
Setelah menikahi Padma, Herms memilih tinggal di Stanome. Marry yang lahir setelah perang dunia kedua itu, memang tak pernah menginjakkan kakinya di Arsk. Bahkan Herms tak ingat kapan terakhir kali ke sini. Kota ini sudah lebih maju daripada 20 tahun yang lalu.
Arsk, tempat Quirkell bersaudara dilahirkan.
***
Rambut kemerahannya yang terkepang di sisi kiri membuat Marry terlihat sedikit normal. Setelah berhenti sebentar, Marry merapihkan rambutnya yang memang sudah terlalu kusut. Perlahan mereka menjauhi pasar dan menuju rumah lamanya, yang kini dihuni oleh Laura Quirkell.
Mereka pun tiba di sebuah rumah yang tampak tak terawat, ada beberapa ranting yang hinggap di tepian teras rumah. Rerumputan setinggi betis Herms menutupi jalan menuju teras depan, dedaunan kering pun tampak menyelimuti rumah itu. Sepertinya ada pesta kebun yang tidak terawat di sini. Semua itu sedikit menyeramkan bagi Marry.
***
Berhasil. Herms membantu Marry menaiki dua anak tangga menuju teras, setelah sebelumnya tenggelam dengan rumput hampir setinggi perutnya. Berjalan pelan, Marry menarik kotak itu dan meletakkannya di teras berdebu pekat. Agni lekas naik ke pembatas teras dan melingkarkan tubuh kecilnya untuk beristirahat.
"Ayah, rumah ini sudah kosong!"
"Ke mana Laura? Kenapa rumah ini tidak terawat?" Herms mulai bertanya-tanya.
"Seperti su-dah ditinggalkan penghuninya selama lebih dari 10 tahun, menji-jikkan!" Marry menyentuh debu pekat yang menempel di gagang pintu. Di jarinya terdapat warna hitam-kecokelatan yang biasa dijumpai di gudang bawah tanah.
"Aku tahu!" Herms memerhatikan sekeliling.
"Tempat ini mirip seperti ruang rahasia di tempat Ruang Bawah Tanah, sama–sama kotor, hanya saja ini memliki lumut yang lebih sedikit," oceh Marry.
"Apa kau mendapatkan kotak ini, tidak ... apa kau menemukan peti ini di ruang rahasia bawah tanah?" tanya Herms. Marry menggangguk malu. "Baiklah. Marry tetaplah di sini bersama Agni, aku akan melihat ke bagian belakang. Mungkin bibimu meninggalkan sesuatu di sana." Herms berjalan pelan menerobos rerumputan tadi. Masih memikirkan bagaimana kotak itu menjadi pengikut mereka dalam beberapa hari ini.
***
Marry mendadak usil, dia menggenggam kalungnya dan mencoba untuk membuka pintu dengan sihir atau apapun itu yang tak bisa Marry mengerti sepenuhnya. Marry memejamkan mata, dari tubuh mungil itu mendadak keluar cahaya biru-putih yang indah. Marry tersenyum sejenak dan hendak membuka matanya.
"Hentikan!" sorak-sorai seseorang mengagetkan Marry. Marry terbelalak dan hanya menjumpai Agni yang sedang tertidur. Kembali dia memerhatikan sekelilingnya, dan memang tak ada siapapun selain angin yang berembus di siang itu.
Whuuzzz ....
Sekelebat cahaya keemasan melewatinya, Marry tersandar ke dinding kayu, terkejut melihat apa yang baru saja menyambar tubuhnya. Cahaya itu kini berkeliling di sekitar Marry.
"Jangan gunakan sihirmu di sini!" Suara asing itu kembali terdengar. Marry semakin kaget, dengan siapa ia harus bicara. Di sini tidak ada siapapun. "Kau tidak dengar ucapanku? Kau tidak bisa bicara? Apa kau tidak bisa mendengar." Suara itu semakin jelas, suara itu dikeluarkan oleh cahaya keemasan yang berpendar cantik di depan hidung Marry.
Marry pindah ke sisi kanan, dan memerhatikan benda terbang di hadapannya itu dengan penuh kekaguman. Pelan-pelan cahaya itu memudar dan menunjukkan makhluk kecil bersayap yang sangat cantik.
"Kau? Peri?"
__ADS_1
"Kau! Manusia! Selalu saja menyusahkan! Apa kau tidak dengar suaraku? Kenapa kau malah bertanya kepadaku?" marahnya dengan wajah yang memerah.
Marry tertawa geli melihat kelakuan makhluk mini itu.
"Kau kecil sekali, jadi kalian benar-benar nyata?" ucap Marry hendak menyentuh peri itu.
"Jangan menyentuhku! Uuugh!!!" Peri itu kesal melihat tingkah Marry.
"Marry, apa yang terjadi?" Herms bergegas setelah mendengar suara ribut yang dihasilkan Peri itu.
"Kau? Kau siapa?" lanjut Peri menantang Herms.
"Elena? Apa kau peri Elena?" Herms mencoba mengenalinya.
"Siapa? Aku? Tidak! Aku Alena! Ahh, kenapa aku menjawab pertanyaannya!" si kecil itu tampak bimbang sesaat.
"Di mana Laura? Di mana adikku?"
"Laura? Maksudmu Nonaku? Hmmm, apa kau Tuan Quirkell? Itu kah kau?" terbangnya menyentuh wajah herms. "Oh kau terluka, tunggu sebentar, aku adalah Peri Penyembuh. Aku akan segera menyembuhkanmu!" Tanpa menunggu reaksi Herms, aksinya pun dimulai. Ia melemparkan beberapa cahaya berwarna-warni ke lengan kanan Herms dan cahaya itu memudar tanpa Herms bisa merasakan perubahan apapun.
"Hentikan, di mana Laura, aku sangat kesakitan!" ucapnya pelan.
Ajab, dari luar sana rumah ini tampak seperti gubuk tua yang hampir roboh. Tapi, di dalam sini kemewahannya tak bisa ditanyakan lagi. Ini paling modern di tahun 1962, design-nya benar-benar masa kini. Seolah-olah Arsk memang sudah modern seperti kota-kota lainnya.
"Duduklah, Kopi, Teh Poppy? Teh biasa? Susu? Karamel?"
"Hentikan! Katakan padaku di mana Laura?" tegas Herms.
"Nona, dia pergi untuk mencari Fluffy dan Troll. Para Troll itu suka sekali membuat masalah dan membuat kekacauan di perbatasan Aramaic." Peri Alena melembut.
"Dia berada di Aramaic? Sudah berapa lama dia meninggalkan Arsk?"
"Sudah lebih dari tiga bulan."
"Lebih dari tiga bulan? Tapi, rumah ini tampak sudah ditinggalkan selama tiga belas tahun!" sela Marry.
"Marry!" Herms menegurnya.
"Apa mencari Troll sesulit itu, kenapa bibi meninggalkan rumahnya pada Peri bodoh sepertinya! Apa itu Fluffy? Apa anjingnya lucu?"
"Hey, aku Peri Penjaga! Anjing? Fluffy adalah Fluffy, bukan anjing! Bodoh."
__ADS_1
"Bodoh? Kau tadi bilang kau Peri Penyembuh, kenapa bisa menjadi Peri Penjaga? Siapa yang bodoh di sini?"
"Aku dengar kau Nona Marrietta yang tidak bisa bicara. Dasar rumor palsu! Kau sangat berisik!"
"Kau!"
"Marry, jangan terlalu banyak bicara ... kau masih belum terbiasa." Herms menghentikan ocehan dua perempuan berbeda bentuk.
"Maafkan aku Tuan Quirkell." Alena menunduk.
"Kami akan beristirahat di sini, temui Laura dan katakan kami menunggunya."
"Baiklah, tolong jaga diri kalian!"
"Sebentar, titipkan surat untuknya. Bisa kau ambilkan pena untuku?"
"Itu terlalu berat untuk kubawa, ayo Marry ikut aku!" Dia menarik jari manis Marry lalu beralih terbang di belakang Marry, sambil sesekali mendorongnya. Peri itu jelas sedang beralasan saja.
Alena membawa Marry ke perpustakaan Laura dan meminta Marry mengambilkan kertas dan pena yang diminta Herms.
"Apanya yang berat? Kau bahkan bisa mendorongku! Kau juga bisa sihir! Dasar, pembohong!" gerutu Marry.
Herms menuliskan beberapa kata-kata Dan kalimat penting dalam suratnya, melipat rapih dan meminta Marry untuk menuliskan namanya juga. Marry menuliskan nama di permukaan surat, tepat di sebelah tanda tangan Herms Quirkell.
"Apa kau bisa memberikannya dengan aman? Secepatnya!"
"Tenang saja!" ucap Alena mengambil surat itu dengan nada congkak.
"Kau menghilangkan suratnya?" Marry terkejut karena tak lagi melihat suratnya.
"Ada di sini!" jawabnya menunjuk tangan mungilnya yang terlihat kosong.
"Jika kalian butuh sesuatu, pergilah ke pasar, uang simpanan Nona-ku ada di perpustakaannya. Laci kedua di dekat pintu, ah, berdekatan dengan tempat Marry mengambil kertas tadi!" ungkapnya tersenyum dan berlalu dari pandangan.
"Senang bertemu denganmu! Saat kau kembali, bisa kah kau bawakan apel untukku!" teriak Marry membuat Herms tertawa sesaat.
"Aakh." Rasa sakit menyerang Herms lagi.
***
Bersambung
__ADS_1