Journey To The Brockleheart Sky

Journey To The Brockleheart Sky
Chapter 5: The Punishment


__ADS_3

Angin yang berembus kencang tak menurunku semangat Marry untuk mengelilingi halaman rumahnya. Diperhatikannya lamat-lamat tiap sudut tanaman di sekitarnya.


"Star," batinnya berteriak memanggil kelinci kesayangan.


Marry yang baru pulang sekolah, kebingungan dengan keadaan rumah yang sepi. Biasanya Star dan Moon akan menunggunya di pagar depan. Dia hanya bisa mengelilingi rumah, memerhatikan apa saja yang bisa dilihatnya.


Secara tidak sengaja, Marry melihat sesuatu di taman bagian samping. Seorang perempuan yang dikenalnya tampak sedang mengunyah sesuatu yang berdarah.


"Astaga, itu Moon?" pikirnya saat melihat kelinci berwarna cokelat-putih itu ada di pangkuan ibunya.


Perlahan, Marry menghampiri Susan Smith. Menyentuh dan mengeluarkan suara kecil yang bersusah payah dia keluarkan.


"Ee!"


"Marry?" seru Susan kaget dan segera membereskan darah di wajah dan tangannya. "Apa yang kau lakukan?" geramnya melihat Marry yang terdiam menatap Moon.


"Kenapa ibu memakan Moon? Di mana Star?" batinnya bingung, Marry menatap ibunya dengan penuh kesedihan.


"Ikut aku!" Susan tampak sangat marah, dia menyeret Marry ke dalam rumah. Susan tak bisa menahan dirinya, gigi taring yang mengintip dari mulutnya dibiarkannya begitu saja.


"Marry kau benar-benar anak nakal! Bukankah sudah kubilang, saat kau pulang kau harus segera ke kamarmu!" Mata Marry tampak membantah, kepalanya menggeleng pasti. Marry mulai merasa takut.


"Jangan tanya padaku kenapa aku memakannya, kelinci itu tampak segar. Apa kau tahu berapa lama ibu menahan haus? Hah?" Marry mulai menangis. Susan menyeretnya jauh ke ruang bawah tanah. Marry mulai mengerang, suaranya kabur dan terdengar menyedihkan.


Herms terbangun dari tidur siangnya, mendengar keributan itu Herms bergegas mencari arah suara.


Taaak!


Susan berdiri di depan pintu ruang bawah tanah, usai menutup pintu dia terkejut dengan Herms yang sudah berdiri di hadapannya.


"Apa yang terjadi Sue?"


"Aku sedang menghukum Marry!" tegasnya.


"Apa lagi yang sudah dia lakukan?"


"Marry." Susan memutar otaknya. "Anak itu, dia memukulku!" lanjutnya setelah mendapat alasan yang bagus.


"Tidak mungkin!" tolak Herms hendak menuju ke ruang bawah tanah.


"Baiklah sayang, aku tidak akan menjelaskan apapun padamu!" sergahnya.


"Katakan padaku apa yang terjadi?"


"Aku menemukan Moon terluka di taman dan Marry berpikir aku yang melukai kelinci itu. Lalu dia marah dan memukuliku!" ungkapnya menatap lurus tepat di mata Herms.


"Darah itu?" Herms terdiam, matanya berkedip sekali. Entah apa yang dilakukan Susan, Herms terdiam. Mulutnya terasa kaku.


"Sayang," panggilnya menyentuh Herms.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Sue? Marry semakin hari semakin mengkhawatirkan," ujarnya lemas memeluk Susan.


"Itu karena dia remaja, jiwanya ingin bebas, Herms!"


"Maafkan aku Sue! Tetapi, Jenny berbeda! Dia,tak pernah mengecewakanku."


"Kau tidak perlu meminta maaf, dan jangan terlalu memuji Jenny, Herms...."


"Apa malam hukuman bisa menghentikan Marry? Aku yakin dia tidak bersalah! Sudah kukatakan jangan mengacau jika tak ingin ada malam hukuman." Herms menyarankan.


"Jika memang itu menurutmu, kita akan melakukan malam hukuman. Itu lebih baik." Sue tersenyum puas, keinginannya dimengerti Herms. Herms benar-benar suami yang baik.


***


Gadis berambut pirang itu datang menemui Susan dengan amarah yang membuncah, ada garis tegas kekesalan yang muncul dalam semburat wajahnya.


"Ibu!" teriaknya kesal.


"Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak?"


"Apa yang terjadi? Aku mencari Marry di mana-mana dan kenapa dia berada di ruang bawah tanah?" lanjutnya.


"Dia akan menjalani malam hukuman!" jawabnya santai dan melakukan aktivitas sebelumnya.


"Apa? Bagaimana bisa? Apa yang sudah dia perbuat?"


"Apa maksudmu, Bu ...?"


"Marry sudah tahu! Dia melihatku meminum darah kelinci itu."


"Kau meminum darah? Kau selalu memperingatkanku untuk tidak pernah menyentuh darah selain darah Marry, tapi apa ini?" marahnya.


"Ibu tidak bisa menahan, bulan purnama ke sepuluh masih dua minggu lagi. Sedangkan Marry, dia belum terluka sama sekali, jadi ibu tidak bisa mengambil darahnya!" jawabnya menggebu-gebu.


"Ibu, jika orang-orang di Okrey tahu kita vampire. Habislah kita!"


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak!"


"Aku akan menemuinya!" lanjutnya pergi.


"Untuk apa?" tahan Susan.


"Untuk menenangkannya! Dia pasti sesang ketakutan," jawabnya pergi begitu saja.


"Oh, ayolah. Ini bukan pertama kalinya dia dikurung di sana!"


"Maksudku, karena takut melihat kau meminumn darah." Jennifer menunjuk Susan lalu pergi.


"Ingat Jennifer! Kau harus mempersiapkannya untuk malam hukuman!" teriaknya. "Anak itu, dia mulai mirip sekali dengan Herms. Ouh! Menyebalkan," gerutu Susan kesal akan sikap puterinya.

__ADS_1


***


Marry masih duduk di ruang bawah tanah, tempat ini tampak rapih. Marry hanya bisa duduk menunggu di depan pintu tua yang berlumut. Dalam pikirannya hanyalah, darah dan gigi taring yang dilihatnya. Semua kini tampak menyeramkan.


"Apa yang akan terjadi padaku? Bahkan ayah belum mendatangiku, aku lapar!" batinnya mengeluh.


Beberapa Tikus mulai keluar dari balik benda-benda dalam lorong bawah tanah ini.


Marry masih berada dalam sebuah ruang berpintu kecil, terkunci rapat. Dalam ruangan itu terdapat pintu lainnya. Tikus-tikus pun mulai mendatangi Marry. Menghindar, Marry mencoba membuka sisi lain ruangan tersebut.


Kreeek ....


Pintu itu rapuh dan terbuka begitu saja, saat Marry mencoba masuk dia dikagetkan oleh Agni yang menyamar menjadi tikus. Marry berlari memeluk kucing kesayangannya itu dan masuk ke dalam ruangan bersamanya.


"Aku sudah sering dihukum di tempat ini, tapi sejak kapan ada pintu di sini?" pikirnya penasaran.


Ruangan itu berwarna hijau pekat, banyak lumut dan sarang laba-laba di mana-mana. Ada tumpukan buku dan peti yang tertata rapih di dalamnya, Marry menutup pintu dan melihat-lihat isinya.


Perhatian Marry tertambat pada sebuah kotak besar berukirkan 'Brockleheart Sky' dengan pinggiran berwarna emas pekat. Marry membukanya dan menemukan beberapa benda. Dua buah kotak berwarna coklat tua berukuran sedang, beberapa pasang baju yang cantik dan sebuah kotak kecil berwarna biru tua.


"Marry?" Suara itu menghentikannya.


Marry memasukkan benda-benda yang ditemukannya ke dalam kotak berwarna hitam dan mengangkat dalam pelukannya. Walau tampak berat, tapi Marry terlihat baik-baik saja. Marry pun membawa kotak itu keluar dari ruang misterius dan pergi menuju lorong.


"Marrietta!" lanjut suara itu semakin mendekat.


"Hh?" ujarnya pelan.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tidak takut?" ucapnya resah dan hendak memeluk Marry. "Apa itu?" selanya terhenti saat melihat kotak besar di tangan Marry.


Marry menggelang tak mengerti. Jennifer mengabaikan hal itu dan segera membawa Marry ke kamar tidurnya.


***


Hari semakin larut, di sisi lain Herms semakin takut. Bagaimana jika malam hukuman akan berakhir mengerikan. Ini pertama kalinya mereka melakukan malam hukuman, Herms takut ada kesalahan yang akan membuat putrinya berada dalam bahaya. Tapi, sesuatu mengganggu pikirannya, membuatnya lupa akan hal-hal yang ditakutkannya.


"Apa kau mau membatalkannya Herms?" tawar Susan membawakan minuman hangat ke meja makan tempat Herms duduk.


"Tidak Sue ... ini hukuman untuk Marry agar dia lebih disiplin. Sesuai perjanjian, jika sekali lagi dia melakukan kesalahan maka inilah akibatnya!"


"Aku tahu kau ayah yang baik! Tapi, Marry sudah keluar dari ruang bawah tanah."


"Siapa yang mengeluarkannya?"


"Jenny!" ujar Susan menahan kesal.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2