
Tok tok tok!
Dari luar sana langkah kaki terdengar sangat gusar. Marry membukakan pintu kamarnya untuk Jennifer. Dia tahu betul jika yang berada di balik pintu adalah kakaknya.
"Kau harus bersiap!" ujarnya tiba-tiba lemas.
Marry menatap Jennifer, sangat terlihat jelas wajah tidak bersalah Marry sedang memberikan petunjuk, bahwa dirinya tidak ingin melakukan malam hukuman. Mendengarnya saja pasti sudah membuatnya merinding.
"Aku tahu kau takut, Syang!" lanjut Jennifer memeluk Marry erat-erat. Keduanya larut dalam kesedihan. "Kau tahu, satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu adalah kebenaran. Jika kau tidak bersalah kau akan selamat!" Marry mengangguk dan tak bisa menahan tangis kecilnya.
"Baiklah adik kecilku, berdiri! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" katanya mengambil tongkat dari balik jaket putihnya.Marry terdiam sejenak, "Aku belajar ini dari Ibu, ayo berdiri!" Marry pun berdiri sambil melirik heran.
Jennifer memutarkan tongkatnya beberapa kali, dengan mulut bergerak pelan seolah berbisik, dan tiba-tiba Marry merasa tubuhnya melayang. Ketika dia terjatuh, ajaib, bajunya sudah berubah.
Gaun hijau kuno terpasang di badannya, dengan rambut yang masih tergerai. Jennifer menghampiri dan mencoba menenangkan kebingungan Marry. Dia mengikat rambut Marry dan langsung memeluknya.
"Apa itu sihir? Mereka vampire, dan sekarang sihir? Siapa mereka sebenarnya? Kenapa ayah mau menikah dengan Ibu Susan," pikir Marry kacau.
"Kau ingin membawa apa ke sana?" tanya Jennifer. Pada malam hukuman, siapapun terdakwanya bisa membawa barang yang bisa dianggap sebagai pembelaan. Namun, Marry hanya membawa hal yanh dianggapnya penting.
"Oh!" seru Marry menunjuk kotak hitam besar di sudut lemari dan menunjuk lukisan bergambar Agni dan Tow.
"Baiklah!" ringkas Jennifer seolah mengerti.
***
Malam hukuman pun akan segera dimulai, Jennifer membawa Marry ke ruang keluarga, dari situ, balkon ada di sisi kanan rumah. Marry tampak begitu takut. Sejak tadi dirinya belum bertemu Herms, membuatnya semakin menciut di hadapan Susan Smith.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Susan mengundang seseorang yang akan mengeksekusi Marry. Pemimpin Vampire kegelapan, sang Black Shadow, orang paling rahasia yang mengincar darah suci para pengendali tertinggi.
***
Dasarnya, pada malam hukuman, jika seseorang yang dituduh berbohong atau dihukum dari hal-hal yang berbau kejahatan dan melompat dari ketinggian yang telah ditentukan. Lalu, tidak terjadi hal buruk padanya, maka dipastikan dia tidak bersalah.
Malam hukuman merupakan ritual hukuman tua dari Brockleheart Sky. Di mana, murid-murid yang berbuat salah akan dipaksa meloncati pulau melayang. Jika dia jatuh memghantam bumi dan tewas. Dia bersalah. Namun, bila selamat. Dia benar atau tak pantas dihukum.
Sebuah hukuman terbar-bar yang pernah ada, tapi hukuman keji ini sudah dihilangkan sejak tahun 1950. Tiga tahun, setelah Padma diusir dari Stanome.
***
Herms datang menghampiri kerumunan itu, balkon rumah yang biasanya sepi, malam ini dihuni oleh semua anggota keluarga. Herms tampak aneh, hanya berdiri diam seperti orang bodoh.
Lilin ritual berbau wangi, diletakkan sejajar dengan tepi balkon. Bulan sabit mengintip di barat langit, beberapa derajat di atas horizon. Langit malam itu cerah, tanpa awan.
Herms masih terdiam, ia terhipnotis. Marry diseret oleh Susan ke sisi Herms. Herms bergeming, si badan tegap itu menatap kosong ke sembarang arah.
__ADS_1
"Itu hanya berlaku 10 menit, cepat minta Marry melompat!" ucapnya.
"Ibu, apa yang terjadi pada Ayah?" tanya Jennifer menghampiri Susan dan meninggalkan Marry di samping Herms. "Kenapa dia diam saja? Apa yang sudah kau lakukan?"
"Kau tid--"
Syuuut....
Bayangan misterius tiba-tiba menembus badan kecil Jennifer, menahan langkahnya untuk mendekat pada ibunya.
Di langit bergemuruh, tiba-tiba awan menutupi lagit. Udara menjadi lembab, bahkan hidung membeku karena terasa dingin.
Jennifer sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya kini, sosok itu tampak tak asing. Ia pernah melihatnya.
"Tuan?" pikir Jennifer sejenak. "Apa yang kau lakukan di sini?" mantapnya berjalan menghampiri bayangan yang kini telah menjelma menjadi sosok pria tua.
"Oh, Jennifer... Kau sudah semakin dewasa, berapa usiamu kini?" tanya orang asing itu terus menatap Marry yang mulai ketakutan. Marry terus menggenggam tangan Ayahnya yang masih diam seperti orang bodoh.
"Ibu untuk apa semua ini?" sela Jenny menatap tajam ke arah Susan.
Susan hanya diam dan melirik orang asing itu dengan senyuman menakutkan. Orang asing itu segera merangkul Jennifer. "Nona Goldstein, adikmu akan melakukan malam hukuman. Bersamaku!"
Jennifer terbelalak, kerongkongannya naik turun, "Apa?"
"Sudahlah Jennifer, bawa si Bisu padaku!" perintah Susan.
"Bagaimana menurutmu? Bawa dia padaku, Jenny!" tegas Susan.
"Tidak!" Jennifer menutupi Herms dan Marry dengan tubuhnya, ia merentangkan tangan sambil memegang tongkat sihirnya.
"Invito!" Susan melemparkan mantra pada Jennifer, tongkatnya terlempar.
Jennifer tak bisa melawan, dia tahu benar Susan adalah makhluk seperti apa.
Jennifer pun, berbalik mendekati Marry. Jennifer memalingkan wajahnya; tak tega dan menarik lengan kecil gadis berusia 16 tahun itu dengan pelannya. Marry bertahan di tempatnya berdiri, menolak untuk dibawa Jennifer, dia terus menatap lurus ke arah Herms yang sedari tadi masih membeku.
"Ayah, sadarlah! Aku akan dibunuh!" batinnya panik mulai menangis.
Marry menjatuhkan badannya tepat di hadapan Herms, dia menangis sambil memegangi kalungnya.
Biru, cahaya biru memancar keluar dari sela jemarinya. Tetesan air mata, perlahan jatuh ke lantai. Seolah hidup, air mata Marry bergerak pelan hingga menyentuh kaki Herms yang berdiri tanpa alas kaki.
Tiba-tiba, Herms mengedipkan matanya. Herms mendengar nyanyian peri dalam lamunannya.
Sadar. Herms mendapati Marry tersungkur di tanah, ia bergejolak menatap tajam ke arah Jennifer dan Susan. Dia pun mendorong Jennifer hingga tersungkur dan membantu Marry berdiri.
__ADS_1
"Apa yang sedang terjadi?" marahnya.
"Sayangku? Kau ...," Susan kebingungan, mantranya musnah. Mantra penakluk itu pergi dari Herms.
"Apa yang kau lakukan Susan? Mengapa Marry memakai baju itu?" tanya Herms.
"Oh, apa maksudmu? Bukankah kau yang memintaku untuk melakukan semua ini?" ucapnya, menggerakkan jari telunjuknya, meminta Black Shadow bersembunyi.
"Mengapa kita semua berada di tempat ini? Kenapa Marry tadi terjatuh? dan Kenapa Jennifer hanya diam saja?" cecar Herms.
"Gawat, apa ramuan dan mantraku sudah hilang? Tapi, kenapa bisa hilang?" pikirnya berjalan perlahan menuju Herms.
"Kenapa diam Sue? Apa yang terjadi? Mengapa Marry akan melakukan malam hukuman? Apa kau ingin puteriku melompat dari balkon?" tanyanya penuh kemarahan.
"Jangan berteriak kepadanya!" bentak Black Shadow tiba-tiba muncul.
"Kau? Marcus Frobisher? Apa yang ... Sue!" ucapnya kebingungan.
"Ada apa Quirkell? Takut?" kata orang yang dipanggil Herms dengan sebutan Marcus.
"Mendekat lah, Marry!" pinta Herms menyembunyikan Marry di belakangnya.
Susan Smith menatap Herms dengan perasaan bersalah.
"Maaf!" ujarnya mengeluarkan sebilah pisau yang terbuat dari emas.
Pasalnya Ayah kandung Herms yang berdarah setengah serigala, pernah membuka rahasia.Bahwa mereka yang memiliki darah serigala di bawah 40% bisa dibunuh dengan pisau emas. Itulah yang membuat Susan Smith mengarahkan pisau itu tepat di depan Herms.
Herms menghindar sambil mengamankan Marry di belakangnya, perkelahian antara suami istri itu sudah terjadi. Jennifer tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan Marcus Frobisher tersenyum memerhatikan pertikaian Herms dan Susan.
Sshuuut!
Pisau itu menembus lengan kanan Herms, gurat senyuman Susan terlihat jelas di sudut bibirnya.
"Itu untuk membunuh suamiku, Herms!" ucapnya tenang, "Dan ini!"
"Berhenti!" teriak Jennifer menghentikan Susan melukai Herms lagi. Susan berbalik, tatapannya tampak kesal.
"Jenny, jangan ikut campur! Black Shadow bawa Jennifer pergi dari sini!" perintahnya.
"Ibu, kenapa kau lakukan ini?"
"Disappear!" teriak Herms tiba-tiba.
"Oh tidak!" Susan dan Marcus terbelalak tak percaya. Jennifer terdiam, Ayah dan adiknua baru saja lenyap di depannya. Hanya Tow si kura-kura yang ada di kursi ruang tengah. Semuanya, lenyap.
__ADS_1
***
Bersambung