
Setahun telah berlalu.
Pohon kecil yang Herms tanam pada musim panas tahun lalu. Tepat saat Marry lahir, sudah berbatang kuat. Sekilas banyak kupu-kupu yang sering mendatangi pohon yang masih kecil itu. Quercus pyrenaica atau Pyrenean oak, Pohon Ek yang Herms dapatkan dari barat daya Eropa. Pohon kecil ini, batangnya tidak beraturan, pohon yang diberikan Julia Glories sebagai pertanda bangsa Flore.
***
Dari balkon rumah, Padma memperhatikan pohon Ek kecil. Sesekali rasa bersalah itu masih sering muncul. Pohon Maple yang berjejer di taman bunga seolah melindungi si pohon Ek muda. Padma tahu, semua sudah terjadi dan ia harus melakukan apa yang seharusnya.
***
Susan dan Padma semakin dekat. Mereka banyak bernostalgia tentang sembilan tahun yang lalu, masa-masa saat keduanya masih menjadi siswi di Brockleheart Sky. Tahun 1938, merupakan tahun yang cukup mengerikan bagi mereka.
"Teringat masa lalu Padma ...," ucap Susan menuangkan teh putih ke cangkir vintage di hadapan Padma.
"Ya ... semuanya sangat menyenangkan, saat itu kita belum bersiteru," jawabnya menyentuh telinga cangkir sambil tersenyum pada Susan.
"Tapi, sekarang kita sudah berbaikan! Benar 'kan?" lanjut Susan meminum tehnya.
"Tentu saja. Ah, jika saja Oliver masih hidup, akankah kau masih bersikap baik seperti ini pada kami?" tanya Padma menyentuh tangan Susan.
"Padma, Oliver sudah melakukan kejahatan. Dia pantas mendapatkannya, jika dia tidak dikalahkan olehmu dan Herms, aku tidak tahu kejahatan apa yang akan terjadi di kota ini," ungkapnya terdengar kuat.
"Sue, kau sahabatku 'kan? Dan tetap akan jadi seperti itu ...."
"Terima kasih, oh ya masuklah ke dalam! Tubuhmu belum terlalu kuat, apalagi kau baru saja menjaga Marry. Biar aku yang menjaganya, Jennifer akan membantumu!"
"Baiklah! Oh ya?"
"Ada apa?"
"Ulang tahun Jennifer yang ke-6, apa kau mengijinkan jika aku akan merayakannya? Sama seperti ulang tahun Marry 2 bulan yang lalu."
"Jika kau mau melakukan itu semua, bagaimana bisa aku menolak permintaan temanku?" ucap Susan mengantar Padma ke dalam rumah. Menghabiskan waktu minum teh di taman kurang bagus bagi kesehatan Padma.
Inilah saatnya, rencana Susan Smith akan segera dimulai.
***
"Ha ha ... hahaha ... kami ingin melihatnya. Apa benar dia sang Dahlia? Hahahah .... Wanginya indah. Ramalannya tepat. Nenek penyihir sedang meramu!" Suara berirama para peri menggema.
Siang begitu menggigil, awal musim gugur begitu membosankan baginya. Nyanyian peri di selatan rumah sangat mengganggu Susan. Rasanya ingin mengusir mereka.
Tangannya berlumur cokelat manis, sibuk memeriksa botol-botol kecil. Aroma ramuan yang tekukus di dalam panci kecil sangat mengganggu Jennifer.
Deg.
Nyanyian Peri terhenti. ketika Jennifer membuka pintu kamar ibunya, lalu mengendap-ngendap masuk ke dalam.
Panci berwarna perak ada di sudut kamar, asap ringan mengelilingi bagian atas. Jennifer menutup hidungnya dan menghampiri Susan yang sedang berdiri di depan meja besar.
__ADS_1
"Ibu?" Suaranya gemetar, Susan hanya menoleh dan melanjutkan mantra yang sedang diucapkannya.
Pelan-pelan Susan memasukkan ramuan berwarna ungu tua ke dalam adonan cokelat. Mengocok dan mengaduk adonan itu hingga mengeluarkan buih-buih kecil yang tidak berbau tajam lagi, baunya sudah menyatu dengan wangi khas dari cokelat.
Adonan cokelat dimasukkannya ke dalam loyang besar berisi lubang-lubang berbagai bentuk.
Jennifer terus memerhatikan tingkah ibunya itu. Bosan, Jennifer mulai mengantuk dan tertidur di sofa kecil sudut jendela.
***
Satu jam telah berlalu, keluarga Herms Quirkell sudah kembali dari jalan-jalan. Mendengar tawa Padma, Susan tahu betul inilah saat yang tepat.
"Ibu!" seru Jennifer terbangun.
"Sayangku ...." Susan memeluk dan memangku gadis cilik berusia 6 tahun itu.
"Apa itu?" ujarnya mengucek mata dan menyentuh kotak emas yang dipegang Susan. Sesaat, Susan berpikir sejenak. Kenapa tidak? Ini kesempatan bagus.
"Jennifer, apa kau mau cokelat?" tawarnya tersenyum.
"Iya!"
"Kau sudah besar kan? Ibu tidak akan mengingatkanmu tentang menggosok gigimu? Ini untukmu," lanjutnya memberikan cokelat kepada Jennifer.
"Terima kasih ibu." Jennifer memakan cokelat itu, wajahnya tampak senang. "Ibu, apa bibi Padma sudah datang?" kunyahnya serius, penuh kepolosan.
"Hm!" Ia berseru keras dan berlari membawa kotak emas berisi cokelat racikan Susan.
***
Di taman, pasangan itu terlihat bahagia. Kini, Padma memang semakin membaik.
Jennifer datang bergabung dalam acara keluarga itu dan Herms memutuskan masuk ke dalam untuk memanggil Susan, agar bergabung bersama mereka di taman.
"Bibi, tadi ibu membuatkan ini untukku dan cokelat yang banyak ini untuk bibi," ucapnya memberikan si manis itu kepada Padma.
"Astaga, Sue membuatnya untukku? Ibumu sangat baik, biar aku lihat!" ambilnya dengan senang hati. "Waah ... sepertinya ini enak sekali!"
Marry terlihat tertarik dengan cokelat itu, tangan kecilnya terus menyentuh pinggiran kotak. Dengan lembut, Padma menyuapi putrinya. Marrietta pun memakan cokelat itu pelan-pelan, sangat pelan. Hingga kunyahannya meleleh kepinggiran bibir, Jennifer tertawa melihatnya.
"Lucu," pikirnya.
Gigitan pertama pun sudah mendarat di bibir Padma. Setelah gigitan pertama, tampak sesuatu terbang menghentikannya.
"Berhenti!" Bayangan hitam yang menabrak tangan Padma dan membuat cokelat di tangannya jatuh ke tanah.
"Elena? Itu kau?"
"Nona!"
__ADS_1
"Elena!"
Sosok bayangan itu perlahan bercahaya. Tubuh kecil berwarna kemerahan memudar membentuk sosok lain, sosok peri yang selama setahun selalu hadir dalam mimpinya.
Elena telah menjadi peri Laura Quirkell, jadi Padma sangat merindukannya. Saat menjadi peri ibunya, Elena selalu menemani Padma atas perintah sang Dahlia.
"Nona, jangan memakannya! Kumohon!"
"Apa maksudmu?"
"Cokelat itu beracun!"
"Apa? Tidak mungkin."
"Marry, muntahkan!" Peri itu menggoyang-goyangkan kepala Marry. Tapi terlambat, Marry bergeming, dan sudah terdiam lemas.
"Oh, tidak, Marry!" teriak Padma menjadi kebingungan.
***
Langkah Herms terhenti tepat di depan kamar Susan, telinganya mendengar teriakan Padma. Susan pun keluar dari kamarnya.
"Ada apa?" tanya Susan ketika menjumpai Herms di depan kamarnya.
"Aku tidak tahu! Padma--"
Dia berlari meninggalkan Susan. Susan mengekor dan mengikuti Herms di belakangnya. Senang rasanya akan menyaksikan teater keluarga.
"Herms, tunggu aku!" serunya berlari kecil.
Padma duduk di tanah dengan Marry yang tampak membiru dalam pangkuannya. Herms terkejut melihat Marry, belum saja 6 menit yang lalu dia meninggalkan Marry, tapi Marry sudah terluka.
Sekilas, Herms melihat sosok Elena yang terbang di sekitar Marry.
"Apa itu?" seru Susan tiba-tiba menghampiri Jennifer dan mengamankannya.
"Elena? Beraninya kau melukai putriku!" tuduh Herms.
"Tidak Herms, ini bukan ulah Elena. Cokelatnya beracun!"
"Apa yang kau maksud? Kau bilang cokelatku beracun?" sergah Susan.
"Herms, Marry tidak bernapas!" teriak Padma pada Herms.
"Singkirkan peri kotor itu, Herms. Dia bisa melukai puteriku!" perintah Susan. Kesempatan besar. Peri yang datang tepat waktu untuk menjadi kambing hitam. Sepertinya, rencana Susan akan berjalan mulus.
***
Bersambung
__ADS_1