
Mereka kini berada di dalam hutan, bukan terjebak. Melainkan, sengaja terjebak. Melalui kerinduan dan kasih sayang Jennifer, mereka pun mulai mencari Herms dan Marrietta,selain menggunakan insting berburu para kelelawar, mereka memperalat keinginan Jennifer.
Tak lama berjalan, menyusuri hutan. Mereka pun akhirnya berhasil menemukan jejak kemah Marry dan noda darah yang sedikit mengering. Black Shadow semakin meyakini jika Jennifer memang dapat berguna baginya, dalam menemukan Herms dan Marry.
Mereka berkemah di sekitar kemah lama Marry. Membuat malam tanpa bintang itu enggan menampakkan kecantikan langit kepada para makhluk berdosa ini.
Jennifer terpekur seorang diri, memegang tubuhnya yang terluka.
Susan menghampiri. "Maafkan Ibu." Susan menyentuh rambut Jennifer
"Apa yang membuat pintunya terbuka?" Jennifer sedikit penasaran. Ditatapnya mata sang Ibu, berharap mendengar jawaban yang bisa melegakan hati.
"Keinginan terbesarmu," jawab Susan dengan pandangan yang berapi-api.
"Aku tidak mengerti."
"Kami membuatmu melakukan koneksi dengan ingatan Marry dan sihir itu membuatmu sejenak kehilangan kemampuan untuk membedakan dunia nyata dan dunia koneksi."
"Dunia koneksi?"
"Dunia antara kau dan pihak yang memliki ikatan batin yang kuat. Kau berpikir benar-benar melihat Marry dan merasa Marry sedang butuh bantun. Itulah sebab pintu hutan permintaan bisa terbuka. Seperti namanya, dia membutuhkan permintaan seseorang agar bisa bekerja. Sebuah keinginan yang tulus."
"Karena kalian berniat jahat, maka pintu itu tidak pernah terbuka." Jennifer menyeringai.
"Kau benar. Tapi, tidak sepenuhnya benar." Susan menatapnya sesaat.
"Keinginanku adalah menyelamatkan Marry, Ibu," ujarnya tersenyum tipis.
"Jaga ucapanmu kita berada di hutan permintaan." Susan kesal mendengar ucapan puterinya
"Benarkah? Apa tempat ini bisa mengabulkan apa pun permintaanku? Kalau begitu, aku ingin jauh darimu, menuju tempat yang tidak bisa kau temukan. Pergi dan menghilang menuju ruangan berbeda darimu dan hanya Marry yang akan menemukanku."
"Jennifer, batalkan niatmu. Apa yang sedang kau pikirkan!"
"Aku adalah manusia biasa, hanya manusia biasa yang tidak mempan sihir apapun dan aku bukan lah puterimu."
Kilat sedetik memotret mereka dengan kilauan cahaya, disusul bunyi gemuruh dan petir.
__ADS_1
"Ucapanmu berbahaya!" Susan menatap langit yang tampak marah.
Mendadak hutan diterpa badai, air hujan menghujam ke bumi. Malam semakin pekat perapian mereka pun padam.
"Aaaaakkk!" pekik Jennifer mendadak terperangkap dalam bayangan malam.
"Jenny?" teriak Susan.
Tubuhnya melebur, menghilang dalam satu kedipan mata. Keinginan Jennifer yang sesungguhnya adalah menghilang dan menjauhi ibu yang tak diinginkannya lagi,karena perbedaan jalan diantara mereka, membuat Jennifer merasa berdosa.
***
Di kamar bernuansa biru. Brockleheart kini telah mencoba untuk mengganggu pikiran Marry. Peti di hadapannya yang memang jelas bertuliskan Brockleheart Sky pun, mungkin sudah mulai bosan menatap Marry yang berulang kali melontarkan nama Brockleheart.
Alena yang sedari tadi mengeliling benda itu, memastikan benda apa yang sedang mencuri perhatian Marry. Agni, si kucing ajaib hanya bisa menduduki peti tanpa rasa penasaran sedikit pun.
Marry maju dan memindahkan kucing lucu itu ke karpet lantai. Bersujud dan membuka sebuah kotak besar dengan ukiran cantik dan pinggiran berwarna emas pekat. Marry membuka dan masih menemukan beberapa benda yang sama bentuk.
Seolah tak tersentuh, dua buah kotak berwarna cokelat tua berukuran sedang tampak menanti kedatangan Marry.
Terdapat beberapa pasang baju cantik dan sebuah kotak kecil berwarna biru tua, ini masih sama saat pertama kali Marry menemukannya.
Kotak seukuran 35x45 sentimeter, adalah kotak terbesar dalam peti itu. Marry memangkunya dan membuka beberapa benda.
Ada tumpukan buku dan foto di sana, sebuah foto menggelitik benak Marry. Perempuan berhidung mancung yang terbaring di ranjang tampak tersenyum ke kamera. Wajah sendunya memikat Marry, gambar hitam putih itu hanya foto biasa. Fokusnya berpindah ke arah anak kecil di sebelahnya.
“Itu pasti aku,” ujarnya tersenyum, “apa itu Padma? Ibuku?” Marry menyentuh wajah kecil dalam foto dan menyadari sesuatu. Kalung berbentuk tetesan air, Marry pun mengalihkan pandangan ke dadanya, kalung berwarna biru itu memancarkan cahaya biru keunguan, seolah tahu bahwa Marry sedang memikirkannya.
“Itu kalung dari ibumu,” seru Alena menyentuh foto.
“Iya, dia meninggalkan kalung ini untuk melindungiku. Aku pikir tidak ada yang menginginkanku selama ini, tapi dia memberikannya sebagai pelindung. Itu sama persis, bentuknya. Oh tanda apa itu?”
“Apa?” Alena mendekatkan wajahnya ke telunjuk Marry yang menunjuk sisi kanan leher Padma dalam foto. “Oh, aku rasa itu tato Adamas. Sama seperti milik Nona Laura.” Alena menjawab sok tahu, setelah memastikan tato berbentuk air di leher Padma muda.
“Adamas? Punyaku Adamas Blue kata bibi, sama sepertinya." Marry menyentuh lehernya. "Ah ini masih sakit," lanjutnya.
"Tatomu pasti akan segera muncul. Tanda Adamas." Alena yakin betul akan hal itu.
__ADS_1
"Oh ya. Apa bibiku juga punya kalung seperti ini?”
“Tidak, tapi dia punya gelang Adamas, kau pasti pernah melihatnya. Gelang yang cantik dengan batu permata berwarna hitam, berbentuk bunga.”
“Aku lihat yang lain saja …,” lanjutnya memindahkan foto itu ke lantai dan mengambil beberapa foto lain yang dianggap menarik.
Ada foto pernikahan Herms dan Padma, keduanya tersenyum sembari memegang bunga bersama-sama. Marry tertawa melihat ayahnya di kala muda. Sangat berbeda dengan penampilan yang sekarang.
Badan tegap dengan wajah kurus dan senyuman polos itu, benar-benar terasa berbeda. Padma pun tampak cantik seolah lukisan nan indah.
Marry mengambil sebuah buku tebal, buku itu tampak tua. Sampul kulitnya berwarna dasar dark blue, dengan corak garis biru muda. Pita pembatas buku yang menyembul berwarna merah pudar.
Dibukanya buku itu, lembaran pertama pun dibaca.
“Padma Diary’s?” ucapnya lantang. “Apa ini milik ibuku?”
“Bacalah!” Alena bersemangat. Tapi, semangatnya tak mampu membuat Agni penasaran.
***
Note 1
Musim Gugur, 1935.
Aku dipindahkan ke Brockleheart Sky, usiaku baru menginjak 15 tahun. Beruntung, kami tinggal tepat di bawah pulau itu. Aramaic, kota kebanggaanku berjarak sangat dekat dengan Brockleheart dan Stannome. Kami diberikan perhiasan, untuk menciptakan tanda diri. Ada puluhan kalung, gelang dan cincin yang berserakan di dalam kotak. Aku memilih kalung berbentuk tetesan air, kalung itu berubah menjadi warna biru muda. Perhiasan pilihanku disebut Adamas, dengan warna yang berbeda setiap karakter. Adamas Blue membawaku ke asrama Lavendrake.
*
Note 2
Pengalaman pertama di tempat ini sangat menyenangkan. Aku bertemu Susan Smith dan mendapat asrama yang sama dengannya, dia di kelas penyihir. Gadis berkalung Gallarias Blue, kudengar dia keturunan penyihir, dengan bentuk kupu-kupu berwarna biru. Aku senang bisa mempelajari ilmu pengendalian lainnya dan bisa mengenal sihir.
***
Bersambung
Maaf, karena aku jarang update. Baru sembuh dari sakit nih. Huhuhu ....
__ADS_1
See you next chapter ya.