Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 8: The First Contact


__ADS_3

Nyanyian pagi, perlahan membasuh wajah pucatnya. Langit biru kelabu, sebelum mentari menyapa, tampak menghanyutkan. Herms dan Marry terkapar tak berdaya di pinggiran genangan air. Semalam hujan deras, terlihat dari pakaian mereka yang masih tampak lembab.


Mereka tiba di sebuah hutan rawa yang cukup lebat. Sayup, mata kecil itu mengerjap. Marry pun perlahan bangun dari pembaringannya, sesaat melirik sekeliling dalam kebekuan. Herms tertelungkup sembari meringis kesakitan, memegang lengannya yang terluka parah. Melihat itu, Marry bergegas menuju ke arah ayahnya.


Perlahan Marry mengguncangkan tubuh lemah Ayahnya, batinnya mulai merengek menemani butiran kristal yang membasahi pipi kirinya. Marry merobek ujung bawah gaun hijau kolot yang masih menempel di tubuhnya, kemudian mengambil bagian dalam gaun yang cukup bersih, dan melilitkan ikatan kain di luka ayahnya. Herms terbangun dalam menahan rasa sakit, ketika melihat perlakuan puterinya itu.


"Kau baik-baik saja?" Herms mencoba tersenyum, melontarkan pertanyaan ringan kepada Marry. Seketika tangan kecil Marry mendarat di bibir Herms, menggeleng dan mengisyaratkan agar Ayahnya tak perlu banyak bicara.


"Marry ...," lirih Herms menggenggam tangan dingin Marry. "Maafkan ayah!" lanjut Herms sendu. Setetes kecil airmata berjalan perlahan menuju telinganya.


Susan Smith menggunakan pengaruh sihir Hippno, yaitu sejenis sihir pelupa yang bisa membuat seseorang kehilangan keinginan dan mimpi terbesarnya. Sihir Hippno mampu, membangun ruangan kosong yang dapat diberikan perintah atau ingatan apapun, yang diinginkan sang pemilik sihir.


Sihir Hippno dan ramuan cinta, lengkap sudah, bukan? Tapi, semua tipu daya itu berhasil sirna dalam kurun waktu 15 tahun.


Matahari tak kunjung menampakkan senyumannya. Awan bergerombol, berkawan di pagi hari. Mendung. Sepertinya pagi ini tak akan ada matahari. Gemuruh awan perlahan terdengar, sentuhan angin pun mulai menjalar di sekujur tubuh.


Tik.


Setetes air mendarat tepat di ujung hidung lancipnya. Marry mendongak, memerhatikan kemarahan langit yang mulai menyeramkan.


"Bagaimana ini? Semalaman kami sudah basah oleh hujan? Di mana ini? Bagaimana caranya aku mengobati ayah? Apa yang harus kulakukan? Ibu ... tolong aku!" batinnya meracau sembari memegang liontin berlian berwarna biru. Ibu yang dimaksud tentu saja ibu Susan tercintanya.


"Expeller Herbatuss." Suara itu terdengar begitu saja. Herms kaget mendengar suara yang asing baginya.


Perlahan kalung dalam genggaman Marry melayang, liontin itu memancarkan cahaya aneh. Cahaya berwarna biru kehijauan bercampur menjadi satu, Marry pun dikeliling cahaya putih kebiruan. Mendadak Marry tak bisa melihat apapun, cahaya-cahaya aneh itu menutupi penglihatannya.


Perlahan, tanaman dan pepohonan di sekitar mereka mendadak bergerak, membentuk formasi aneh yang tak pernah Herms lihat lagi selama 17 tahun. Angin dan hujan seolah mundur perlahan dan tak berani menammpakkan dirinya di tempat itu lagi.


"Marry?" ujar Herms menggoyangkan tangan kanan Marry. Marry tersadar, tangan kirinya masih memegang kalung.


"Aku bicara?" batin Marry menatap Herms.

__ADS_1


"Apa yang kaulakukan?" lanjut Herms lemah.


"Ayah?" ucap Marry begitu saja. Marry terkejut, dengan cepat ia memegang lehernya, merasakan tenggorokan terasa aneh. Beberapa kali batuk untuk meyakinkan apa yang didengarnya barusan.


"Apa yang kaukatakan? Ayah ...? Kau berbicara?" Herms terkejut saat menyadari ini, meskipun lukanya tampak serius. Namun, untuk sesaat dia bisa melupakan rasa sakitnya itu.


Herms perlahan mencoba duduk, saat itulah ia menyadari bahwa kilatan cahaya yang mengelilingi mereka telah mengubah tempat mereka beristirahat menjadi gubuk yang terbuat dari rerumputan dan tanaman merambat.


Marry memeluk ayahnya tanpa sepatah kata apapun, dia yakin hanya sedang bermimpi. Tak mungkin dia bisa bicara hanya dalam waktu semalam. Tak mungkin pula ucapan sembarangannya bisa membuat keajaiban seperti gubuk ajaib ini.


"Akkh!" pekik Herms tampak kesakitan.


"Aku ... a-ku?" ujar Marry panik melihat ayahnya.


"Hah?" Herms mencoba tetap tenang.


"Aku a-kan men-cari o-bat untuk-mu," tawar Marry gagap.


"Ti-dak, aku pernah mem-baca tentang obat-obatan, ayah! Tunggu, a-ku di sini ya ...," suaranya yang lembut masih terdengar canggung. Tapi, ini bukan saat yang tepat untuk merayakan suaranya yang kembali. Ini waktunya untuk mengobati Herms Quirkell.


Marry mengelilingi, dinding gubuk itu dengan tatapan bodoh.


"Apa yang sedang terjadi?" pikirnya sembari memegang kalung liontinnya.


"Di mana jalan keluar tempat ini? Pintu?" Marry mengelilingi ruangan lembab ini. Bisa dipastikan dia bukan ahli pembuat rumah. Akhirnya melihat lubang kecil seukuran tubuhnya di bawah kayu berwarna cokelat kemerahan. Jika ia berjalan merangkak pasti bisa keluar.


Marry berjalan menuju mulut gubuk, meninggalkan ayahnya yang mencoba bertahan atas rasa sakitnya. Di luar masih hujan, Marry bisa melihat prajurit air itu beramai-ramai menghujam tanah. Dia harus bergegas, mencari tumbuhan herbal yang bisa digunakannya untuk mengobati luka sang Ayah. Tumbuhan apa saja.


Marry terhenti sejenak, dia mencoba mengingat isi dari buku yang pernah dibacanya di Ruang Bawah Tanah. Marry berdiri di bawah hujan, pandangannya meluas mencoba mempelajari suasana hutan ini.


"Ageratum Conyzoides? Centella Asiatica? Melastana Malabathricum?" Marry mencoba mengingat nama-nama tumbuhan yang pernah dibacanya.

__ADS_1


"Centela Asiatica? Di mana ini? A-pa tumbuhan itu ada di Okrey? Tuhan to-long aku!" lanjut Marry mengingat salah satu nama tumbuhan. Marry berjalan pelan, menjauhi gubuk. Melihat semak dan rerumputan yang tak pernah dikenalnya.


Ddugh!


Marry terjatuh, kakinya terantuk kotak hitam besar. Marry ingat jika benda ini adalah kotak yang ditemukannya di ruangan bawah tanah. "Apa yang, astaga kenapa ini di sini?" Jiwa Marry menggigil seketika.


"Jika ko-tak ini ada di sini? I-i-tu artinya Agni?" Marry kembali melemparkan pandangannya, dia mulai mencari Agni si kucing kesayangan, yang mungkin saja ada di sini bersamanya. Kosong, tak ada apapun di sini, tak ada siapapun.


"Ayah?" ucapnya tersadar dan segera berlari membawa kotak hitam itu.


***


Sesuatu tampak menjilati wajah Herms, Marry terkejut melihat sosok itu. Marry lekas berhambur dan mengangkat kucing cantiknya sambil berkata, "A-ku tahu kk-k kau akan baik-baik saja!"


"Apa itu?" Herms melirik kotak yang dibawa Marry.


"Ini milikku, aku ti-dak tahu kenapa i-ni ada di sini." Marry mengamankan benda itu dan mendekati ayahnya.


"Apa itu juga milikmu?" tanya herms menunjuk tumpukan tanaman di bawah kakinya.


"Melastana Malabathri ...? Dan ini Centella ...? Ini se-mua ...?" Marry melongo keheranan, ini semua jenis tumbuhan yang disebutnya. Selain itu, beberapa tanaman obat herbal juga ada di sini. Marry mencoba tetap tenang, semua keanehan ini membuatnya takut.


Herms menyentuh pundak Marry, "Kau adalah Plant Controlling rupanya, ini baru awal. Kau seorang Dahlia, ini kontak pertamamu dengan dunia itu, Nak!" ungkapnya tersenyum ringan seolah tak ingin menerangkan lebih banyak lagi.


"Ayah, aku, aku a-kan mengo-batimu?" tuturnya menunduk.


Herms mengangguk membiarkan tangan kecil puterinya memilah-milah dedaunan untuk digunakan pada luka tusuk Herms. Sebuah luka kecil pemberian Susan Smith.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2