apa maksudmu?"
"Aku memintanya menulis di kertas, dan lihat ini!" Laura memberikan tulisan tangan Marry kepada Herms.
"Hal yang terasa nyata? Apa ini?" Herms menatap Laura usai membaca tulisan tangan puterinya.
"Kurasa ini Vision dari Black Shadow, apa dia sudah semakin dekat? Atau Marry punya kemampuan melihat masa depan? Dia tidak bisa menceritakan tentang mimpinya sekarang. Ahh!" ungkap Laura meracau. "Kemana Alena? Kenapa dia belum kembali?" lanjutnya tampak kesal.
"Tenang lah, aku akan menemui Marry." Herms pun bergegas menemui puterinya.
Dijumpainya Marry yang duduk menghadap jendela.
"Kau belum kembali tidur? Bukankah aku sudah membaringkanmu?" Laura mendekatinya.
Bagaimana aku bisa tidur, Bi? Aku takut tidak bisa bicara lagi. Batinnya kacau.
"Marry, biarkan aku melihatmu!" Herms yang duduk di kursi kecil memegang tangan Marry, lalu menutup matanya.
"Apa yang ingin kau lakukan!" cegat Laura.
"Percaya padaku!"
"Herms kau sedang terluka, aku tidak sejauh mana racun pisau itu di tubuhmu."
"Otakku baik-baik saja, tenang lah." Herms segera memejamkan kedua mata.
Shyuuut!!!
Ini terjadi sangat cepat, udara di sini terasa sama, ada angin kecil yang terasa menyapu telinga Herms. Sepertinya kemampun Herms semakin membaik. Herms membuka mata, pengendali pikiran ini pun berhasil.
Dia berhasil menembus pikiran Marry hanya dalam satu detik. Ada banyak hal di sini, termasuk Padma yang sedang menyusui Marry dan tersenyum melambai kepada Jenny kecil.
Herms!
Herms kaget, suara Laura menyadarkannya.
"Apa yang terjadi?"
"Akan kucoba sekali." Herms kembali fokus.
Dia kembali ke sini, sebuah tempat yang tak asing.
"Ini halaman rumahku," ujar Herms, lantas menoleh ke arah gadis berbaju hitam yang dicabik-cabik sekumpulan kelelawar merah.
***
Bersambung.
__ADS_1