
Keduanya duduk di depan gubuk, sembari menghangatkan diri di hadapan api unggun pemberian dari hutan permintaan.
Keduanya pun bercerita tentang apa yang sebelumnya terjadi. Saling merindukan satu sama lain, padahal Marry dan Herms telah tinggal bersama selama lebih dari 15 tahun.
Herms tak henti memandangi wajah puterinya, sepertinya ia hanya bisa mengingat wajah itu sebagai wajah puteri kecilnya, tanpa kenangan yang terlalu berarti. Penyesalan pun tampak menguat di wajah Herms.
"Bagaimana bisa aku tidak mengingat semua hari bersamamu? Aku hanya mengingat beberapa hal saja. Mungkin saat itu sihir Sue sempat menghilang atau melemah, sehingga aku bisa berbagi sedikit kenangan bersama denganmu," batin Herms seolah menangis.
"Ayah, aku ingin mencobanya!" Tiba-tiba Marry berdiri.
"Apa?"
"Kau bilang ini Hutan Permintaan 'kan, bagaimana jika kita minta makan malam yang lezat dan menyingkirkan awan gelap itu, aku ingin melihat bintang." Marry mengaitkan kedua tangan di dadanya dan melihat sang Ayah penuh kepolosan.
Herms tersenyum sesaat. Ini Hutan Permintaan, bukan hutan sihir atau ada bintang yang jatuh yang bisa membuat siapapun menjadi kekanakan. Bagaimana bisa Marry berpikir demikian. Pun jika dikabulkan, siapapun tidak akan pernah merasa kenyang. Karena, hal yang dilakukan tanpa usaha adalah pekerjaan yang sia-sia.
"Beristirahatlah, besok kita akan mencari pintu keluar dari hutan ini, dan pergi menemui bibimu." Herms mengajak Marry masuk ke gubuk. Gadis itu membuang napasnya asal, menahan kekesalan ringan yang tiba-tiba menyerangnya.
Perlahan api itu padam, langit malam yang semula tanpa bintang, pelan-pelan memunculkan butiran berlian yang indah di langit sana. Sedikit keinginan Marry telah terkabul.
Di sudut gubuk pun, sudah tertumpuk beberapa daging dan sayuran mentah. Jika Marry tahu akan hal ini, dia pasti sudah tak ingin keluar dari hutan ini.
***
Pagi-pagi sekali, bahkan terlalu pagi bagi Marry untuk berjalan sejauh ini. Mereka perlahan-lahan menerobos hutan. Agni, tampak membantu Marry dengan mengubah dirinya menjadi harimau muda dan membawa kotak Marry di punggungnya. Mereka mampir di sungai untuk menyegarkan diri.
Sudah sekitar dua jam mereka mengelilingi hutan, dan banyak sekali hal yang tak pernah ditemui Herms dan Marry sebelumnya. Hal ini membuat perjalanan mereka semakin melambat.
"Marry, aku mohon jangan memikirkan apapun! Kita semakin melambat, jika kau memikikirkan sesuatu terus-menerus, mereka akan terus berdatangan dan kita tidak bisa menemukan pintunya. Kau mengerti?" ujar Herms tiba-tiba.
Ia bisa merasakan puterinya yang terlalu antusias dengan hutan. Mungkin karena Marry terus terkurung di rumahnya setiap pulang sekolah, membuat gadis ini benar-benar lupa dengan usianya.
"Bagaimana Ayah tahu apa yang sedang aku pikirkan?"
__ADS_1
"Aku sudah lama tidak menggunakannya, jadi aku hanya bisa sebatas membaca pikiranmu dan tidak bisa mengendalikanmu! Ah, bukan apa-apa. Sudahlah."
"Hah?" Marry menjadi sangat bingung dengan ucapan ayahnya. "Ayah, apa aku boleh bernyanyi?" lanjutnya.
"Marry kau bukan gadis dua belas tahun."
"Aku hanya bisa bersenandung selama ini, aku akhirnya bisa bi-cara, kenapa Ayah melarangku menyanyi?"
"Marry?" Herms terhenyak, pertanyaan yang tajam itu membuat Herms kehabisan kata-kata, ditariknya napas panjang dan mengembuskan sembari tersenyum. "Kita tidak berada dalam situasi untuk bisa menyanyi maupun bersenang-senang. Kau lihat tanda itu? Kita sudah enam kali melewatinya!" ucap Herms menunjukkan tanda dari rumput liar yang diikatkannya pada pohon berduri.
"Benarkah? Kita hanya berputar-putar saja? Apa yang terjadi? Apa kita tersesat?" ucap Marry panik.
"Aku mohon, tolong tenanglah!" katanya terdengar kesal. Marry mengangguk patuh.
Marry menjadi sangat cerewet, itu membuat konsentrasi Herms untuk menggunakan pengendalian pikiran sedikit terganggu. Bahkan, mungkin sudah tidak bisa lagi. Karena sihir Hippno yang sudah tinggal di kepalanya selama bertahun-tahun, membuat pengendaliannya sedikit kacau.
Ppppak!
Bunyi keras berasal dari arah belakang mereka, langkah mereka terhenti. Herms dan Marry mencoba berbalik perlahan. Agni langsung menjadi kucing kembali dan berlari menuju ke kaki belakang Herms, meninggalkan kotak yang dibawanya tergeletak begitu saja.
"Ayah!" panggilnya terdengar takjub. Herms menoleh dan melihat Marry sedang menunduk melihat kalungnya yang bersinar.
"Marry?"
"Ayah, kalungku bersinar lagi!" ucapnya mengenggam benda itu dengan kedua tangannya. Mencoba agar cahaya cantik itu tak melewati jemari tangan.
"Itu pintunya!" seru Herms.
"Pintu? Kalungku yang menemukan pintunya?" Herms mengangguk, lalu menggeleng ringan penuh tanya dengan pertanyaan Marry itu.
"Wish Forest, bawa kami serta benda atau makhluk apapun yang ikut bersamaku. Bawa aku ke Arsk! Bawa kami semua ke Arsk!" Mantra pun terucap. Herms menggenggam tangan Marry dan berlari menahan sakitnya, melewati portal kemerahan bercampur magenta yang tercipta dari rerumputan.
***
__ADS_1
"Ayah!" Marry menganga tidak percaya dengan apa yang baru dilakukan mereka, bulu romanya meremang manis. Agni bahkan tampak terdiam, kucing itu terlihat lebih menggemaskan dengan bulu-bulu yang mengembang dengan cakar yang mencuat siaga.
Herms masih terdiam, tempat ini lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Putih.
Hanya ada warna putih di semua sudut. Herms semakin erat menggenggam tangan putrinya, kontak mata keduanya pun tampak saling percaya satu sama lain. Namun, perlahan kabut putih itu memudar.
Langit biru yang indah menyapa mereka, mulut Marry masih tak bisa ditutup, terpedaya dengan warna yang tak dilihatnya selama dua hari ini. Sangat indah.
"Kita di Arsk! Kita selamat!" seru Herms sesaat melupakan rasa sakit di lengannya.
"Arsk? Di mana itu?"
"Tempat bibimu, Laura Quirkell! Selamat datang di Arsk, Marry, tempatku dilahirkan." Herms menggandeng Marry melewati perbatasan Arsk.
Sepanjang perjalanan, pohon pinus dan akasia menemani mereka. Marry begitu terpukau, dia bergerak kesana-kemari seperti anak berusia sepuluh tahun.
Marry bisa merasakan bahwa kini dia benar-benar hidup. Aroma Arsk sangat khas, seperti bau keju dan makaroni yang bercampur dalam sup buatan Susan, bahkan tercium lebih enak dan menggiurkan.
***
Setelah berjalan jauh, mereka tiba di sebuah pasar tradisional. Pasar yang tampak tak terlalu ramai, mungkin karena matahari sudah berada hampir di atas kepala mereka, jadi para pembeli dan penjual sudah pulang atau pasar ini memang sepi sama seperti ingatan Herms dulu.
Orang-orang di situ mulai memerhatikan mereka, menatap bingung dari kepala hingga kaki. Bagaimana tidak menarik perhatian? Mereka memakai pakaian kotor selama berhari-hari, bahkan Marry terlihat bodoh dengan gaun hijau kuno yang hanya dipakai pada tahun 1890-an.
Selain itu, Marry tampak lebih aneh lagi dengan tali dari kayu yang melingkari pinggang mungilnya lalu diikatkan pada pinggiran peti. Mereka tampak seperti seseorang yang baru saja menggali terowongan emas. Tentu saja dengan kucing terlampau menggemaskan yang ada di pelukan Herms, menambah tatapan rancu untuk keduanya.
***
Bersambung
*Hollla!!! Marry jadi cerewet banget nih!!! Hehehe...
__ADS_1
Semoga suka dengan sosok Marry ya! Tenang saja, Marry nggak akan seperti itu terus kok. Karakternya akan berkembang seiring chapter. Biarkan anak yang baru belajar bicara ini mengoceh dengan bahagianya!
Terima kasih sudah berkunjung! Jangan lupa datang lagi, like dan commentnya sangat berharga*!