Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 15: The First Couch and The Dahlia Sign


__ADS_3

Bagian dalam ranting itu pun kini kosong. Marry segera memberikan ranting tersebut kepada Laura, tepat setelah menegak tetesan terakhir yang tak disadarinya berwarna hijau samar.


"Itu agar kau tidak terdeteksi oleh pasukan kelelawar milik Black Shadow. Sama seperti ibumu dulu, kurasa mereka menyingkirkannya karena telah menghapal bau badan Padma."


"Ibu?"


"Ya, Padma. Ibu kandungmu, apa kau tidak ingat padanya?" tanya Laura memasukkan pisau ke dalam keranjang dan mengambil beberapa akar yang entah sejak kapan sudah ada di sekitar keranjang.


"Tidak, aku tidak ingat. Lebih tepatnya aku tidak tahu." Marry tertunduk ragu.


"Pasti kau selalu bersamanya," gumamnya pelan.


"Apa?"


"Oh, aku melihat sebuah peti di depan kamarmu," abainya menggandeng tangan Marry.


"Peti baju, ah benar. Peti itu terbawa bersama kami saat melarikan diri."


"Itu peti Brockleheart, dia pasti sudah memilihmu."


"Siapa yang me-milihku? Untuk apa?" Marry tampak bingung.


"Mungkin Ibumu.... Suatu saat kau akan menjadi murid Brockleheart, untuk itu ibu atau nenekmu kemungkinan besar telah menyihir peti tersebut agar terus mengikutimu selamanya." Laura menjelaskan dengan sedikit tertawa.


"Bagaimana kau tahu semua itu, Bi?" Marry menggeleng heran.


"Pelatih, mulai hari ini kau harus memanggilku begitu."


"Baiklah, pelatih. Lalu bagaimana kau tahu hal itu?"


"Hubungan ibu dan anak adalah sesuatu yang indah, hanya kau dan Padma yang bisa saling terhubung. Ibumu adalah orang yang spesial. Dia terpilih sebagi puteri seorang Dahlia dan ditakdirkan untuk menjadi ibu dari seorang Dahlia. Kekuatannya tidak terbatas, kekuatan batin," ungkap Laura mengangkat keranjang dan berjalan menghampiri Marry.


"Aku masih tidak mengerti." Marry menyentuh ujung rambutnya yang terkepang ke kanan.


"Kau sudah melihat isi petinya? Seluruhnya?" Marry mengangguk lalu terdiam dan kembali menggeleng cepat.


"Bukalah, kau akan segera tahu siapa itu Padma, siapa Marry dan apa itu Dahlia. Itu pelajaran pertamamu dariku, sebelum kita melakukan ini," ujarnya memutar jemari dan membuat tumbuhan di sekitar Marry menari riang.

__ADS_1


Marry terpesona dengan apa yang sedang disaksikannya, Laura menggandeng pundak Marry dan menikmati tarian para bunga.


Di tengah pertunjukkan, langit mulai tampak ramai dengan beberapa burung aneh yang beterbangan tepat di atas sana. Laura menatap jauh ke atas ke langit barat daya dan menemukan beberapa kelelawar yang sepertinya baru saja keluar dari persembunyian.


Diliriknya Marry yang mulai tampak berkeringat, sore itu bahkan angin berembus damai, tapi kenapa Marry tiba-tiba berkeringat?


"Ada apa Marry?"


"Pelatih, kenapa aku berkeringat?" ucap Marry tiba-tiba saat sedang asyik melihat pertunjukkan Laura. Laura segera menyentuh dan melihat belakang lehernya.


"Apa tandanya sudah muncul? Jadi, kau memang seorang Dahlia."


"Kenapa itu muncul? Awh?" ujar Marry merasa kesakitan saat sesuatu di belakang lehernya seolah bergerak pelan.


"Dia sedang bekerja Marry," ucap Laura membuat Marry menundukkan kepala.


"Siapa? Bibi itu te-rasa sakit akh!" ucapnya melupakan sesuatu.


"Aku tahu pasti itu sakit. Akhirnya tandamu keluar Marry, sejujurnya ini sebuah pertanda buruk. Aku rasa itu karena kau sudah meminum air kehidupan, itu juga yang membuatmu mengeluarkan tanda Dahlia ini." Laura tampak tenang.


"Ayo kita pulang," lanjutnya menggenggam tangan Marry.


"Hh? Bagaimana dengan mandi?" tanya Marry menahan sakit.


"Mandi?" Laura tersenyum. "Kau bisa mandi di rumah," lanjutnya menatap tumpukan ranting di hadapan dan menggenggam tangan Marry.


"Bibi, tidak. Pelatih ini terasa perih," ucap Marry terus saja memegangi tengkuknya.


"Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Laura mengabaikan keluhan itu. Marry menatap bingung seolah bermandikan pertanyaan sekarang. "Teleportasi," teriaknya keras.


Mata Marry mendadak diserbu ribuan cahaya menyilaukan mata. Perlahan tubuhnya terasa ringan menembus ruang dan waktu. Sesaat rasa sakit di lehernya menghilang. Tampilan beberapa memori hadir dalam kepalanya. Seketika membuat Marry larut dalam suasana yang tak begitu asing.


Kumpulan awan menghilang dari hadapan mereka. Pepohonan di hutan mendadak berubah menjadi dinding bata. Laura melepaskan genggamannya.


"Kita mendarat di dapur lagi. Selalu saja seperti ini, kapan aku bisa mendarat tepat di kamarku sendiri," keluhnya berjalan mendahului Marry.


"Kita berada di rumah?" tanya Marry yang masih menganga dengan tangan memegang tengkuk.

__ADS_1


"Kau akan mendapatkan sejuta hal seperti ini Marry, jadi siapkan dirimu," lanjutnya berjalan meninggalkan Marry.


"Jika kau juga bisa teleportasi? Mengapa membuatku berjalan sejauh itu?" gerutu Marry kesal mengingat perjalanannya Yang melelahkan hari ini. Laura menengok dan hanya tersenyum.


Pelajaran pertama Marry Yang diberikan pelatih Laura adalah tentang kesabaran dan sejarah Dahlia.


"Ayah...," teriak Marry berlari.


Rasa sakit di tengkuknya mungkin sudah hilang karena terkejut dengan teleportasi yang dilakukan Laura. Namun, rasa sakitnya akan mulai bertumbuh, hingga tanda Dahlia menjadi sempurna seiring berjalannya waktu.perlahan akan menyiksa Marry dengan rasa sakit yang takkan bisa dilukiskan lagi. Suatu saat, tentunya.


***


Marry begitu bersemangat, dia menceritakan apa yang terjadi selama di hutan. Dia juga mengisahkan apa yang dilihatnya di jalan kota Arsk.


Mulutnya mungkin bisa berbusa jika terus bicara seperti itu. Laura dan Herms hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan Marry, padahal usianya sudah 16 tahun.


***


Selama beberapa hari, Laura masih merawat Herms dan mencoba menghilangkan racun yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuhnya. Ada tanda di telapak tangan Herms, bulatan tipis berwarna hijau lumut. Pertanda bahwa ada racun di dalam tubuh, yang juga mengisyaratkan bahwa Herms memang keturunan manusia serigala.


Marry melihat perubahan Herms yang semakin membaik, tawa Herms yang tampak jujur membuat Marry teringat kesehariannya selama di Okrey. Keseharian saat Susan dan Jennifer tertawa lepas bersama Herms di ruang keluarga. Hatinya mendadak merindukan, Jennifer.


Hingga terbawa mimpi, Marry bahkan melihat sang kakak yang sedang sakit. Laura berniat memberikan ramuan penenang kepada Marry agar melupakan kenangan buruk selama bersama Susan, namun Marry menolaknya.


Dia tak ingin bagian kenangan itu menghilang. Kenangan indah bersama ayah dan kakaknya harus tetap ada, keyakinan Marry adalah menyimpan semuanya dalam benak, Marry tak ingin dirinya sendiri, bahkan kenangan indah pun dia tak punya.


***


Kini perjalanan menuju Brockleheart Sky akan dimulai, itu menjadi tujuan utama Herms. Di sanalah Marry akan aman dan dapat mengendalikan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Tetap berada di Arsk akan membawa masalah bagi para penghuni Arsk, kemungkinan terburuk adalah Black Shadow akan menemukan anak polos yang bahkan belum bisa membedakan mana kata baik dan kata-kata kasar.


Herms membulatkan tekad dan berniat membawa Marry ke Brockleheart dan melindunginya di sana dengan jalan dan cara apapun.


***


Bersambung


Wah, gimana nih kelanjutannya? Tanda Dahlia sepertinya akan mulai mengganggu Marry. Dan Herms sepertinya cuma punya Brockleheart untuk jawaban segala pertanyaannya.

__ADS_1


__ADS_2