
Awan mendung yang kecil melewati gumpalan awan besar di ufuk barat. Menyatu dengan sore yang semakin gelap.
Sebuah pulau melayang dengan lima pulau kecil di sekelilingnya, menambah keindahan saat cahaya matahari memeluk penuh kehangatan di pagi hari. Tapi, saat sore hari, warna merah muda bercampur oranye kemerahan menghiasi atap pulau.
***
Dari balik jendela lantai empat, seorang wanita berambut silver menatap kotak pemicu memori, kotak Rallivana. Ruangannya mendadak gerah, api di tungku pembakaran menyala dengan sendirinya.
Ditelannya liur yang terpaksa mengintip karena terkejut mendapati pesan dari sang sahabat. Keriput di ujung matanya mengkerut seiring mata yang dilengkungkan sejenak.
Dibukanya mata lelah itu, sebuah penggambaran gadis muda muncul, ia berpakaian baju sekolah dari akademi Brockleheart di masa lampau. Membuatnya teringat sosok yang dikabarkan telah hilang.
"Padma, dia sangat mirip denganmu," lanjutnya berdiri menuju pemutar musik klasik.
Terngiang akan pesan Laura. Diambilnya topi cloche berwarna cokelat dan didaratkan mesra ke atas kepala. Melepaskan kotak pemicu memori di sebuah lemari kaca dan berjalan menuju balkon.
Lapangan gelap membentang, langit di tempat ini terasa sangat dekat. Bahkan bintang-bintang berlomba agar bisa dipetik. Beberapa teriakan tawa bahkan mampu terdengar menuju ke tempat ia berdiri.
Sore yang semakin gelap, menghadirkan bintang-bintang muda yang perlahan semakin mengkilap.
"Dasar tidak tahu aturan," gumamnya perlahan berbalik menuju pintu keluar. Tentu saja, ini sudah malam dan para murid masih berkeliaran di luar asrama.
Wanita setengah baya itu meninggalkan ruangannya dan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Professor!" cegat seseorang, saat melihat wanita yang tak lagi muda itu.
"Mereka masih berlatih di sana nona Mavis?" tanyanya membuat gadis seusia Marry itu mengganguk. "Minta mereka berkumpul di aula akademi." Wajahnya mendadak kesal.
"Tapi, aku tidak bisa masuk ke sana, ini hari para pengendali air dan angin. Secret Island tidak bisa dibuka kecuali oleh Professor Dimitri."
"Kubilang, sekarang!" serunya menunjuk lantai.
"Aku tidak bisa." Gadis itu bersungut kesal. "Apa kau ingin Professor Dimitri menghukumku?" lanjutnya menunduk.
"Baiklah, ada berapa murid yang masih mengikuti kelasnya?"
"Setahuku ada delapan murid dari kelas pengendali air dan enan murid dari kelas pengendali angin," jawabnya mengira.
"Aku mengerti, segera masuk ke kamarmu, nona Mavis dan jangan berkeliaran." Wanita itu pun meninggalkan gadis muda tersebut dan bergegas menuruni tangga menuju lantai dasar.
__ADS_1
Sepersekian detik amarahnya membuncah dan tertahan saat mengingat pesan baik yang dikirimkan Laura. Perlahan ia pun kembali mengatur napas.
Dia berjalan menuju jembatan batu melayang, menuju pulau gelap yang masih terdengar ramai. Perlahan kakinya melangkah, setiap dipijak, batu itu seolah tertahan oleh sesuatu dari bawah. Begitu seterusnya.
Dia tiba di gerbang pulau. Pada sebuah meja di sebelah jurang, seorang berambut hitam dengan beberapa helai rambut berwarna biru muda menatapnya kosong.
"Professor Dimitri? Ini sudah larut malam, bisa kau hentikan kelasmu?"
"Professor Davis, apa kau datang untuk menghentikan kelasku? Kenapa?"
"Benar, hentikan Flore! Tidak perlu bertanya lagi!"
"Baiklah, aku mengerti," ucapnya menjentikkan jari. Beberapa burung cyornis terbangun dan melayang menuju hutan. Tak berselang lama, murid-murid berhambur keluar.
"Apa saja yang kalian lakukan di sana? Cepat kembali ke asrama masing-masing," perintahnya tegas. Semua yang hadir berjalan menuju jembatan dan meninggalkan Professor Davis dan Professor Dimitri bersama-sama.
Professor Dimitri, seorang guru pengendali di Brockleheart. Dia telah bekerja selama 7 tahun di tempat ajaib ini. Walau memiliki kekurangan, dia adalah yang terbaik dari yang terbaik. Itulah sebabnya Professor Davis tetap mencoba sabar dengan ulah perempuan bersuara merdu ini.
Wajah bagian bawahnya ditutupi selendang hitam, ada bekas luka dan kebencian di sana. Ujung hidung hingga pipi bagian bawah tergores oleh luka masa lalu. Cacat fisiknya bahkan tidak menjadi penghalang untuk mencari kesuksesan.
"Aku punya sebuah kabar untukmu," lanjut Professor Davis menuju meja Professor Dimitri.
"Ini tentang Dahlia." Jawaban singkat itu membuat wanita berhidung kecil itu tersentak seketika.
"Dahlia? Apa maksudmu?"
"Aku rasa kabar itu benar. Herms memang menutupi keaadaan puterinya, itu sebabnya dia pindah ke Okrey dan meninggalkan Stanome. Puterinya masih hidup dan dia harus kita lindungi."
"Itu kabar bagus, kita harus segera menyiapkan kedatangan Dahlia. Dari mana kau mendengar kabar ini?"
"Kau benar. Aku akan menemui Laura di perbatasan Stanome saat dia tiba dari Arsk. Aku akan segera membalas pesannya."
"Kau mendapatkannya dari Laura Quirkell? Itu sumber yang terpercaya. Aku penasaran, seperti apa anak itu sekarang?"
"Aku juga. Oh ya, kau harus mengendalikan para murid jika kabar ini menyebar. Mulai besok, sejarah Dahlia akan dibuka kembali di kelas Professor Thomas Coven. Aku akan mengatur jadwalnya di aula BS," ucapnya meninggalkan Proffesor Dimitri dengan terburu-buru. "Oh ya, jangan terlambat kembali ke asramamu! Dan angkat meja itu."
Mendengar itu, senyum Professor Dimitri tertahan. Diikuti dengan Professor Davis yang memintanya agar segera kembali ke asrama.
***
__ADS_1
Professor Dimitri menuju ke sebuah pulau lainnya. Terletak dua pulau di sebelah Secret island. Pulau bernama Dream island, asrama Lavendrake. Asrama para pemilik perhiasan berwarna biru.
Sedangkan professor Davis, ia kembali ke pulau terbesar, Brockleheart sky. Sebuah tempat di mana bangunan besar berdiri kokoh di atas langit. Pusat berdirinya pulau dan pusat aktivitas utama akademi.
***
Pagi ini, roti di kantin Sarazhal tampak dingin. Semua murid sibuk bisik-bisik akan suatu hal. Brockleheart mendadak heboh dengan kabar yang didengar dari mulut ke mulut.
Kabar bahwa Dahlia benar-benar ada, telah membuat mereka di luar kendali.
Kelas sejarah Dahlia yang baru dibuka pun tampak ramai dipenuhi hampir seluruh murid.
Professor Coven, lelaki muda berjanggut tipis dengan celana tissue yang cukup aneh, tampak percaya diri menjelaskan apa dan siapa itu Dahlia. Membuat mereka semua Semakin penasaran sejak rumor itu beredar.
Kelas berakhir dengan ringan, tak semua fakta dan sejarah bisa dibagikan selain sejarah Julia Glories yang pernah menjadi pengajar di Brockleheart dan meninggal di tangan Black shadow.
Banyak yang memilih Black shadow sebagai tokoh favorit ketimbang si Dahlia yang menurut mereka sangat tidak mungkin bisa mengendalikan semua elemen di dunia ini. Dan menganggap sejarah Dahlia hanya dongeng belaka. Meskipun lukisan Julia Glories terduduk manis di sepanjang koridor menuju ruang kepala sekolah Professor Lavender Davis.
Bagi mereka, dia mungkin hanya seorang pelatih dan pengajar biasa, tidak lebih.
Beberapa murid justru percaya akan kisah Black shadow yang membuat perang antar asrama pada tahun 1945. Di saat Negara-negara lain terpecah akibat perang dunia kedua. Black shadow malah memporak-porandakan negeri Obeliqia ini. Menganggap Herms Quirkell dan Oliver Goldstein sebagai pejuang Negara.
***
Professor Lavender Davis menemukan informasi bahwa rumor yang terjadi disebarkan oleh Professor Flore Dimitri. Sementara, dia bertugas untuk menenangkan murid jika rumor beredar. Namun, faktanya, dialah yang menyebarkan rumor itu terlebih dulu.
Para pengajar pun meminta pertanggung jawaban wanita yang selalu tampil dengan penutup wajah dan menutupi sebagian bibir juga hidungnya, karena bekas luka Flore Dimitri sangat lah menjijikkan, sehingga dapat membuat makanan yang kau telan bisa hidup dan ingin segera dimuntahkan dari lambung serta usus.
Flore Dimitri melakukan sidang kecil di ruang Lavender Davis. Keduanya memutuskan tak memperpanjang masalah karena ucapan wanita ini ada benarnya juga.
Sudah waktunya orang-orang di Brockleheat mengetahui kabar lahirnya Dahlia. Membuka kelas Dahlia secara tiba-tiba, justru akan membuat para murid kebingungan.
Beruntunglah Laura mengirimkan pesan kepada Lavender Davis selaku kepala sekolah dan penjaga hutan permintaan. Dengan rumor Dahlia ini, semua bisa dijadikan alasan. Karena bukan hanya Black shadow yang harus disingkirkan, namun beberapa penjahat dan pengkhianat yang telah lama bersarang di Obeliqia, mereka pun harus dilenyapkan. Dan hanya Dahlia yang bisa melakukannya, sesuai lamaran Yovanka.
Dahlia pun sepertinya akan tetap menjadi sebuah topik hangat selama beberapa minggu ke depan. Menjadi hal baru di tempat ini, membuat beberapa anak kutu buku memilih menghabiskan waktu di perpustakaan mencari referensi terkait dengan para sosok yang disebut Dahlia.
***
Bersambung
__ADS_1