
Rumah ini mendadak lembab. Apa yang terjadi sedang diselidikinya. Ada cakaran di sepanjang dinding menuju kamar Jennifer, dengan benda-benda yang berserakan.
Shyuuu!
Bayangan hitam melewati tubuh Susan. Di sana, Dravis sudah berada di depan pintu kamar Jennifer, ia menunggu wanita lemah ini mendekat. Susan hanya bisa menatap puterinya yang sedang berjalan dengan tatapan kosong.
"Jenny!" serunya terkejut melihat Jennifer yang sudah memiliki taring tajam. Matanya merah, terlalu menyeramkan untuk ditatap.
"Sihir Hippno telah membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. Aku membuatnya tenang Dan harus berdiri di sini sampai perintah berikutnya dikeluarkan Black Shadow."
"Aku mengerti," jawab Susan.
"Sampai saat itu, puterimu adalah Vampire Hitam. Segera buat dia mengingat Marry, agar kita bisa segera menemukan Hutan Permintaan dan puterimu bisa kembali ke wujud manusia biasa." Dravis mengungkapkan semuanya tanpa berbalik. Pandangannya lurus melihat Jennifer yang membeku tak bergerak.
Susan bergegas melewati tubuh Dravis, menatap Jennifer penuh haru. Rasa penyesalan sepertinya tak begitu besar di wajahnya.
"Benar, ini adalah satu-satunya cara. Setelah kita temukan Dahlia itu, ibu akan mengembalikan kau menjadi manusia lagi. Ini hanya untuk sementara, Jenny!" ujarnya menyentuh wajah pucat Jennifer.
Jennifer kini berada dalam mode off, tubuhnya berhenti bergerak. Tak ada darah yang tampak mengalir di tubuhnya, dia seperti mayat hidup.
Freeizing, adalah mantera pembeku Vampire. Mantera yang bisa melepaskan energi negatif untuk sementara waktu, sehingga siapa saja vampire Yang terkena mantera ini akan melemah.
Sebelum sampai di rumahnya, Susan sudah bisa menduga apa yang telah terjadi pada puterinya. Kekacauan di rumah ini terjadi karena efek dari perubah Jennifer menjadi vampire. Karena kecepatan terbang Dravis sangat cepat, dia pasti tiba lebih dulu Dan menangani hal ini dengan cekatan.
Ya, Dravis mengubah Jennifer menjadi Vampire, sesuai perintah Black Shadow. Lebih tepatnya mengaktifkan jaringan Vampire yang disembunyikan Susan dengan cara meminum darah Marry. Saat itu terjadi, jiwa Vampire Jennifer yang keluar tak mampu tertahankan lagi, membuatnya lupa diri dan menghancurkan seisi rumah.
Freeizing adalah satu-satunya cara untuk membuatnya tenang. Mereka membawa dan memasukkan tubuh beku itu kedalam peti mati. Dravis mengendarai mobil Chevrolet keluaran 1950-an, mobil itu sudah dimodivikasi dengan sedikit sihir agar memudahkan peti kecil muat di dalamnya.
Perjalanan berikutnya pun telah ditentukan oleh Black Shadow.
***
Cuaca malam ini mendadak dingin, menusuk tulang hingga menembus paru-paru. Marry teringat saat tidur di hutan selama beberapa malam. Marry keluar dari kamar dan memperhatikan sekelilingnya.Bandul jam berbunyi sebanyak 11 kali, sekejap membuat Marry diam di tempat.
"Ayah?" panggilnya menengok Herms.
Namun, Herms sedang tertidur pulas, dengan keringat yang bercucuran pada kening dan lehernya. Marry yang melihat itu bergegas menuju ke depan lemari dan mengambil beberapa handuk kecil. Ia membersihkan keringat Herms dengan sangat berhati-hati, agar tak membangunkan ayahnya.
__ADS_1
Sejenak Marry terlena dengan wajah Herms. Selama 16 tahun ini Marry tidak pernah ingat pernah menghabiskan waktu bersama ayahnya sedekat ini. Bahkan bukan hanya mengobati luka Herms, Marry pun kini bisa membersihkan keringatnya.
Linangan air matanya tak mampu terbendung lagi. Darah di luka Herms sedikit merembes keluar. Sepertinya sebelum tidur ayahnya tidak mengganti perban. Entah kenapa luka ini tak mau berhenti mengeluarkan darah, banyak buku sudah dibaca Marry dari perpustakaan rumah ini. Namun, tak satu pun dapat menjelaskan kondisi Herms.
Setelah berada di sini, Herms kembali kehilangan kesadarannya malam itu. Padahal setelah sadar sebelumnya, Herms tampak semakin membaik. Entah apa yang terjadi kini, lukanya justru semakin memburuk.
Crkrkekkkr....
Sebuah suara misterius membuat Marry terdiam, ia sangat pandai untuk tidak membuat suara. Perlahan-lahan dia keluar dari kamar dan pergi mencari asal suara.
Sosok bayangan besar perlahan mendekatinya, Marry dapat melihat bayangan monster menakutkan di dinding dekat tangga.
Gleg....
Marry menelah saliva-nya, matanya fokus, pupilnya membesar. Namun, bayangan itu perlahan semakin mengecil. Marry mulai memberanikan dirinya melewati tangga. Sosok yang berdiri di dapur itu, semakin kentara.
Punggung kecil dengan jubah hijau tua yangmenutupi kepalanya, membuat Marry tak takut lagi.
"Siapa kau?" tanya Marry memberanikan diri.
"Owh? Marry? Marrietta?" Sosok itu berbalik arah dan segera mendatangi Marry dengan suara lembut terdengar ramah.
"Oh? Kau bibi Laura?" Marry tersadar dalam pertanyaan batinnya.
"Tentu saja, aku sudah membaca surat ayahmu. Bagaimana keadaannya? Sudah berapa hari dia terluka?" jawabnya melepaskan pelukan dari tubuh Marry dan kembali menuju meja tempat ia berdiri sebelumnya.
"Besok sudah tujuh hari...."
"Itu berarti waktunya hanya tiga hari lagi...."
"Apa maksudmu?"
"Dalam tiga hari, kita harus menyembuhkan Herms. Ah, apa yang sudah kau lakukan pada ayahmu? Peri gila itu bilang kau mengobatinya juga? Apa yang kau gunakan? Oh, Marry... apa pun itu, tidak akan bisa mengobati ayahmu, Nak! Itu mustahil...," ungkapnya sibuk menumbuk beberapa ramuan.
"Ayah ada di kamar itu, dia sedang tertidur." Marry enggan menjawab pertanyaan orang yang mengaku bibinya.
"Oh ya. Apa kau sudah makan?"
__ADS_1
"Ya, ada makanan di meja itu. Jadi, aku memakannya."
"Itu memang untukmu, seseorang membuatkannya untukmu."
"Seseorang?" Marry bingung, memang setelah Alena pergi, besok paginya dua piring bubur gandum tersaji di meja makan. Marry memakannya tanpa tahu apapun, karena rasa lapar telah menguasainya.
"Sesuatu!" jawab Laura tampak sibuk.
"Hah?"
"Tidak, kita harus segera mengobatinya. Aku sudah bawa penawarnya, cepat bangunkan ayahmu!" lanjutnya.
"Baiklah? Tapi di mana Alena? Dia harusnya membawakan aku sesuatu...."
"Dia masih ada di hutan, aku meninggalkannya di sana. Dia sedang mencari apel yang paling besar dan paling manis. Apa kau yang memintanya?" Marry mengangguk.
"Oh Marrietta, jangan meminta apa pun lagi kepadanya. Dia adalah peri penjaga yang—"
"Yang bodoh?"
"Tidak! Dia, peri penjaga yang kurang pandai," jawabnya tersenyum.
"Apa bedanya?"
"Sedikit berbeda. Itu sebabnya aku mengadopsinya, terkadang dia merasa adalah peri penyembuh, peri pekerja bahkan juga dia mampu mengirimkan surat dari ayahmu. Kau tahu... ah baiklah ayo kita obati ayahmu!" ucapnya menarik Marry mengajaknya ke kamar di mana Herms tak sadarkan diri.
Laura, terlalu santai di mata Marry. Sepertinya bibinya ini tak punya rasa khawatir sedikitpun.
Laura mewawancarai Marry, mulai dari berapa kali Herms muntah dalam sehari, seperti apa warna dan bau muntahnya, apa saja yang mereka makan, bagaimana cara Marry membersihkan luka dan pertanyaan-pertanyaan lain layaknya dokter professional.
"Bagaimana bisa Sue melakukannya," ocehnya sembari mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke luka Herms.
Merasakan tubuhnya disentuh sesuatu, Herms terbangun. Senyumannya sedikit membuat adiknya lega.
"Jika terlambat, kau pasti sudah ... ah lupakan. Sepertinya ramuan yang Marry buat cukup untuk membuat lukanya membaik. Bangunlah dan minum ini!" Laura mengisyaratkan untuk membantu Herms duduk dan memberikan ramuan berwarna hitam pekat ke bibir pucatnya.
***
__ADS_1
Bersambung