Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 18: Finding Jennifer


__ADS_3

Note 3


Para penyihir dan manusia serigala terus berdebat akan keberadaan Vampire, banyak yang tidak setuju bila kaum vampire menuntut ilmu di BS (Brockleheart Sky), Susan mendukung para vampire dan aku pun begitu. Banyak yang membenciku, karena sebagai bangsa Flore (pengendali murni) yang terkenal netral, aku memilih mendukung pembunuh berdarah dingin. Alasanku mendukung mereka adalah mencari jalan tengah.


*


Note 4


Masalah tak selesai sampai di sini, para serigala hitam dan putih membentuk aliansi karena perpecahan dalam kubu manusia serigala. Susan memihak serigala Hitam, karena menyuka Oliver sang pemimpin. Lelaki berbadan besar dan sehat, dia bergelang Sin dengan warna hitam pada batu permata, lengkap dengan bentuk daun maple-nya. Oliver berasal dari asrama Blackean, para penghuni dengan perhiasan berwarna hitam ada di tempat ini. Aku dan susan kali ini berbeda jalur.


***


Marry berhenti membaca. Direnungkan situasi yang telah digambarkan Padma dalam buku. Bagimana bisa gadis berusia 15 tahun memiliki kebijaksanaan seperti itu?


Marry tergelitik lagi. Kali ini, ingin mengenal lebih dalam tentang BS dan Padma. Ditariknya napas sekuat tenaga, diembuskan dengan lembut. Bertekad  melanjutkan bacaannya. Marry beranjak dari lantai dan duduk di sofa depan ranjang.


***


Note 5


Musim Dingin, 1935


Belum lama di sini aku sudah sangat tertekan, pelajaran yang kudapat tak sebanding dengan keributan dan ketakutan yang ditimbulkan para murid antar gender. Keberadaan satu sama lain mulai dipertanyakan, para manusia dengan perhiasan bernama Loriz dan tinggal di asrama Lumuss, yang turut mempelajari ilmu pengendalian dan sihir terpilih menjadi target berikutnya.


Serigala hitam dan Vampire meminta manusia diusir dari BS. Aku hanya bisa mengawasi semua dalam diam, berharap kekacauan takkan berlanjut.


*


Note 6


Semuanya kembali normal, Nyonya Ellasiah memberikan peringatan tertulis bagi para pengikut pemberontak, dengan hukuman penghapusan kekuatan pengendalian dan sihir secara permanen. Sekolah perlahan membaik. Aku senang semuanya baik-baik saja. Aku dan Susan kembali bicara satu sama lain, persahabatan kami terjalin lebih erat. Berkat oliver, aku berkenalan dengan Herms Quirkell, seorang pengendali pikiran. Pemilik cincin Gallarias berwarna hitam, teman seasrama Oliver.


*


Note 7


Aku meminta Susan untuk mengajari penggunaan sihir hitam, guru kami bahkan tak mengizinkan sihir menarik itu. Tapi, Susan adalah seseorang yang terlahir berbakat. Hanya dengan membaca beberapa buku sihir hitam, kemampuan sihirnya mampu berkembang pesat. Aku yang mulai bosan dengan sihir putih memintanya mengajari cara membunuh dan berburu kelinci dengan pelan menggunakan sihir.


*


Note 8

__ADS_1


Aku hampir membunuh seseorang, professor Marcuss dan Oliver menemukanku. Mereka mengobati gadis bernama Khantani, gadis yang membuatku hidup dalam penyesalan selama berhari-hari. Aku meminta maaf padanya, Khantani menyambut dan memafkanku.


*


Note 9


Musim panas, 1936


Selama beberapa bulan ini, aku terus mendekati Khantani dan mulai berteman dengannya. Asrama kami terpisah jauh, dia jauh di asrama Skymade sedangkan aku berada di asrama Lavendrake. Kami sering keluar diam-diam, aku mengajarinya ilmu pengendalian air dan dia mengajariku ilmu meramu obat-obatan. Dia seorang gadis berkalung Adamas Red.


*


Note 10


Kami menemukan pintu wish forest saat itu, karena Herms dan Oliver yang bertengkar dan terus berdebat. Entah bagaimana tempat itu menemukan kami.


Kami masuk dan tinggal selama beberapa hari di sini, pintunya tak mau terbuka. Susan mulai menangis dan Khantani yang bermohon agar pintu terbuka. Namun, kami tetap tak beranjak sedikit pun.


Saat itu lah aku berjanji akan menjadi murid yang baik sampai menyelesaikan sekolah di BS dan bersiap membela kebenaran, tak berapa lama dengan niatku itu membuat pintu terbuka. Kami pun tiba di Arsk, tepat di sekitar rumah Herms. Sepertinya, ini karena aku.


***


“Apa yang sedang kau lakukan Marry?” Suara itu membuatnya mendadak menutup buku tua.


“Apa kau menemukan sesuatu?” tanyanya melirik isi peti yang berantakan. Marry mengangguk, menggenggam erat buku di pangkuan. "Kalau kau sudah punya jawaban atas pertanyaanmu, datang temui aku di perpustakan, kau mengerti? Oh, jangan lupa bawa baju itu."


“Bibi." Marry membuat Laura gagal melangkah. “Apa ibuku, yang memberikan ini?" lanjutnya menyentuh kalung. Laura mengangguk dan mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan ada sesuatu di lengannya.


Ya, gelang Adamas blue bertengger manis di tangan. Tepat di sisinya di atas tulang pergelangan tangan ada tato kecil berbentuk tetesan air.


Semakin menambah rasa penasaran Marrietta.


***


Black Shadow baru saja datang bersama beberapa para pengikut setelah mengelilingi hutan, menemukan Susan yang bersimpuh lemas di tanah. Jennifer telah menghilang, bahkan sehelai rambut pun tak tertinggal.


“Kita terjebak, apa yang sudah Jenny lakukan hah? Bagaimana bisa dia menghilang?” Amarah Black Shadow meledak pada Dravis yang memang ditugaskan untuk menjaga Susan dan Jennifer.


Diam. Dravis tak tahu harus menjawab apa. Karena memang tak menyaksikan perbincangan ibu dan anak itu.


Kuharap dia baik-baik saja, batin Susan berdoa dalam diam. Mencoba menahan tangis, saat melihat kemarahan yang membuncah pada mata Black Shadow.

__ADS_1


“Herms dan Marry pasti sudah keluar dari hutan, Tuan. Kita terlambat dan terjebak, yang kutahu Jenny telah menghilang dan kini kita harus bagaimana?” keluh Dravis mendaratkan tangan besar itu ke pundak Susan. Susan menatap nyalang ke arah acak, otaknya dipenuhi kebingungan.


“Kenapa semua jadi begini, apa dia mengatakan sesuatu?” tanya Black Shadow menatap Susan, mencoba mengendalikan emosi yang membuat Susan terdiam sedari tadi.


“Dia pasti begitu membenciku, hingga berkata ingin pergi.”


“Tidak, carilah Jenny secepatnya!” teriaknya menunjuk Dravis.


“Baik, Tuan.” Dravis segera berjalan mundur. Kepalanya menunduk dan berubah menjadi kelelawar besar berwarna merah darah. Mengepakkan sayap kekar itu dan terbang menuju angkasa menembus pepohonan.


“Kebetulan tidak akan datang dua kali, Tuan. Sudah waktunya untuk menemukan anak itu dan membunuhnya sebelum dia menjadi Dahlia sempurna,” ucap salah seorang pengikut.


Di balik jubah hitam, para pengikutnya menunduk patuh.


“Ada yang kau sembunyikan?” abainya melanjutkan interogasi pada Susan.


Susan menatap Black Shadow penuh kekesalan. “Jenny menginginkan untuk menghilang dari kita semua.”


"Dia membuat permohonan?"


"Ya."


“Anak bodoh, demi menyelamatkan anak itu, apa dia melakukan semua ini? Apa dia benar benar puterimu, dia tampak seperti Oliver. Sangat mirip.”


“Jangan menyebut suamiku, Professor.”


“Berhenti memanggilku Professor! Ingat, jangan terpecah hanya karena puteri Oliver itu. Kau adalah budakku, nyawamu berada di ujung jemariku. Mengerti?” cecarnya tiba-tiba mencekik leher putih Susan.


Tercekak, Susan tak bisa bernapas. Bahkan untuk menggengam tangan berurat kasar itu, Susan tak mampu.


“A-a-ak-u meng-erti.” Lolosnya terbata saat Black Shadow mendorongnya ke arah kumpulan pengikut yang hanya bisa memegangi dengan rasa takut.


“Baiklah. Kini giliranmu Sue, kuharap kau terus berduka, agar pintu hutan ini terbuka. Kita tidak bisa terperangkap di sini. Kita harus keluar. Darah Dahlia menungguku.”


Susan sangat sedih mendengar ucapan tuannya, bukannya membantu mencari puterinya, Black shadow dengan santai meminta Sue berduka, semata-mata agar hutan permintaan bisa mendengarnya.


Sue sama sekali tak menyangka, jika Jennifer melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri. Baru dua malam berada di hutan permintaan, bagaimana bisa Jennifer memutuskan menghilangkan dirinya sendiri? Entah di mana gadis nakal itu sekarang, yang pasti Susan harus segera menemukan pintu keluarnya.


Black Shadow pun memutuskan mencari gadis itu dan kembali mengelilingi hutan permintaan. Yakin jika Jennifer masih berada dalam hutan dan tidak akan pergi kemana-mana.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2